Profil Subang Larang, nama Muslimah diajukan budayawan Cirebon ke KDM gantikan Bale Jayadewata

- Redaksi

Selasa, 29 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Subang Larang - Istimewa

Ilustrasi Subang Larang - Istimewa

sukabumiheadline.com – Sejumlah pemerhati sejarah dan budaya di Cirebon menyoroti nama Bale Jaya Dewata yang kini digunakan untuk kantor Gubernur Jawa Barat. Mereka pun telah menyiapkan alternatif nama yang akan diusulkan untuk kantor gubernur jabar, yaitu Bale Subang Larang.

Sejumlah pemerhati sejarah dan budaya di Cirebon telah melakukan musyawarah pada Ahad (27/4/2025) lalu. Mereka berkumpul di Taman Air Gua Sunyaragi untuk membahas soal penamaan kantor Gubernur Jawa Barat.

Dari hasil urun rembuk yang telah dilakukan, mereka menyiapkan satu nama yang akan diusulkan untuk kantor Gubernur Jawa Barat di Gedung Negara, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jajat Sudrajat, salah satu pemerhati budaya yang ikut hadir, mengungkapkan bahwa hasil pertemuan menyepakati nama Subang Larang sebagai usulan untuk kantor Gubernur Jawa Barat.

“Apa yang kita bicarakan terkait dengan kantor gubernur yang bernama Bale Jaya Dewata, atas berbagai aspek pertimbangan, secara historis dan nasab, ada kesepakatan untuk kita usulkan satu nama yaitu Bale Subang Larang,” ucap Jajat Sudrajat.

Lantas, siapakah sebenarnya sosok Subang Larang ini?

Cerita dalam masyarakat Subang tertuju pada legenda wanita yang berperan besar terhadap penyebaran agama Islam di wilayah Pasundan (Sunda).

“Kisah Subang Larang telah menginspirasi dan menjadi memori kolektif di masyarakat Subang,” tulis Mamay Ayu Annisa dalam tulisannya yang mengisahkan keteladanan Subang Larang dalam jurnal Riksa Bahasa, berjudul Nilai Karakter dalam Cerita Rakyat Subang Larang, publikasi pada 2015.

“Nyai Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum, yang lahir sekitar tahun 1404,” tulisnya.

Kisah Nyai Subang Larang tercatat dalam Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN), karya Pangeran Arya Cerbon yang digubahnya pada 1720.

Ketika memasuki abad ke-15, tepatnya pada tahun 1415, pasukan Laksamana Zheng He (Cheng Ho) bersama armadanya dari Cina tiba di Muara Jati.

“Mereka yang beragama Islam di Muara Jati, diperkirakan telah membawa pengaruhnya, menandai ajaran Islam mulai dikenal di sana,” tulis Much Luthfi Fauzan Nugraha.

Ia bersama dengan Dadang Sundawa dan Muhamad Iqbal, menulis tentang catatan sejarah dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, dalam International Journal Pedagogy of Social Studies. Tulisannya berjudul The Existence of Nay Subang Larang as a Source of Value Education in Adolescents in Subang District, publikasi tahun 2020.

“Sekitar tiga tahun berselang, tepatnya pada tahun 1418, seorang ulama Islam bernama Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik, tiba di Muara Jati yang menumpang perahu dagang dari Campa,” tulisnya. Pengaruh Islam semakin pekat disana.

“Ki Gedeng Tapa adalah ayah dari Nyai Subang Larang, merupakan syahbandar (pejabat pemerintah) di pelabuhan Muara Jati, sebuah pelabuhan penting di utara Jawa Barat,” tambahnya. Dari Muara Jati, diperkirakan Ki Gedeng Tapa dan keturunannya mulai mengenal Islam.

“Kemudian Syekh Hasanudin pergi ke Karawang dan mendirikan pasantren di daerah Pura, Desa Talagasari, Karawang, bernama Pesantren Quro,” lanjutnya. Dari pesantrennya, Syekh Hasanudin kemudian dikenal sebagai Syekh Quro.

Ki Gendeng Tapa menitipkan anaknya, Kubang Kencana Ningrum, untuk belajar Islam kepada Syekh Quro.

“Ia belajar Islam selama 2 tahun bersama Syekh Quro. Di tempat inilah Syekh Quro memberikan gelar Sub Ang larang (Pahlawan berkuda) kepadanya,” terang Nugraha dalam tulisannya.

Pada sekira tahun 1420 Subang Larang kembali ke Muara Jati. Setelah kepulangannya, dua tahun kemudian, ia semakin dikenal tatar Sunda.

