sukabumiheadline.com – Job hugging adalah fenomena ketika seorang pegawai memilih untuk bertahan pada pekerjaan saat ini meskipun merasa tidak puas, jenuh, atau tidak lagi berkembang. Secara sederhana, job hugging adalah kecenderungan seseorang menolak pindah perusahaan atau berganti profesi, meskipun sebenarnya peluang karier lain lebih baik.
Menurut Fast Company, job hugging kerap didorong oleh rasa takut kehilangan stabilitas, baik dari sisi finansial maupun keamanan kerja. Pekerja yang “memeluk pekerjaan” lebih memilih kondisi yang pasti daripada mengambil risiko menghadapi hal yang tidak mereka kenal.
Sementara itu menurut iHire, job hugging sering kali bukan karena kepuasan kerja, melainkan ketidaknyamanan menghadapi proses rekrutmen baru, mulai dari wawancara, adaptasi budaya organisasi, hingga risiko tidak cocok di lingkungan kerja yang berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa Fenomena Ini Muncul?
Fenomena job hugging tidak lahir tanpa sebab. Beberapa faktor yang melatarbelakanginya antara lain terjadinya ketidakpastian ekonomi yang memicu adanya ancaman resesi, inflasi, dan isu PHK massal, membuat pekerja takut kehilangan sumber pendapatan tetap.
Selain itu, pasar kerja melemah yang mengakibatkan minimnya lowongan pekerjaan baru membuat proses mencari atau melamar kerja terasa lebih sulit dan berisiko.
Di sisi lain, adanya kecemasan karier dan teknologi, sehingga ada kekhawatiran tidak bisa beradaptasi di lingkungan baru atau tersaingi oleh perkembangan teknologi seperti AI.
Dampak negatif job hugging
Meskipun menjanjikan kestabilan pendapatan, namun tren ini menyebabkan pekerja mengalami stagnasi karier dan kemampuan serta posisi kerja menjadi tidak meningkat atau tidak berkembang.
Job hugging juga dapat memicu penurunan motivasi. Bekerja hanya sebatas menggugurkan kewajiban tanpa antusiasme. Akibatnya, muncul kelelahan mental, memicu stres berkepanjangan akibat terjebak dalam situasi yang tidak membahagiakan, namun tetap harus dilakoni.









