Icip Lezatnya Kuliner Khas Timur Tengah di Cikole Sukabumi

- Redaksi

Sabtu, 27 Mei 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sajian nasi kebuli ala Lula Hanifah. l Istimewa

Sajian nasi kebuli ala Lula Hanifah. l Istimewa

sukabumiheadline.com l CIKOLE – Warga Sukabumi, Jawa Barat yang menyukai kuliner khas Timur Tengah, pastinya nasi kebuli menjadi salah satu yang dikangeni. Bagaimana tidak, selain menjanjikan perut kenyang, menu kuliner satu ini juga menyajikan aroma yang selalu menggugah selera.

Aroma rempahnya khas dan menyengat, mengepul memenuhi seluruh ruangan makan, membuat siapapun sekali ingin kembali untuk menikmatinya.

Tapi jangan khawatir, di Sukabumi juga ada kedai nasi kebuli yang menjanjikan kelebihan rasa ketimbang nasi kebuli di tempat lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Nasi kebuli kami itu pulen meskipun memakai beras basmati. Bumbunya juga khas Timur Tengah banget, tapi ada tambahan rasa Nusantaranya. Jadi cocok dengan lidah orang Indonesia,” bangga Laula Hanafiah, penjual nasi kebuli kepada sukabumiheadline.com, Sabtu (27/5/2023).

Ditambahkan Luka, ia belum lama menjual nasi kebuli matang. Sebelumnya, ia menjual beras basmati paket lengkap dengan bumbunya.

“Nah, untuk nasi kebuli yang sudah matang kami baru buka beberapa bulan belakangan ini. Menunya ada nasi kebuli dengan nasi lokal, nasi kebuli basmati, nasi kebuli nampan,” kata Lula.

“Selain itu, ada juga makanan khas Timur Tengah lainnya yaitu roti canai,” tambahnya.

Wanita yang pernah menjadi penulis buku, ghoswriter, dan manajer Nabilah Abdul Rahim Bayan, seorang juri Hafidz Indonesia di RCTI itu mengaku baru setahun terakhir menggeluti usaha beras basmati.

“Untuk paket beras Basmati itu sudah dilengkapi dengan bumbunya. Kami sudah melayani pembelian dari luar pulau, seperti Papua, Maluku, Bali, dan lainnya,” jelas Lula.

Buat Anda yang kangen dengan menu nasi kebuli, bisa datang ke Jl. Siliwangi Gg. Mutholib No. 4, Kelurahan/Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi.

Berita Terkait

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya
Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA
42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027
6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia
Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya
Kebijakan tidak naik kelas, Guru di Sukabumi ingatkan Kemendikdasmen harus hati-hati
5 tantangan laki-laki Gen Z 2027: Krisis biaya hidup hingga resesi seks
Ketika perempuan Sukabumi tak pernah kehilangan identitas Sunda

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:00 WIB

42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB