sukabumiheadline.com – Selain dikenal dengan destinasi wisata alam dan sejumlah artis seperti Desy Ratnasari, Syahrini, Ananda Omesh, Faank Wali Band, Happy Salma, dan sejumlah nama lainnya, Sukabumi, Jawa Barat, juga memiliki banyak tokoh dan public figure yang mampu menorehkan prestasi di berbagai bidang, di level nasional hingga internasional.
Di dunia militer dan kepolisian sejumlah nama juga mengharumkan nama daerah karena mampu mencapai level pangkat perwira tinggi. Seperti yang tercatat masih aktif, adalah Brigjen Pol Ade Ary Syam Indradi dan Brigjen Saepul Mukti Ginanjar.
Di dunia olah raga, ada nama pebulutangkis Pramudya Kusumawardana dan Berry Angriawan, serta Aulia Suci Nurfadila dan Irpan di cabang olah raga bola voli.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun tak kalah membanggakan, adalah mereka yang namanya dikenal di dunia seni rupa, terutama seni lukis. Mereka tidak saja mengharumkan nama daerah, namun juga memberikan sumbangsih nyata dalam bentuk kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Karya-karya pelukis asal Sukabumi tidak saja dinikmati berbagai kalangan penikmat seni lukis Tanah Air, tapi juga hingga mancanegara. Siapa sajakah mereka?
Berikut adalah 5 pelukis asal Sukabumi yang dikenal melalui karya dan aktivitas seninya, dirangkum sukabumiheadline.com dari berbagai sumber, Kamis (1/10/2026).
1. Edwin Do (Edwindo)

Pelukis asal Kota Sukabumi yang dikenal lewat aksi sosialnya, salah satunya melelang lukisan berjudul “Bangkit dari Arus” untuk membantu korban bencana banjir di Aceh dan Sumatera. Selain aktif di dunia seni rupa, ia juga kerap menggelar pameran inklusif yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Pada akhir 2025, Edwin Do menuai perhatian publik setelah melelang karya lukisannya yang berjudul “Bangkit dari Arus” secara daring. Seluruh dana hasil lelang disalurkan sepenuhnya untuk membantu para korban bencana banjir yang melanda wilayah Aceh dan Sumatera.
Lukisan ini diselesaikan dalam waktu 3 hari saja sebagai respons langsung terhadap bencana tersebut. Edwin memilih untuk melukis di luar ruangan, langsung di bawah terik panas yang menembus atap asbes, untuk merasakan situasi sulit secara fisik. Pengalaman tersebut ia tuangkan ke dalam simbol “dua matahari” pada kanvasnya.
Lukisan tersebut menyertakan visual tangan yang menjulur ke arah langit, merepresentasikan harapan manusia di tengah bencana. Lelang dibuka dari harga awal Rp500.000, karya ini berhasil terjual dengan nilai Rp5.000.000.
2. R. Irawan Surianatanegara

Pelukis otodidak konsisten yang hampir seumur hidupnya tinggal dan berkarya di Sukabumi, serta sempat menggelar pameran retrospektif untuk karya-karya observasionalnya.
Berbeda dengan profesi ayahnya RM Said Surianatanegara, yang pada saat itu aktif di kepolisian RI, pada era Presiden Sukarno dan Suharto, Irawan memilih profesi sebagai pelukis potret dan
naturalis.

Meskipun demikian, saat menginjak usia 17 tahun, walaupun ia sempat juga menjadi atlet cabang menembak mengikuti jejak sang ayah. Namun, dalam perjalanannya, ia lebih menekuni dunia melukis.
Irawan Suriatanegara berdiri dalam jalur terakhir itu sebagai pelukis yang konsisten merawat disiplin, menjaga keseimbangan, dan mengolah kesunyian menjadi bahasa visual. Dalam ketekunannya, kita menemukan bukan hanya karya, tetapi juga suatu sikap. Baca selengkapnya: Mengenang 82 tahun R. Irawan Surianatanegara, Si Konsisten dari Sukabumi
3. Nay Sunarna

Nay Sunarna adalah seorang seniman lukis terkemuka dan pelukis jelaga asal Sukabumi, Jawa Barat. Ia dikenal luas oleh publik atas keunikan teknik melukisnya yang menggunakan media jelaga, sebuah metode artistik langka yang mengantarkannya menjadi salah satu figur seniman viral di Indonesia.
Nay Sunarna tercatat sebagai bagian dari Komunitas Pelukis Perintis Kota & Kabupaten Sukabumi. Kiprah seni rupanya tidak hanya dikenal di level lokal, tetapi ia juga aktif bolak-balik mengikuti berbagai ajang dan festival seni di mancanegara.
Ia merupakan salah satu tokoh seni yang gigih menyuarakan agar pemerintah daerah melibatkan pelaku seni dalam dunia pendidikan. Nay berharap anak-anak sekolah, khususnya di tingkat SD dan SMP, bisa mendapatkan edukasi seni melukis dengan memanfaatkan berbagai macam media.
4. Igo Rizqullah Iskandar

Perupa muda asal Kota Sukabumi yang karya lukis kontemporernya memikat perhatian seniman lokal maupun nasional.
Beberapa waktu lalu, Igo menggelar pameran tunggal bertajuk Road to IGO di Galeri Institut français d’Indonésie (IFI)-LIP, Jalan Sagan No.3, Yogyakarta, pada 16 Februari hingga Ahad (15/3/2026) besok.
Pemilik nama lengkap Igo Rizqullah Iskandar ini berhasil menyulap hobi menggambar menjadi pameran tunggal bertajuk Road To Igo.

Dari dialog ringan, tumbuh kepercayaan yang akhirnya ruang IFI menjadi panggung eksplorasi artistik bagi pelukis muda itu. Melalui Road To Igo, pengunjung diajak menyusuri garis-garis berliku khas Igo yang penuh karakter pop dan simbol abstrak.
“Lukisan yang menggambarkan tentara melawan kaum primitif ini banyak menunjukkan realitas yang dihadapi sampai sekarang,” tutur Igo dalam keterangan resmi dikutip sukabumiheadline.com, Sabtu (1/10/2026).
Baca selengkapnya: Seniman Sukabumi gelar pameran tunggal “Road to IGO” di Yogyakarta
5. Neng Susilawati

Neng Susilawati adalah seorang pengusaha kue dan roti asal Kota Sukabumi, Jawa Barat, yang sukses mengembangkan bakat dan hobinya dalam seni lukis media kanvas. Ia dikenal karena keahliannya meracik warna menggunakan cat air untuk menangkap keindahan alam di wilayah Sukabumi, seperti gunung, laut, curug (air terjun), hingga pemandangan jalanan.
Meskipun aktivitas utamanya tetap berfokus pada bisnis bakery dan kue basah, kegemarannya melukis ini telah membawanya meraih kesuksesan di dunia seni rupa. Beberapa pencapaian dan catatan menarik mengenai sosoknya meliputi:
Hasil goresan kuasnya berhasil membawa Neng Susilawati menjadi salah satu finalis ajang bergengsi UOB Indonesia 2022.
Selain itu, ratusan karya lukisannya telah dipamerkan di berbagai pameran seni, baik di lingkup lokal Sukabumi maupun kota-kota besar lain seperti Jakarta dan Surabaya.
Walau tidak menjadikan aktivitas seni ini sebagai komoditas jual-beli utama, karya-karyanya sangat diminati oleh para kolektor lukisan bernuansa alam. Harga per satu karya lukisannya ditaksir menembus angka Rp10 juta hingga Rp15 juta.









