sukabumiheadline.com – Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei terbaru elektabilitas nama-nama sosok yang berpeluang maju dalam Pemilihan Presiden 2029.
Dalam hasil survei terbarunya, SMRC memotret elektabilitas Presiden Prabowo Subianto menurun drastis dalam setahun terakhir hingga di bawah 10%.
Survei ini dilakukan terhadap warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Populasi dibagi menjadi dua kelompok (subpopulasi).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada subpopulasi pemilik ponsel, sampel sebanyak 1013 orang dipilih secara acak dengan metode double sampling dan responden diwawancara lewat telepon.
Sementara pada subpopulasi yang tidak punya ponsel, sampel sebanyak 200 orang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling dan responden diwawancara secara tatap muka.
Total sampel yang diwawancara sebanyak 1213 responden. Margin of error survei diperkirakan +/- 2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling.
Pada simulasi semi terbuka survei SMRC, tingkat keterpilihan Prabowo pada Oktober 2026, anjlok hingga menyisakan 9,8 persen saja. Hasil tersebut menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo turun drastis hingga lebih dari dua digit.
“Menurun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi hanya 9,8 persen pada Oktober 2026,” kata Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani dalam rilis resmi, dikutip sukabumiheadline.com, Sabtu, (17/10/2026).
Temuan itu berdasarkan survei yang dilakukan SMRC bertajuk “Elektabilitas Presiden Prabowo”. Survei itu dilakukan pada 1-10 Oktober 2026. Sebanyak 1.213 responden yang mengikuti survei itu.
KDM tertinggi
Sementara itu, dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama, Dedi Mulyadi menempati dukungan paling tinggi, 35,5 persen. Disusul Anies Baswedan 10,3 persen, Prabowo Subianto 9,8 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen.
Nama-nama lain mendapat dukungan di bawah 6 persen, dan yang belum menentukan pilihan sebanyak 13,9 persen.
Deni menjelaskan, posisi Prabowo dan Dedi Mulyadi berbalik dalam setahun terakhir. Pada November 2025, Prabowo masih unggul dengan 34,9 persen, sementara Dedi Mulyadi 19,7 persen.
Pada Februari-Maret 2026, Prabowo masih di 33,3 persen. Angka itu turun menjadi 14,5 persen pada Juli 2026 dan 9,8 persen pada Oktober 2026.
Sebaliknya, pada periode yang sama elektabilitas Dedi Mulyadi naik menjadi 35,5 persen. Pola yang sama terlihat dalam simulasi dua nama.
Jika yang maju hanya Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto, Dedi mendapat 69,3 persen, jauh di atas Prabowo yang hanya mendapat 18,8 persen. Yang belum tahu 12 persen.
Dijelaskan Deni, elektabilitas Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi dalam simulasi dua nama berbalik secara tajam dalam tujuh bulan terakhir.
Pada survei Februari-Maret 2026, Prabowo masih unggul dengan dukungan 50,5 persen, sementara Dedi Mulyadi 42,6 persen.
Pada Juli 2026, keadaannya berbalik: Dedi naik menjadi 59 persen, sedangkan Prabowo turun ke 28,3 persen.
Pada survei Oktober 2026, Dedi Mulyadi mendapat 69,3 persen, sementara Prabowo hanya 18,8 persen.
“Dalam tujuh bulan, dukungan pada Prabowo dalam simulasi dua nama turun hampir 32 poin, sementara Dedi Mulyadi naik hampir 27 poin,” kata Deni.
Di sisi lain, SMRC juga menguji tiga nama tanpa Dedi Mulyadi yaitu, Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
SMRC memasukkan Gibran karena posisinya sebagai wakil presiden dan memiliki hubungan kuat dengan PSI. Sementara itu, AHY merupakan Ketua Umum Partai Demokrat.
“Karena itu, simulasi tiga nama ini relevan untuk menguji kekuatan elektabilitas Prabowo ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing,” kata dia.
Hasilnya, Gibran mendapat 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen. Yang belum tahu 19.4 persen.
Menurut Deni, elektabilitas Prabowo tidak berubah menjadi sangat kuat ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing.
“Suara Dedi ternyata lebih banyak ditarik Gibran dan AHY dibanding Prabowo. Dukungan kepada Prabowo sebagai petahana sangat lemah. Jika pemilihan presiden diadakan sekarang,” kata dia.
Lemahnya dukungan pada Prabowo juga terlihat di kalangan pemilih partai. Partai itu termasuk yang sudah menyatakan dukungan pada pada Prabowo seperti Gerindra, Golkar, PAN, dan PKB.
Hanya 20 persen pemilih Gerindra yang memilih Prabowo dalam simulasi semi terbuka, sementara 74 persen memilih calon lain. Di kalangan pemilih partai Golkar hanya 17 persen, PAN 8 persen, dan PKB 4 persen. Sementara pada pemilih NasDem 11 persen, Demokrat 6 persen, PDIP 6 persen, dan PKS 2 persen.
Deni menilai penurunan elektabilitas Prabowo berhubungan dengan kinerjanya sebagai presiden. Penurunan ini juga berkaitan dengan kondisi makro ekonomi-politik dan penegakan hukum.
“Kondisi itu yang dinilai publik buruk, dengan kinerja pemerintah mengatasi masalah-masalah mendesak, serta dengan penilaian negatif atas program MBG dan KDMP,” kata Deni.









