sukabumiheadline.com – Nissan resmi menghidupkan kembali Pixo, tapi kali ini dalam wujud yang sama sekali berbeda dari pendahulunya yang dulu cuma rebadge dari Suzuki Alto.
Nissan Pixo generasi baru ini murni mobil listrik kota berukuran A-segment, hasil kolaborasi Nissan dengan Renault, dan bakal diproduksi di pabrik Novo Mesto, Slovenia.
Langkah Nissan menghidupkan nameplate lama untuk produk yang benar-benar baru ini terasa seperti strategi cerdas biar konsumen Eropa langsung familiar sejak awal, meski isinya jauh berbeda dari kesan “Pixo” yang lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran Nissan Pixo dilengkapi sejumlah keunggulan, dari mulai pemilihan baterai lithium-iron-phosphate (LFP) berkapasitas 27,5 kWh, yang diklaim Nissan jadi baterai LFP pertama yang dipasang di mobil Nissan untuk pasar Eropa.
Kapasitas tersebut memang tergolong kecil, namun jarak tempuhnya diklaim bisa mencapai 259 km berdasarkan siklus pengujian WLTP. Motor listriknya menghasilkan tenaga 60 kW atau setara 81 hp, dengan estimasi akselerasi 0-100 km/jam sekitar 12,1 detik menurut sejumlah laporan otomotif internasional.
Dari sisi pengisian daya, Pixo justru tampil di atas ekspektasi untuk kelas city car murah. Fitur DC fast charging 50 kW jadi standar, sehingga pengisian dari 15 persen ke 80 persen cuma butuh waktu sekitar 28 menit saja. Ditambah lagi ada AC charging 11 kW yang mendukung teknologi bidirectional, alias bisa mengalirkan listrik balik untuk kebutuhan lain.
Jika melihat tren mobil listrik murah saat ini, fitur bidirectional charging semacam ini biasanya cuma ada di mobil kelas atas, jadi kehadirannya di Pixo cukup mengejutkan.
Desain cube-inspired dan kabin lega untuk 4 orang
Secara tampilan, Pixo mengusung desain yang jauh lebih ekspresif dibanding versi lawas. Nissan menyebutnya sebagai desain cube-inspired, lengkap dengan lampu bergaya pixel dan bumper depan yang terkesan seperti wajah robot lucu.
Ada juga detail tersembunyi angka “23” yang merujuk pada pelafalan Jepang dari kata Nissan, sentuhan kecil yang menurut saya menunjukkan Nissan masih menjaga identitas mereknya meski platform-nya berbagi dengan Renault.
Meski bodinya cuma sepanjang 3.796 mm, Nissan mengklaim kabin Pixo tetap muat untuk empat orang dewasa. Kursi belakangnya bisa digeser secara independen, jadi penumpang bisa memilih mau memprioritaskan ruang kaki atau ruang bagasi.
Soal bagasi sendiri, kapasitasnya cukup mengejutkan untuk city car, yaitu 356 liter dalam kondisi normal dan bisa membengkak jadi 1.221 liter kalau kursi belakang dilipat. Bahkan tersedia ruang khusus 50 liter untuk menyimpan kabel pengisian daya.
Bagian yang menurut saya paling relevan dengan tren teknologi otomotif saat ini adalah kehadiran Gemini, asisten AI percakapan dari Google, di dalam kabin Pixo.
Nissan mengeklaim ini jadi yang pertama untuk kelas A-segment, dengan dukungan 16 bahasa dan dialek sejak peluncuran. Gemini bakal membantu urusan navigasi, hiburan, sampai komunikasi lewat perintah suara alami. Ditambah layar sentuh utama 10 inchi dan panel instrumen 7 inci, serta fitur Google built-in lengkap dengan navigasi ala Google Maps.
Fitur keselamatan dan kenyamanan lain juga cukup lengkap untuk city car, mulai dari adaptive cruise control dengan kemampuan stop-and-go, lane departure warning, hingga hands-free parking. Namun Nissan belum merilis rating keselamatan Euro NCAP secara resmi, jadi kita masih perlu menunggu detail lengkapnya.
Jadwal rilis dan harga
Nissan belum mengumumkan harga resmi Pixo, tapi informasi harga dan spesifikasi pasar dijanjikan mulai terungkap sejak Desember 2026, dengan pengiriman ke konsumen dimulai awal 2027.
Beberapa estimasi media menyebut harga dasarnya bisa di bawah 20.000 euro di Eropa sebelum insentif, atau sekitar 18.000 hingga 20.000 poundsterling di Inggris.
Nissan baru mengonfirmasi Pixo untuk pasar Eropa saja. Belum ada sinyal resmi soal peluncuran di Indonesia, apalagi harga lokal. Namun, ukurannya yang mungil dan kapasitas empat kursi bakal jadi tantangan tersendiri di pasar Indonesia yang lebih menyukai hatchback kompak atau MPV berkapasitas lebih besar.
Belum lagi soal kebutuhan versi setir kanan dan potensi harga yang melonjak akibat bea masuk serta pajak. Jadi untuk saat ini, Pixo lebih tepat dipandang sebagai city car khusus Eropa, bukan calon penerus produk Nissan yang sudah beredar di Indonesia.