“Ia dipersunting pada 1422, sebagai selir permaisuri oleh raja paling sohor di masanya, yaitu Prabu Siliwangi. Ia merupakan penguasa dan raja terbesar dari Kerajaan Pajajaran,” tulis Herwig Zahorka.

Zahorka menulis kisah kesohoran Subang Larang dalam bukunya berjudul The Sunda Kingdom of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Bukunya diterbitkan pada 2007 silam.

Menariknya, Subang Larang adalah satu-satunya istri Raja Pajajaran yang memeluk Islam. “Ia adalah satu-satunya selir beragama Islam, di tengah lingkungan Kerajaan Hindu (Pajajaran),” lanjut Zahorka.

Meski begitu, Subang Larang tetap berpegang teguh dalam keyakinannya dan tak goyah sedikitpun.

“Ia menginspirasi melalui kekuatan imannya, menjunjung toleransi ditengah keberagaman. Ia tidak merubah penampilannya, sehingga terpancar inner beauty dalam dirinya,” tambahnya.

Catatan Uka Tjandrasasmita, dalam bukunya yang berjudul Jakarta Raya dan Sekitarnya: Dari Zaman Pra Sejarah hingga Kerajaan Pajajaran, terbitan tahun 1977. Menyebut tentang awal mula ketertarikan Prabu Siliwangi kepada Subang Larang.

“Prabu Siliwangi jatuh hati setelah mendengar keindahan suara dari lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh wanita berparas cantik jelita bernama Nyai Subang Larang,” tulis Tjandrasasmita dalam bukunya.

Seterusnya, dia juga melahirkan para penyebar ajaran Islam di Jawa Barat seperti Raden Kian Santang, Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), dan Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati).

“Mereka dididik dengan nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam meskipun hidup di lingkumgan Hindu” tambahnya.

Tjandrasasmita meneruskan, bahwa mereka diajarkan untuk hidup disiplin, mandiri, serta menjadi orang-orang yang jujur dan menjauhkan dari sifat-sifat kebohongan. Kisahnya itu menginspirasi rakyat Subang.

Sosok yang bijaksana, lemah lembut dan sederhana menjadi nilai karakter yang diteladani oleh banyak masyarakat Sunda. Tak pelak, catatan Citra Kabupaten Subang dalam Arsip Nasional Republik Indonesia pada tahun 2015, disebutkan bahwa nama Kabupaten Subang diambil dari namanya.

Pengakuan itu diperkuat dengan ditemukannya situs Nyi Subang Larang di Teluk Agung, Desa Nagerang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat pada 1979 dan 1981 di daerah Teluk Agung dan Muara Jati oleh Abah Roheman, warga setempat.

Berita Terkait

Ponpes El-Azzam Sukabumi, fokus pada skill life, penguasaan teknologi digital dan ekonomi
5 sekte aliran sesat pernah hebohkan Sukabumi: Ajaran Islam Suci hingga Tri Raga Suci
Profil lengkap Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto
Mengenal 5 pelukis asal Sukabumi dan prestasinya
Haram, hukum menjual rambut dalam Islam
Hukum melamar perempuan yang sudah dilamar pria lain dalam Islam, boleh karena 4 alasan ini
Kisah Sri Agustina Nadeak, raih gelar S2 tanpa dukungan keluarga karena mualaf
Kisah cinta Enden Kartiwi dan Lettu Bakrie, wanita Sukabumi teman dekat Hamengkubuwono IX

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Ponpes El-Azzam Sukabumi, fokus pada skill life, penguasaan teknologi digital dan ekonomi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 02:05 WIB

5 sekte aliran sesat pernah hebohkan Sukabumi: Ajaran Islam Suci hingga Tri Raga Suci

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Profil lengkap Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto

Kamis, 1 Oktober 2026 - 06:12 WIB

Mengenal 5 pelukis asal Sukabumi dan prestasinya

Selasa, 29 September 2026 - 00:01 WIB

Haram, hukum menjual rambut dalam Islam

Berita Terbaru

Ilustrasi musim kemarau ekstrem - sukabumiheadline.com

Sains

Masa peralihan dan puncak musim hujan di Sukabumi

Sabtu, 3 Okt 2026 - 17:52 WIB

Ilustrasi pelaku UMKM sedang menjahit pakaian - sukabumiheadline.com

Jawa Barat

Sukabumi masuk Top 10 IID versi BSKDN

Sabtu, 3 Okt 2026 - 14:00 WIB