Berawal dari Iseng, Gelang Lucu dari Caringin Sukabumi Ini Dijual Hanya Rp3 Ribu

- Redaksi

Rabu, 28 Juli 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gelang hasil tangan kreatif Fitri. | Ratih Putri Febriana

Gelang hasil tangan kreatif Fitri. | Ratih Putri Febriana

SUKABUMIHEADLINE.com l CARINGIN – Saat ini, pernak-pernik yang biasanya menjadi sekadar ornamen pelengkap penampilan, telah bergeser menjadi seperti kebutuhan primer. Pasalnya, banyak orangkadang merasa bingung jika harus berganti-ganti busana yang dikenakan.

Karenanya, pernak-pernik saat ini telah bergeser menjadi bukan lagi sekadar pemanis penampilan. Untuk memberi kesan tampil beda, penambahan pernak-pernik pada busana ataupun bagian tubuh tertentu cukup menjadi berbeda.

Fitri Hardiani tampaknya sadarbetul akan hal itu dengan memproduksi gelang-gelang lucu dan unik. Berawal dari keraguan karena merasa yang dilakukannya hanyalah hal kecil, terlebih ia melakukannya hanya sebatas mengisi kekosongan waktu saat sedang mencari pekerjaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, siapa sangka, ternyata keluarga dan teman-temannya malah tertarik dengan gelang-gelang lucu buatan gadis berusia 25 tahun ini. “Keluarga dan sahabat suka dan menyarankan saya untuk berbisnis, iseng aja ikutin,” kata Fitri kepada sukabumiheadline.com, Sabtu 24 Juli 2021.

Padahal, pada awalnya gadis asal Kampung Peundeuy, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi ini mengungkapkan, ia sempat ragu karena merasa apa yang dibuatnya hanyalah hal biasa dan banyak dilakukan orang lain.

Namun, melihat respon teman dan kerabatnya membuat ia yakin jika pernak-pernik kreasinya akan laku di pasaran.

“Kalau beli kan mahal. Pernah lihat harganya sampai Rp15.000, belum lagi ongkir. Kalau bikin ornamennya kan gak bisa beli satuan. Akhirnya beli banyak bahan dan coba buat jual.”

Kerennya lagi, bisnis isengnya tersebut belum sampai satu bulan ia sudah bisa menjual sekira 100 item dari 200 item yang diproduksi. Saat ini, satu gelang kreasinya bisa didapatkan dengan harga Rp3 ribu.

“Rencana ke depan, mau di-packaging dan dibuat lebih estetik dengan harga menyesuaikan,” pungkas dia.

Berita Terkait

Dua anak di bawah umur asal Sukabumi kerja prostitusi online, 5 buku tamu disita polisi
Selundupkan 32 ribu benih lobster ilegal, warga Sukabumi ditangkap di Banten
Pria Sukabumi paksa gadis 19 tahun layani 300 lelaki hidung belang, Rp50 ribu per transaksi
Awal mula terungkapnya tanah aset Desa Sukamulya Sukabumi dikuasai swasta
Perhutani KPH Sukabumi gandeng Damkar patroli bersama
Warga Sukamulya Sukabumi protes tanah aset desa dipindahtangankan ke swasta
Ahad, 18 Oktober: Event hari ini di Sukabumi, JNS Fest hingga Festival Kuliner Bangkok
Germo asal Sukabumi paksa wanita Sumsel layani 10 pria sehari, fee Rp50 ribu

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:11 WIB

Dua anak di bawah umur asal Sukabumi kerja prostitusi online, 5 buku tamu disita polisi

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Selundupkan 32 ribu benih lobster ilegal, warga Sukabumi ditangkap di Banten

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 04:18 WIB

Pria Sukabumi paksa gadis 19 tahun layani 300 lelaki hidung belang, Rp50 ribu per transaksi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:01 WIB

Awal mula terungkapnya tanah aset Desa Sukamulya Sukabumi dikuasai swasta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Perhutani KPH Sukabumi gandeng Damkar patroli bersama

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB