sukabumiheadline.com – Tanggal 6 November, 1382 tahun silam, Khalifah Umar bin Khattab tewas dibunuh, dan Utsman bin Affan naik menjadi khalifah. Sementara itu di Indonesia, hari ini pada 1908, Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien wafat di Sumedang, Jawa Barat.
Setiap 6 November juga diperingati sebagai hari Hari Internasional untuk Mencegah Eksploitasi Lingkungan Hidup dalam Perang dan Konflik Bersenjata.
Satu peristiwa bersejarah lainnya di Nusantara, adalah selesainya penulisan kitab Kakawin Bharatayudha.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kronologi pembunuhan Khalifah Umar bin Khattab
Khalifah Umar bin Khattab gugur sebagai syahid setelah ditikam oleh seorang budak Persia bernama Abu Lu’lu’ah (Fayruz).
Peristiwa pembunuhan Umar ini terjadi pada pagi hari, 26 Dzulhijjah tahun 23 Hijriah (644 Masehi) di Masjid Nabawi, Madinah.
Saat Kejadian, Umar bin Khattab tengah memimpin sholat Subuh berjamaah. Saat bertakbir pada rakaat pertama atau kedua, Abu Lu’lu’ah menyusup ke barisan jamaah dan menikam Umar menggunakan belati bermata dua (khanjar) sebanyak tiga kali.
Perbuatan tercela Abu Lu’lu’ah dipicu dendam atas kekalahan Kerajaan Persia dan merasa tidak puas karena Umar menolak permintaannya untuk meringankan beban pajak (kharaj) harian yang ditetapkan oleh Mughirah bin Syu’bah (tuannya).
Selain Umar, beberapa sahabat lain yang mencoba menghadang penikam juga turut terluka; dari total 13 orang yang terluka, 7 di antaranya meninggal dunia.
Setelah ditikam, Umar sempat meminta Abdurrahman bin Auf untuk menggantikannya memimpin sisa sholat. Umar kemudian dirawat dan bertahan selama tiga hari sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
Sebelum wafat, ia menunjuk sebuah dewan formatur yang terdiri dari enam sahabat (Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash) untuk memilih khalifah pengganti.
Umar bin Khattab dimakamkan di samping makam Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq di kamar Aisyah ra, setelah mendapat izin darinya.
Kronologi meninggalnya Cut Nyak Dhien
Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien meninggal dunia pada 6 November 1908 di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Ia meninggal dunia dalam usia sekitar 60 tahun. Perempuan pejuang tersebut dimakamkan di kompleks pemakaman Gunung Puyuh, Sumedang.
Latar belakang meninggalnya pejuang asal Aceh tersebut berawal setelah ia ditangkap oleh pasukan Belanda dan diasingkan ke Sumedang pada 1906, karena perannya sebagai pemimpin perlawanan gerilya dalam Perang Aceh.
Cut Nyak Dhien ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 2 Mei 1964 melalui SK Presiden No. 106/1964.
Kakawin Bharatayudha selesai ditulis
Kakawin Bhāratayuddha adalah salah satu karya sastra Jawa Kuno (Kawi) paling masyhur yang digubah dalam bentuk puisi (kakawin).
Penulisan kitab dengan judul asli Bharatayudha Jayabinangon itu dimulai oleh Empu Sedah dan dilanjutkan serta diselesaikan oleh Empu Panuluh pada 6 November 1157 M (1079 Saka), di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya.
Kitab berisi adaptasi dari wiracarita Mahabharata asal India yang mengisahkan perang besar selama 18 hari di Kurukshetra antara keluarga Pandawa melawan Korawa.
Selain sebagai saduran wiracarita Hindu, kisah perang saudara ini sering dimaknai sebagai alegori atau cerminan dari konflik politik antara Kerajaan Kediri (di bawah Jayabaya) melawan Kerajaan Jenggala.
Karya ini tetap hidup dalam tradisi Nusantara hingga masa Islam, dan memengaruhi seni pertunjukan wayang (seperti suluk atau lakon pewayangan).









