sukabumiheadline.com – Di tengah budaya Korea Selatan (Korsel) yang semakin modern, puluhan ribu warga asli Korsel memilih Islam sebagai jalan spiritual (mualaf). Pilihan tersebut karena Islam dinilai menawarkan kesederhanaan, ketenangan, dan nilai kehidupan lebih bermakna.
Tercatat sekira 45 ribu warga asli yang lahir dan besar di Korsel kini telah mualaf. Menariknya, sebagian besar warga Korsel yang mualaf tersebut didominasi kalangan generasi muda Negeri Ginseng.
Mengutip The Korea Times, diperkirakan ada sekira 45.000 warga etnis Korea yang lahir dan dibesarkan di Negeri Ginseng tersebut kini memeluk agama Islam. Bahkan, Masjid Pusat Seoul di Itaewon rutin kedatangan sekitar 5 hingga 25 mualaf baru setiap bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Para calon mualaf juga dikabarkan rutin mengikuti pelatihan dasar sebelum mengikrarkan dua kalimat syahadat. Mayoritas dari mereka merupakan anak muda berusia 20 hingga 30-an tahun. Di akhir pembelajaran, peserta memiliki kesempatan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda resmi memeluk Islam.
Dalam ulasan berjudul Why Some Koreans Look Beyond Their Culture to Islam, fenomena ini memperlihatkan adanya perubahan cara sebagian masyarakat Korea memandang agama dan kehidupan sosial.
Bagi sejumlah mualaf Korea, Islam tidak hanya dipahami sebagai keyakinan baru, tetapi juga sebagai jawaban atas kegelisahan terhadap tekanan budaya, hubungan sosial, serta ekspektasi kehidupan modern.
Yusuf, salah seorang di antara warga Korea asli berusia 30-an yang memutuskan masuk Islam pada 2014, mengungkapkan, sebagian pria Korea tertarik memeluk Islam karena melihat adanya nilai kesederhanaan dalam membangun kehidupan keluarga.
“Sebagian besar pria melakukannya untuk mencari istri,” ujarnya dikutip dari laporan The Korea Times , dikutip sukabumiheadline.com, Jumat (16/10/2026).
Alasan memilih Islam

Lebih jauh, Yusuf menjelaskan, sebagian pria Korea merasa kecewa dengan budaya kencan yang kompetitif, terutama di kota besar seperti Seoul.
Di sisi lain, mereka melihat konsep pernikahan dalam Islam sebagai sesuatu yang lebih sederhana dan memiliki aturan yang jelas dibandingkan tekanan sosial dalam budaya kencan modern Korea.
Demikian pula dengan para mualaf perempuan yang juga memiliki alasan hampir serupa, yakni ketertarikan terhadap konsep kesederhanaan dan keyakinan Islam tentang keesaan Tuhan.
“Premis dasar Islam tentang satu Tuhan sangat menarik bagi saya. Selain itu, penghormatan Islam terhadap orang tua juga sesuai dengan budaya Korea yang saya kenal sejak kecil,” kata Areum, mualaf perempuan.
Areum melihat, nilai penghormatan kepada orang tua dalam Islam memiliki kemiripan dengan nilai keluarga dalam budaya Korea. Hal tersebut membuatnya lebih mudah menjelaskan keputusan memeluk Islam kepada keluarganya.
Bagi Yusuf, Areum, dan sejumlah mualaf Korea lainnya, keputusan memeluk Islam berangkat dari pencarian identitas dan makna hidup.
Mereka merasa budaya asal mereka belum sepenuhnya memberikan jawaban terhadap kebutuhan spiritual yang mereka rasakan.
Islam kemudian menjadi salah satu jalan yang mereka pilih untuk keluar dari kompleksitas kehidupan sosial Korea, terutama bagi generasi muda yang merasa menghadapi tekanan dari standar masyarakat modern.
Yusuf sendiri mengaku pertama kali tertarik mengenal Islam setelah bertemu dengan teman-teman Muslim melalui komunitas bahasa Inggris.
Baginya, mempelajari bahasa asing dan agama baru merupakan cara untuk memperluas pandangan hidup di luar batas budaya Korea yang menurutnya cenderung tertutup.
Meski sebagian masyarakat Korea masih memiliki kekhawatiran bahwa menjadi Muslim dapat menyebabkan seseorang mengalami keterasingan sosial, banyak mualaf Korea justru merasakan hal berbeda. Mereka menemukan dukungan melalui komunitas Muslim yang memberikan rasa kebersamaan.
“Semua orang dipersilakan untuk mempelajari Islam, apa pun motivasi awal mereka,” kata’ Yusuf.
Sementara bagi Areum, pengalaman berada di Masjid Pusat Seoul memberikan kesan mendalam. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai perasaan menemukan tempat yang selama ini ia cari.
“Meskipun saya telah tinggal di Korea sepanjang hidup saya, ketika pertama kali datang ke Masjid Seoul, akhirnya terasa seperti saya pulang ke rumah,” ujar Areum.









