Ayam Bakar Shaka-Shaka Parungkuda Sukabumi, Nikmat dan Tak menguras Kantong

- Redaksi

Sabtu, 23 Oktober 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ayam bakar Shaka-Shaka Parungkuda. l Feryawi Heryadi

Ayam bakar Shaka-Shaka Parungkuda. l Feryawi Heryadi

SUKABUMIHEADLINE.com l PARUNGKUDA – Untuk warga Parungkuda dan sekitarnya yang ingin makan malam di luar, tetapi harga tetap murah meriah, tidak perlu jauh-jauh.

Ayam bakar Shaka-Shaka bisa menjadi pilihan. Selain rasanya juara, harganya juga tidak menguras isi kantong. Cukup dengan Rp13 ribu Anda bisa makan ayam bakar nikmat ini. Namun, jika plus nasi, Anda harus membayar lagi Rp3.000.

Selain daging ayam bakar, Anda juga bisa memilih sate jeroan, hati ampela ayam, harganya cuma Rp5.000 per tusuk. Semua menu bisa digoreng ataupun dibakar. Rasanya, sama-sama nikmat, terlebih jika disantap dengan sambalnya yang khas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagea Awi (16) mengakui nikmatnya menyantap ayam bakar ini. Ia mengaku selalu makan ayam bakar tersebut jika berkunjung ke Parungkuda. “Ia sering. Kalau lagi ke Parungkuda selalu makan di sini, atau di bawa pulang,” kata gadis asal Cicurug itu kepada sukabumiheadline.com, Kamis (21/10/2021).

Buat Anda yang ingin mencicipi ayam bakar Shaka-Shaka, lokasi tempat berjualannya tidak jauh dari pintu keluar Pasar Semi Modern (PSM) Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.

Namun, warung kaki lima ini mulai buka pukul 17.00 – 23.00 WIB. Selamat menikmati makan malam bersama keluarga.

Berita Terkait

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi
Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya
Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA
42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027
6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia
Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya
Kebijakan tidak naik kelas, Guru di Sukabumi ingatkan Kemendikdasmen harus hati-hati
5 tantangan laki-laki Gen Z 2027: Krisis biaya hidup hingga resesi seks

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 04:29 WIB

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:00 WIB

42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB