sukabumiheadline.com – Babak perdelapan final Open Bareti Cup Buniwangi 2025 antara klub Buniwangi Raya A (BRA) vs Semut Hitam dari Desa Sampora, Kecamatan Cikidang, berhasil dimenangkan oleh tim BRA setelah melewati babak adu penalti, Sabtu (3/1/2016).
Laga kedua tim digelar di Lapang Labuhan Bulan, Desa Buniwangi, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu berlangsung sengit. Terjadi saling jual beli serangan, namun hingga 2 x 45 menit skor berkesudahan 2-2.
Laga sempat diwarnai ketegangan antara kedua tim pada babak kedua, dengan dukungan dari suporter masing-masing. Ketegangan bermula ketika pemain Semut Hitam tidak menerima keputusan wasit, sehingga terjadi perdebatan sengit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua panitia Efri Darlin M Dachi terpaksa harus turun ke lapangan untuk meredakan ketegangan. Dachi berhasil menenangkan pemain yang mencoba mengintimidasi wasit, hingga keluar kata kata kotor.
Laga pun akhirnya dilanjutkan hingga pluit akhir babak kedua ditiup wasit, skor tidak berubah, 2-2. Maka untuk menentukan tim yang berhak melaju ke babak perempat final, kedua tim harus melewati babak adu penalti.
Di babak adu penalti, tiga penendang bola pertama dari tim BRA berhasil menjebol gawang Semut Hitam. Sedangkan, tiga eksekutor penalti dari tim Semut Hitam gagal menyarangkan bola ke dalam gawang lawannya.
Skor akhir 3-0 berkesudahan untuk kemenangan klub Buniwangi Raya A. Dengan hasil ini, BRA berhak melaju ke babak perempat final Open Bareti Cup Buniwangi 2025 yang digelar sejak 10 Desember 2025 itu.
Adapun di babak perempat final, BRA akan melawan tim pemenang laga Ceker FC dan Sawit FC yang akan dilangsungkan hari ini, Ahad (4/1/2026).
Pernyataan panitia
Usai laga, Efri Darlin M Dachi menyayangkan terjadinya ketegangan saat laga kedua tim berlangsung. Ia berharap para pemain senior mampu memberikan teladan kepada juniornya.
“Hanya berusaha untuk menjaga keamanan dan ketertiban di lapangan. Saya harap pemain senior bisa memberikan contoh yang baik kepada generasi muda,” kata Dachi kepada sukabumiheadline.com, Ahad pagi.
“Wasit juga saya minta ketegasannya agar turnamen ini bisa menghasilkan bibit-bibit muda berbakat dan disiplin,” harap Dachi.
Lebih jauh, priabyang juga advokat itu mengingatkan bahwa Bareti Cup Buniwangi 2025 merupakan hajat bersama panitia dan tim peserta.
“Ini hajat kita yang berkelanjutan. Sebagai panitia pasti ada saja kekurangannya. Untuk itu, saya meminta maaf. Soal saya masuk ke lapangan, karena ada pemain ngomong kasar seperti mengeluarkan kata-kata ‘anjing’, ‘tolol’, ‘goblok’, dan blablabla lah,” papar Dachi.
Ia berharap dengan upayanya menenangkan pemain bisa menghindari kericuhan agar tidak meluas.
“Kalau penonton terpancing, pasti panitia yang riweh. Artinya panitia gagal menjaga kondusivitas di lapangan,” kata dia.
“Dengan begitu, turnamen ini menjadi sia-sia. Izin dari kepolisian juga pasti dicabut, dan open tournament yang akan datang sudah pasti tidak akan ada izin lagi,” kata Dachi.
“Itulah kenapa kami, panitia merasa perlu terlibat untuk meredakan ketegangan. Sedikitpun gak ada kecenderungan memihak ke salah satu tim. Kalau memihak ke Buniwangi, sudah aja pialanya berikan langsung ke Buniwangi Raya A,” pungkasnya.









