Dua Kali Meletus dan Berulangkali Erupsi, Mengenal Gunung Salak dari Catatan Sejarah

- Redaksi

Kamis, 2 Maret 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gunung Salak pernah dua kali meletus. l Istimewa

Gunung Salak pernah dua kali meletus. l Istimewa

sukabumiheadline.com l Meletusnya Gunung Semeru dan Merapi seolah sinyal peringatan dini kepada warga Kabupaten Sukabumi dan Bogor, Jawa Barat tentang bahaya yang setiap saat selalu mengintai, termasuk kemungkinan Gunung Salak meletus.

Seperti diketahui, Gunung Salak berada di wilayah perbatasan Kabupaten Bogor dengan Kecamatan Cidahu dan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.

Gunung Salak yang berada pada 2.211 mdpl atau meter di atas permukaan laut ini merupakan salah satu gunung berapi aktif di Pulau Jawa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak hanya dikenal sebagai gunung berapi aktif, Gunung Salak juga memiliki segudang cerita di kalangan tertentu. Karenanya, tak hanya sekadar keindahannya, gunung ini juga dikenal dengan cerita-cerita di balik kemegahannya. Baca lengkap: Asal-usul Nama dan 5 Cerita di Balik Kemegahan Gunung Salak Sukabumi

Meskipun sudah lama tidak lagi menunjukkan aktivitas erupsi, namun siapa sangka ternya gunung ini pernah mengalami dua kali letusan dan sering erupsi.

Menurut catatan sejarah, Gunung Salak terakhir kali erupsi pada 1938 silam. Meskipun sebelumnya di tahun 2018 sempat beredar isu Gunung Salak mengalami erupsi, namun hal tersebut telah dibantah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Baca Juga :  Lulus Langsung CPNS, Warga Sukabumi Mau? Ini 5 Sekolah Kedinasan di Jawa Barat

Berikut catatan jejak sejarah letusan Gunung Salak sejak 1699-1938 dihimpun sukabumiheadline.com dari Litbang MPI.

Perdebatan tentang Letusan Gunung Salak Tahun 1699

Gunung Salak mengalami erupsi untuk pertama kalinya diketahui ilmuwan pada 5 Januari 1699. Dikabarkan, erupsi tersebut berasal dari Gunung Salak II. Meskipun dinilai hanya erupsi samping dan erupsi dari kawah pusat. Namun, akibat erupsi tersebut hutan di kawasan sekitarnya mengalami kerusakan.

Bahkan, Jurnal Duta Rimba yang terbit pada 1999 oleh Perum Perhutani menerangkan bahwa letusan kala itu menghasilkan lahar dingin yang mendangkalkan sejumlah sungai di wilayah Jawa Barat yang mengalir hingga ke Batavia, termasuk Sungai Ciliwung.

Namun, riset terbaru Christopher J Harpel, peneliti dari Earth Observatory of Singapore (2015) meyakini bahwa pada tahun 1699 Gunung Salak tidak meletus melainkan hanya debris avalanche atau guguran puing.

Kedua pendapat tersebut relatif bertahan hingga saat ini. Karenanya, status Gunung Salak meletus pada 1699 masih menjadi perdebatan.

Erupsi di Kawah Ratu

Pada 1761, dikabarkan Gunung Salak mengalami erupsi freatik yang bersumber dari Kawah Ratu.

Baca Juga :  Pemalu dan Bijaksana, Gadis Cicurug Korban Laka Maut di Parungkuda Sukabumi

Kemudian pada 1780, Gunung Salak mengalami dua kali erupsi yaitu erupsi samping dan erupsi normal di Kawah Ratu.

Disusul kemudian pada 1902 hingga 1903, pada saat itu terjadi erupsi samping bertipe freatik.

Hal serupa terjadi pada 1919, Gunung Salak kembali erupsi dari Kawah Ratu berupa erupsi freatik.

Baca Juga: Sejarah Terbentuknya Kawah Ratu, Warga Sukabumi Wajib Tahu

Gunung Salak Erupsi Lumpur dari Kawah Cibodas 

Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1923, Gunung Salak mengalami erupsi lumpur di Kawah Cibodas.

Dan pada tahun 1929, Kawah Cibeureum Gunung Salak mengalami erupsi freatik. Disusul kemudian pada Februari 1935, Gunung Salak mengalami erupsi samping dan erupsi freatik di Kawah Cikuluwung Putri.

Gunung Salak Kembali Meletus 

Setahun berselang, tepatnya pada 1936, Gunung Salak kembali meletus dengan erupsi freatik di Kawah Perbakti.

Dua tahun kemudian, gunung berapi ini tetap aktif. Hal itu ditandai dengan terjadinya erupsi freatik dari Kawah Cikukuwung pada 1938.

Erupsi terjadi lantaran adanya kontak antara magma dengan air sehingga menyemburkan asap keluar dari puncak gunung.

Berita Terkait

Mimpi buruk ibu tiri: Dari tragedi Arie Hanggara 1984 hingga Nizam asal Sukabumi 2026
Usia Harapan Hidup warga Kabupaten Sukabumi 75,12 tahun, kalah dari Garut dan Pangandaran
1 tahun Asep Japar-Andreas: Ranking IPM Kabupaten Sukabumi tetap jeblok
Kabupaten Sukabumi bukan favorit investor, meskipun punya jalan tol dan SDM/SDA melimpah
Sejarah, konsesi 50 tahun dan persentase pemegang saham Jalan Tol Ciawi-Sukabumi
Jumlah organisasi kemasyarakatan di Sukabumi: Kabupaten 666 ormas, kota?
Penduduk Sukabumi didominasi laki-laki, tapi mayoritas berumur pendek
Sukabumi berapa? Merinci pemkot dan pemkab pemilik saham bjb se-Jawa Barat dan Banten

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 03:49 WIB

Mimpi buruk ibu tiri: Dari tragedi Arie Hanggara 1984 hingga Nizam asal Sukabumi 2026

Jumat, 20 Februari 2026 - 04:32 WIB

Usia Harapan Hidup warga Kabupaten Sukabumi 75,12 tahun, kalah dari Garut dan Pangandaran

Selasa, 17 Februari 2026 - 17:12 WIB

1 tahun Asep Japar-Andreas: Ranking IPM Kabupaten Sukabumi tetap jeblok

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:13 WIB

Kabupaten Sukabumi bukan favorit investor, meskipun punya jalan tol dan SDM/SDA melimpah

Rabu, 11 Februari 2026 - 16:30 WIB

Sejarah, konsesi 50 tahun dan persentase pemegang saham Jalan Tol Ciawi-Sukabumi

Berita Terbaru

Lele Sangkuriang asli Sukabumi - Ist

UMKM

Ini daftar kecamatan sentra ikan lele Sukabumi

Selasa, 24 Feb 2026 - 20:54 WIB


Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/sukaheadline/htdocs/sukabumiheadline.com/wp-includes/functions.php on line 6131