sukabumiheadline.com – Kapan warga Cicurug Sukabumi bisa berangkat kerja naik KRL ke Jakarta? Tidak lama lagi, tepatnya mulai 2028.
Untuk informasi, jaringan KRL Jabodetabek akan diperpanjang dari Cikarang hingga Cikampek di sisi timur dan dari Bogor hingga Cigombong di sisi selatan. Dengan demikian, warga Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tidak lama lagi bakal bisa berangkat kerja ke Jakarta naik KRL dari Stasiun Cigombong.
Meskipun pengguna KRL masih harus naik angkot dari Cicurug ke Stasiun Cigombong dengan tarif Rp4 ribu, namun biaya perjalanan menuju Jakarta tetap menjadi paling murah ketimbang menggunakan moda transportasi lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai informasi, saat ini tarif KRL dari Stasiun Bogor hingga Stasiun Jakarta Kota, dipatok Rp6 ribu rupiah. Jika diasumsikan dari Cigombong ke Jakarta Kota Rp10 ribu, maka total hanya dibutuhkan Rp14 ribu dari Cicurug hingga Jakarta Kota.
Untuk perbandingan, dari Stasiun Bogor tujuan Stasiun Manggarai atau Gondangdia saat ini tarifnya dipatok Rp5 ribu saja. Dengan demikian diperkirakan dari Cigombong hingga Manggarai atau Gondangdia tarif KRL diperkirakan hanya Rp9 ribu.
Baru 3 persen

Sementara itu, menurut Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Bobby Rasyidin, perpanjangan elektrifikasi tersebut ditargetkan selesai pada 2028 sebagai bagian dari rencana KAI mengejar kapasitas angkutan hingga 2 juta penumpang per hari.
“Untuk Bogor Line itu kita extend, yang sekarang sampai Bogor itu sampai Cigombong, sampai Lido,” kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).
Pengembangan tersebut dilakukan seiring pertumbuhan penumpang KRL Jabodetabek. Bobby mengatakan jumlah penumpang rata-rata saat ini mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari, dengan jumlah pada periode puncak mencapai 1,3 juta penumpang per hari.
Berdasarkan paparannya, permintaan perjalanan KRL diproyeksikan terus meningkat. KAI mencatat pertumbuhan penumpang pada semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai lebih dari 11 persen.
KAI juga mencatat kawasan Jabodetabek memiliki sekitar 31,8 juta penduduk dengan sekitar 48 juta pergerakan harian. Namun, porsi KRL dalam moda transportasi harian baru sekitar 3 persen, dibandingkan sepeda motor 45 persen, mobil 36 persen, dan bus 16 persen.
“Pada saat ini, rata-rata harian itu 1,1 juta penumpang. Peak-nya itu 1,3. Nah dengan kita meningkatkan prasarana ini, itu kita menuju ke 2 juta penumpang,” ujar Bobby.
Untuk jalur Bogor, KAI akan memperpanjang jaringan dari Bogor menuju Cigombong hingga kawasan Lido. Sedangkan jalur Bekasi, KAI akan memperpanjang elektrifikasi dari Cikarang menuju Cikampek.
Pengembangan ini masuk dalam rencana peningkatan kapasitas jaringan KRL Jabodetabek. KAI juga menyiapkan berbagai peningkatan sarana dan prasarana secara bertahap, mulai dari gardu traksi (GT), listrik aliran atas (LAA), persinyalan, depo, stabling, hingga perpanjangan peron dan stasiun.
“Begitu nanti kita tingkatkan listriknya, semuanya itu akan SF12. Itu satu. Yang kedua, begitu nanti kita tingkatkan pensinyalannya, yang sekarang headway-nya itu 10-15 menit, itu akan kita kurangi menjadi 4 sampai 5 menit,” kata Bobby.









