sukabumiheadline.com – Industri fesyen terus bergerak dinamis mengikuti perubahan zaman, gaya hidup, dan teknologi. Memasuki tahun 2026, tren fashion tidak lagi hanya soal tampilan visual, tetapi juga nilai, fungsi, dan cerita di baliknya. Konsumen kini semakin sadar akan isu keberlanjutan, kenyamanan, serta identitas personal. Hal ini mendorong lahirnya tren fashion 2026 yang lebih relevan, adaptif, dan bermakna.
Berikut adalah 8 tren fesyen yang diprediksi bakal bertahan hingga 2027, menurut Urban Icon, dikutip sukabumiheadline.com, Sabtu (26/9/2026).
1. Sustainable Fashion Naik ke Level yang Lebih Serius
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika sebelumnya sustainable fashion masih dianggap sebagai tren alternatif, di tahun 2026 konsep ini justru menjadi standar baru. Brand fesyen tidak lagi sekadar mengklaim “eco-friendly”, tetapi benar-benar transparan soal proses produksi, bahan baku, hingga rantai pasok.
Material seperti recycled polyester, organic cotton, vegan leather, hingga kain berbasis biomaterial akan semakin sering digunakan. Konsumen juga mulai menghargai produk yang tahan lama dibanding fast fashion yang cepat rusak. Tren ini menegaskan bahwa harga sebuah pakaian sebanding dengan kualitas, daya tahan, dan dampaknya terhadap lingkungan.

2. Nostalgia Fashion dengan Sentuhan Modern
Nostalgia masih menjadi sumber inspirasi kuat di dunia fesyen. Di tahun 2026, tren throwback era 2000-an dan 2010-an kembali muncul, namun dengan pendekatan yang lebih dewasa dan modern.
Item seperti cargo pants, oversized jacket, baby tee, hingga vintage watch kembali populer, tetapi dipadukan dengan material yang lebih berkualitas dan potongan yang refined. Nostalgia ini tidak sekadar mengulang masa lalu, melainkan menginterpretasikannya sesuai kebutuhan zaman sekarang.
3. Quiet Luxury dan Minimalisme Modern
Tahun 2026 menjadi era di mana kemewahan tidak lagi ditampilkan secara mencolok. Quiet luxury atau kemewahan yang subtil semakin diminati, terutama di kalangan urban dan profesional muda. Potongan bersih, warna netral, dan material premium menjadi ciri utama tren ini.
Brand dengan desain timeless, tanpa logo besar, justru dianggap lebih eksklusif. Tren ini juga selaras dengan gaya hidup minimalis yang mengutamakan kualitas dibanding kuantitas.
Quiet luxury menegaskan bahwa fashion bukan tentang pamer, tetapi tentang rasa percaya diri dan selera personal.
4. Fashion Berbasis Teknologi dan AI

Teknologi semakin berperan besar dalam industri fashion. Di tahun 2026, AI dan digital fashion mulai terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari rekomendasi outfit berbasis data, virtual fitting room, hingga desain pakaian yang dibuat dengan bantuan AI.
Selain itu, konsep smart clothing juga berkembang, seperti pakaian dengan pengatur suhu, bahan anti-bakteri, atau kain yang menyesuaikan kondisi tubuh. Fashion tidak lagi hanya estetis, tetapi juga fungsional. Tren ini menunjukkan bahwa masa depan fashion akan sangat berkaitan dengan inovasi teknologi.
5. Genderless Fashion Semakin Mainstream
Batas antara fashion pria dan wanita semakin kabur. Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi genderless fashion untuk benar-benar diterima secara luas. Siluet longgar, warna netral, serta desain universal membuat pakaian bisa dikenakan siapa saja tanpa label gender.
Brand besar maupun lokal mulai merilis koleksi unisex yang fokus pada kenyamanan dan ekspresi diri. Konsumen tidak lagi terikat pada kategori, melainkan pada gaya yang merepresentasikan kepribadian mereka.
6. Comfort Wear yang Tetap Stylish
Sejak perubahan gaya hidup pasca-pandemi, kenyamanan menjadi faktor utama dalam berpakaian. Tren ini berlanjut hingga 2026 dengan hadirnya comfort wear yang tetap terlihat stylish.
Loose pants, knitwear, oversized shirt, backpack, hingga set matching berbahan ringan menjadi pilihan utama untuk aktivitas harian. Fesyen 2026 menegaskan bahwa tampil rapi dan modis tidak harus mengorbankan kenyamanan.
7. Statement Accessories sebagai Fokus Utama
Jika pakaian cenderung minimalis, maka aksesori justru tampil lebih berani. Di tahun 2026, statement accessories seperti tas unik, sepatu dengan desain eksperimental, hingga perhiasan artistik menjadi focal point dalam sebuah outfit.
Aksesori berfungsi sebagai penegas karakter dan identitas personal. Bahkan outfit sederhana bisa terlihat standout hanya dengan satu item aksesori yang tepat.
8. Apresiasi Produk Lokal

Tren fesyen 2026 juga ditandai dengan meningkatnya apresiasi terhadap brand lokal dan produk berbasis budaya. Konsumen semakin tertarik pada produk dengan cerita, nilai lokal, dan keunikan tersendiri.
Penggunaan motif tradisional, teknik handmade, serta kolaborasi dengan pengrajin lokal menjadi nilai tambah yang dicari. Tren ini membuktikan bahwa fesyen bukan hanya global, tetapi juga sangat personal dan kontekstual.
Tren fesyen yang muncul pada 2026 mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap pakaian. Fesyen tidak lagi sekadar mengikuti tren musiman, tetapi menjadi bentuk ekspresi diri, kepedulian lingkungan, dan adaptasi teknologi.
Mulai dari sustainable fashion, quiet luxury, genderless design, hingga integrasi AI, semua tren ini menunjukkan bahwa industri fashion bergerak ke arah yang lebih sadar, fungsional, dan bermakna. Bagi konsumen, ini adalah kesempatan untuk memilih gaya yang tidak hanya stylish, tetapi juga relevan dengan nilai hidup mereka.









