sukabumiheadline.com – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Barat mengakselerasi rencana pengembangan Madrasah Unggulan di Sukabumi dan 7 lainnya, menggandeng Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung. Kerjasama dilakukan untuk memperkuat integrasi keilmuan, kurikulum, riset, serta pengembangan kompetensi peserta didik.
Dilansir dari laman resmi Kemenag, rencana pengembangan tersebut meliputi delapan Madrasah Unggulan, dan dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) tindak lanjut hasil visitasi Program Madrasah Unggulan di Jawa Barat yang digelar di Aula Kanwil Kemenag Jawa Barat.
Adapun kedelapan madrasah yang menjadi fokus pengembangan yakni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Sukabumi, MAN 1 Subang, MAN 2 Kabupaten Cirebon, MAN 1 Bogor, MAN 2 Kota Bogor, MAN 1 Kota Bandung, MAN 2 Kota Bandung, dan MAN 2 Tasikmalaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Ketua Tim pada Fungsi Kelembagaan dan Sistem Informasi Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat, Ade Ruhiat, penetapan delapan lokasi fokus ini diawali dari seleksi ketat puluhan madrasah negeri.
“Semua tahapan sudah kami lalui. Mulai dari pengajuan proposal, telaah, sampai seleksi. Dari 29 proposal yang masuk, kemudian menjadi 13 calon madrasah unggulan, dan akhirnya ditetapkan delapan madrasah yang akan menjadi bagian dari program ini,” jelas Ade dalam pernyataannya dikutip sukabumiheadline.com, Jumat (9/10/2026).
Ia menambahkan, pemetaan kondisi dilakukan secara komprehensif agar intervensi pengembangan sesuai kebutuhan riil di lapangan. “Proses pemetaan tidak hanya mengandalkan informasi dari kepala madrasah, tetapi juga melibatkan guru dan unsur lainnya agar hasil yang diperoleh benar-benar menggambarkan kondisi lapangan,” ungkapnya.
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat, Badruzaman, menegaskan bahwa hasil visitasi menjadi momentum penting untuk memastikan pengembangan madrasah unggulan berjalan optimal dan terpadu.
“Kami ingin madrasah unggulan di Jawa Barat ini menjadi yang terbaik dan mampu memberikan dampak luar biasa. Investasi pendidikan ini sangat luar biasa, karena lulusan madrasah unggulan Jawa Barat diharapkan dapat menjadi pemimpin pada masa yang akan datang,” ujarnya.
Badruzaman merinci, cakupan pengembangan madrasah unggulan meliputi tata kelola dan kepemimpinan, kurikulum dan pembelajaran, pembinaan prestasi akademik dan non-akademik, penguatan keagamaan dan karakter, kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, digitalisasi, serta kemitraan dan jejaring.
Untuk merealisasikan hal tersebut, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Reformasi, dan Tata Kelola Kemenag RI, Nona Gayatri Nasution, meminta seluruh pihak terkait bergerak cepat pasca-visitasi dan pemetaan. “Sekarang harus gerak cepat. Kepala madrasah harus visioner, kemudian kerja sama dengan komite harus kuat, dan guru BK juga harus masuk dalam tim,” ujarnya.
Selain itu, Kemenag berkomitmen mengawal kebutuhan sarana dan prasarana melalui akses bantuan pemerintah sesuai mekanisme yang berlaku, serta mendorong agar madrasah unggulan menerapkan prinsip satuan pendidikan ramah anak.
Dukungan juga datang dari Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, Dudu Rohman. Ia menekankan bahwa keunggulan madrasah tidak hanya dinilai dari aspek akademik belaka.
“Madrasah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk pribadi yang berakhlak, beradab, serta mampu memberi kontribusi bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Dudu juga mendorong pembentukan budaya literasi dan tradisi intelektual yang kuat di lingkungan madrasah. “Literasi harus menjadi budaya. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berkarya, menulis, dan membangun tradisi intelektual yang berkelanjutan,” katanya.
Dari sisi akademik dan perguruan tinggi, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Hasniah Aliah, menegaskan kesiapan UIN Bandung untuk menjadi bagian utuh dari ekosistem pengembangan madrasah unggulan ini, khususnya dalam mengintegrasikan agama dan sains.
“Integrasi harus hadir dalam perangkat pembelajaran, cara guru mengajar, pengembangan riset, serta pengalaman belajar peserta didik. Oleh karena itu, madrasah unggulan memiliki ruang besar untuk membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan model pembelajaran yang menghubungkan keilmuan keagamaan dengan sains dan teknologi,” tegasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan perguruan tinggi perlu dibangun secara substantif dan berkelanjutan.
“Model semacam ini membuka peluang bagi UIN Bandung untuk berperan melalui kepakaran dosen, penelitian, pendampingan guru, pengembangan modul, serta program penguatan kompetensi siswa dan madrasah,” jelas Hasniah.
“UIN Bandung tidak hanya ditempatkan sebagai mitra kegiatan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pengembangan madrasah melalui penguatan kurikulum, integrasi keilmuan, riset, inovasi pembelajaran, pengembangan sumber daya manusia, hingga pembinaan peserta didik,” tuturnya.
Melalui sinergi terpadu antara Kanwil Kemenag Jabar, UIN Bandung, dan unit madrasah, hasil pemetaan ini diharapkan segera diwujudkan ke dalam program konkret untuk melahirkan lulusan madrasah unggulan yang berkarakter, adaptif, serta menguasai ilmu agama dan sains secara terpadu.









