sukabumiheadline.com – Iran kerap identik dengan Syiah Itsna ‘Asyariyah. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya merepresentasikan sejarah panjang Persia dalam sejarah perkembangan Islam.
Hal itu disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mohammad Syifa Amin Widigdo dalam podcast di kanal Wonderhome Library.
Dalam pemaparannya, Widigdo menjelaskan bahwa Iran historis pernah menjadi salah satu pusat penting perkembangan Islam Sunni Ahlusunah wal Jamaah, sebelum berubah menjadi basis Syiah pada era Dinasti Safawi. Transformasi tersebut terjadi ketika Syah Ismail I menetapkan Syiah Dua Belas Imam sebagai identitas resmi negara setelah menaklukkan Tabriz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sering kali orang membayangkan pusat keilmuan Sunni hanya di Baghdad, Damaskus, Kairo, atau Hijaz. Padahal, sebagian fondasi pentingnya justru dibentuk oleh ulama dari Persia,” ujar Widigdo, dikutip sukabumiheadline.com, Ahad (3/5/2026)
Ia menyebut sejumlah wilayah seperti Khurasan, Naisabur, Rayy, hingga Syahrazur sebagai pusat lahirnya ulama besar yang berkontribusi dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, mulai dari hadis, tasawuf, kalam, hingga ushul fikih.
Dalam kesempatan itu, Widigdo menyoroti lima tokoh penting. Pertama, Ibnu Salah Asy-Syahrazuri (w. 1245 M), yang dikenal sebagai penyusun metodologi hadis melalui karyanya Muqaddimah Ibnu Salah. Karya tersebut menjadi rujukan utama dalam ilmu musthalah hadis dan membantu menata klasifikasi serta validitas riwayat.
Kedua, Abul Qasim Al-Qusyairi (w. 1072 M), tokoh tasawuf Sunni yang menegaskan pentingnya keseimbangan antara spiritualitas dan syariat melalui karya Ar-Risalah al-Qusyairiyah.
Tokoh ketiga adalah Fakhruddin Ar-Razi (w. 1210 M), yang mengembangkan ilmu kalam dengan pendekatan rasional dan filosofis. Tafsirnya, Mafatih al-Ghaib, menjadi salah satu karya ensiklopedis dalam tradisi Islam.
Selanjutnya, Imam Al-Haramain Al-Juwaini (w. 1085 M), yang berperan besar dalam merumuskan metodologi ushul fikih melalui karyanya Al-Burhan fi Ushul al-Fiqh. Ia juga dikenal sebagai guru dari Abu Hamid Al-Ghazali.
Al-Ghazali sendiri menjadi tokoh kelima yang disorot. Menurut Widigdo, ulama asal Tus tersebut merupakan figur penting yang mampu menyintesiskan berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari fikih, tasawuf, hingga filsafat, melalui karya-karya seperti Ihya’ Ulum al-Din.
Widigo menegaskan, jika lima tokoh tersebut dilihat secara berurutan, akan tampak peta besar perkembangan intelektual Sunni. Mulai dari penataan otoritas hadis, penguatan tasawuf, rasionalisasi teologi, perumusan metodologi hukum, hingga sintesis keilmuan Islam.
Ia menambahkan, sejarah Islam tidak dibangun oleh satu wilayah atau satu kelompok saja, melainkan oleh jaringan ulama lintas kawasan. Dalam konteks itu, Persia memiliki kontribusi besar dalam membentuk wajah Islam Sunni yang dikenal saat ini.
“Karena itu, melihat Iran hanya dari perspektif pasca-Safawi berarti menyederhanakan sejarah yang jauh lebih kompleks,” ujarnya.
Widigo juga mengingatkan bahwa lima tokoh tersebut hanyalah sebagian kecil dari banyak ulama Sunni yang lahir dari Persia. Ia mendorong publik untuk menggali lebih jauh kontribusi kawasan tersebut dalam khazanah keilmuan Islam.
Pemaparan ini diharapkan dapat memperkaya perspektif masyarakat dalam memahami sejarah Islam secara lebih utuh dan tidak terjebak pada narasi tunggal.









