Kasihan Warga Tegalbuleud Sukabumi, Jalan Rusak Parah dan Jembatan Lapuk

- Redaksi

Senin, 27 September 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jalan rusak di Desa Buniasih, Tegalbuled, Sukabumi. I Istimewa

Jalan rusak di Desa Buniasih, Tegalbuled, Sukabumi. I Istimewa

sukabumiheadline.com – Jalan Kampung Cijambu di Desa Buniasih, Kecamatan Tegalbuled, Kabupaten Sukabumi, rusak parah.

Jalan tersebut merupakan akses yang menghubungkan dua Desa yaitu Buniasih dan Sumberjaya. Bayu Shutisna (22), warga setempat mengeluhkan jalan yang rusak ini.

“Sangat mengganggu perekonomian kalau mau ke mana-mana, apalagi jembatannya juga sudah mau roboh,” ucap Bayu kepada sukabumiheadline.com, Senin (27/9/2021).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bayu mengatakan, jalan tersebut sudah lebih dari 20 tahun belum diperbaiki. Meskipun demikian, pernah beberapa kali disurvei.

“Jalan ini sudah 20 tahun lebih belum diperbaiki, tapi kalau sekadar disurvei sudah beberapa kali. Akhirnya warga memutuskan untuk memperbaikinya dengan cara gotong royong,” ungkap Bayu.

Ditambahkannya, beberapa hari lalu kondisi jalan tersebut pernah viral di media sosial Facebook. Setelah itu, disusul kemudian dengan survei lagi.

“Setelah viral, disurvei lagi, tapi tidak tahu kapan mau diperbaiki, atau mungkin hanya disurvei saja,” kesal dia.

Bayu dan warga sudah pernah mengajukan perbaikan jalan tersebut dan ia berharap agar jalan tersebut segera di perbaiki untuk membantu memperlancar perekonomian warga.

“Sudah pernah mengajukan, paling sering pengajuan perbaikan jembatan karena jembatannya sudah rapuh, warga mah sudah kesal, hayoh kana janji wae saurna,” pungkas Bayu.

Berita Terkait

Dua anak di bawah umur asal Sukabumi kerja prostitusi online, 5 buku tamu disita polisi
Selundupkan 32 ribu benih lobster ilegal, warga Sukabumi ditangkap di Banten
Pria Sukabumi paksa gadis 19 tahun layani 300 lelaki hidung belang, Rp50 ribu per transaksi
Awal mula terungkapnya tanah aset Desa Sukamulya Sukabumi dikuasai swasta
Perhutani KPH Sukabumi gandeng Damkar patroli bersama
Warga Sukamulya Sukabumi protes tanah aset desa dipindahtangankan ke swasta
Ahad, 18 Oktober: Event hari ini di Sukabumi, JNS Fest hingga Festival Kuliner Bangkok
Germo asal Sukabumi paksa wanita Sumsel layani 10 pria sehari, fee Rp50 ribu

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:11 WIB

Dua anak di bawah umur asal Sukabumi kerja prostitusi online, 5 buku tamu disita polisi

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Selundupkan 32 ribu benih lobster ilegal, warga Sukabumi ditangkap di Banten

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 04:18 WIB

Pria Sukabumi paksa gadis 19 tahun layani 300 lelaki hidung belang, Rp50 ribu per transaksi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:01 WIB

Awal mula terungkapnya tanah aset Desa Sukamulya Sukabumi dikuasai swasta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Perhutani KPH Sukabumi gandeng Damkar patroli bersama

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB