Jakarta-Sukabumi 2,5 Jam, Segini Tarif Tol Bocimi Seksi 2 yang Harus Dibayar

- Redaksi

Jumat, 11 Agustus 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerbang Tol Bocimi Seksi 2. l Istimewa

Gerbang Tol Bocimi Seksi 2. l Istimewa

sukabumiheadline.com l Jalan Tol Bogor – Ciawi – Sukabumi (Bocimi) Seksi 2 Cigombong – Parungkuda sepanjang 11,9 kilometer, telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat (4/9/2023). Kini perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi menjadi hanya 2,5 jam dari sebelumnya 5 – 6 jam.

Kehadiran jalan tol ini akan memudahkan akses para wisatawan menuju kawasan pariwisata di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, seperti Palabuhanratu, Geopark Ciletuh, Ujunggenteng dan Gunung Gede.

“Sebelumnya dari Jakarta kalau ke Sukabumi memakan waktu sampai 5 jam, kadang bisa sampai 6 jam sekarang adanya tol ini hanya kurang lebih 2,5 jam,” kata Jokowi dalam sambutannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk informasi, jalan tol ini terbagi empat seksi, yakni Seksi 1 Ciawi – Cigombong 15,35 km yang sudah beroperasi sejak Desember 2018 lalu, seksi 2 Cigombong – Cibadak 11,05 km yang telah beroperasi. Sedangkan seksi 3 Cibadak – Sukabumi Barat 13,7 km dan seksi 4 Sukabumi Barat – Sukabumi Timur 13,05 km yang masih dalam tahap persiapan.

Tarif Tol Bocimi Seksi 2

Saat ini tarif tol Cigombong – Parungkuda sejauh 11,05 km masih menunggu keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sehingga masyarakat yang mau mencoba jalan tol ini masih gratis hingga 17 Agustus 2023.

Artinya jika pengguna jalan tol memasuki tol ini menerus dari Gerbang tol Ciawi – Cigombong maka hanya membayar Rp14.000 untuk kendaraan golongan I. Sedangkan jika dari Jakarta Rp21.000 karena ditambah bayar tol Jagorawi.

Mengutip keterangan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) tahun 2021 lalu, masa konsesi proyek ini diberikan selama 45 tahun dengan tarif Rp1.000 /km. Artinya jika panjang tol Cigombong – Cibadak 11,05 km artinya tarif tol yang bakal ditetapkan mencapai Rp11.050.

Sehingga estimasi masyarakat ke Cigombong melalui Gerbang Tol Ciawi harus membayar Rp25.050, sedangkan jika dari Jakarta Rp32.050.

Berita Terkait

Top 5 merek smartphone paling laris di dunia 2026, didominasi produk HP China
Suka belanja di HERO Supermarket? Ternyata pemiliknya mualaf asal Sukabumi
Di Sukabumi Wamentan Alim minta hilirisasi kopi dan kakao dikebut
Profil dan harta Eddy Kusnadi Suriaatmadja, bos SCTV dan Indosiar, paling dermawan se-Asia
Januari-September 2026 penumpang KA Pangrango dari Sukabumi naik 613.678 orang
Menaker luncurkan program Tailor Made Training Batch 2 di Sukabumi
Besok becak listrik Prabowo dibagikan gratis di Sukabumi, cek spesifikasi, fitur dan harganya
Satu di Sukabumi, 65 lokasi Kampung Nelayan Merah Putih dilengkapi cold storage

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Top 5 merek smartphone paling laris di dunia 2026, didominasi produk HP China

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Suka belanja di HERO Supermarket? Ternyata pemiliknya mualaf asal Sukabumi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:30 WIB

Di Sukabumi Wamentan Alim minta hilirisasi kopi dan kakao dikebut

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:37 WIB

Profil dan harta Eddy Kusnadi Suriaatmadja, bos SCTV dan Indosiar, paling dermawan se-Asia

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:30 WIB

Januari-September 2026 penumpang KA Pangrango dari Sukabumi naik 613.678 orang

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB