sukabumiheadline.com – Mungkin sudah banyak yang mengetahui keberadaan makam tokoh spiritual berpengaruh di Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bahkan, makamnya kerap diziarahi oleh berbagai kelompok masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara dan dunia.
Di makam tersebut bersemayam seorang ulama dan tokoh sejarah yang harum namanya, Eyang Santri. Beliau adalah sosok yang dianggap memiliki kekuatan daya pikir dan daya batin yang linuwih atau memiliki keistimewaan.
Makam Eyang Santri berada di kaki Gunung Salak di ketinggian 800 mdpl, tepatnya di kawasan Padepokan Girijaya, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, atau sekira 14 kilometer dari Cicurug.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lantas, siapakah Eyang Santri?
Rekomendasi Redaksi: Pujian antropolog Belanda Martin Van Bruinessen terhadap pemikiran ulama asal Sukabumi KH Ahmad Sanusi
Cucu Pangeran Sambernyowo
Orang sekitar Cidahu dan banyak orang lainnya menyebutnya dengan nama Eyang Santri alias Eyang Girijaya alias Pangeran Muhammad Santri. Sebenarnya nama aslinya adalah Pangeran Djojokusumo.
Eyang Santri lahir pada 1770 dan merupakan salah satu kerabat dekat trah Mangkunegaran dan merupakan cucu kandung dari Pangeran Sambernyowo atau Mangkunegoro I. Sedangkan ayahnya bernama Pangeran Prabuamidjojo dan ibunya, Puteri Ayu Trikusumo adalah puteri dari Pangeran Cakraningrat, penguasa wilayah Pamekasan, Madura.
Di masa remajanya Eyang Santri banyak berguru dengan banyak ulama, bahkan ia sampai belajar mengaji dan mendalami ilmu agama di Pasiriyan, Jawa Timur.
Rekomendasi Redaksi: Profil Martin van Bruinessen, antropolog Belanda peneliti kitab-kitab karya ulama asal Sukabumi, KH Ahmad Sanusi

Keliling pulau Jawa dan mendapat wangsit
Eyang Santri pada masa mudanya sangat tertarik dengan cerita-cerita tentang keindahan Pulau Jawa. Akhirnya, Pangeran Djojokusumo memutuskan untuk berkeliling Jawa untuk menikmati keindahannya.
Petualangannya itu ia catat dalam kumpulan tulisan berjudul Sebuah Pulau yang Teramat Indah. Selama perjalanan, ia mengunjungi seluruh makam-makam keramat, ulama dan ahli kebatinan dan ‘ngangsu ilmu’ (belajar).
Pada 1823 Pakubuwono V wafat, Pangeran Djojokusumo yang sedang berada di Sumedang dipanggil pulang ke Solo untuk menjadi penasihat Pakubuwono VI. Sesampainya di Solo ia merasakan akan ada perubahan besar di bumi Jawa. Ia akhirnya bertapa sebentar di sebuah danau bernama Cengklik.
Di danau itu ia mendapatkan wangsit bahwa ‘Jawa akan masuk ke pinggir jurangnya, tapi kelak Jawa akan bersinar cerah secerah matahari pagi’.
Masa suram inilah yang membuat Pangeran Djojokusumo akhirnya sadar bahwa perang akan diiringi dengan kelaparan hebat. ‘Perang besar’ yang dimaksud Pangeran Djojokusumo kemungkinan besar adalah Perang Diponegoro.
Rekomendasi Redaksi: Masa muda dan silsilah keluarga ulama asal Sukabumi keturunan menak Sunda, KH Dadun Abdulqohhar
Mendukung Pangeran Diponegoro
Di masa mudanya, Eyang Santri atau Pangeran Djojokusumo bersahabat dengan Pangeran Jungut Mandurareja yang merupkan paman dari Sultan Solo, Pakubuwono VI. Saat terjadi pergolakan menolak patok tanah Belanda yang dimotori oleh Pangeran Diponegoro, Pangeran Djojokusomo dan Pangeran Jungut Mandurareja mendukung Pangeran Diponegoro.
“Akan ada banjir darah di Jawa, dan ada gelombang kelaparan tapi setelah itu Jawa akan berjaya, akan menjadi seperti Majapahit. Aku mendukung dimas Pangeran Diponegoro sebagai pemimpinku untuk melawan Belanda.”
“Tapi kita harus bermain strategis. Kalau keponakanku Pakubuwono VI ketahuan mendukung Pangeran Diponegoro maka Solo akan dihantam habis, dibikin crah, dibuat huru hara, itu malah memperlemah barisan perlawanan. Ada baiknya perjanjian dukungan dengan Pangeran Diponegoro dibuat diam-diam,” kata Pangeran Djojokusumo.
Pangeran Djojokusomo dan Pangeran Jungut Mandurareja pun melobi Pakubuwono VI untuk mendukung Pangeran Diponegoro. Walhasil, singkat cerita, Pakubuwono VI pun mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro.
Rekomendasi Redaksi: Diabadikan Jadi Nama RS di Kota Sukabumi, Pemikiran dan Perjalanan Hidup R. Syamsudin

Menyepi ke Cidahu
Saat Perang Diponegoro berakhir dengan kemenangan Belanda karena akal licik mereka, banyak tokoh yang dicurigai terlibat menjadi incaran Belanda. Bahkan, Pakubuwono VI ditangkap karena terbongkar rahasianya oleh Residen Semarang yang menemukan banyak data dukungan Solo kepada Yogya (Pangeran Diponegoro).
Pangeran Djojokusumo juga dicurigai terlibat oleh Belanda. Ia memilih untuk melarikan diri ke Bagelen lalu ke Cilacap. Di sini pun ia dikepung banyak pendukung Belanda.
Dengan menyamar sebagai petani, ia pergi ke Sukabumi, tepatnya ke desa Cidahu. Di sana ia menyamar sebagai petani cabe dan petani sawah, ia juga mengajar mengaji penduduk sana. Sejak itu ia dikenal dengan nama Eyang Santri.
Rekomendasi Redaksi: Profil dan Sejarah PUI, Didirikan Dua Pejuang Kemerdekaan asal Sukabumi
Dikunjungi banyak tokoh nasional dan dunia
Setelah Perang Diponegoro lama usai, di tahun 1850, pernah datang beberapa utusan dari Solo yang meminta Eyang Santri pulang ke Solo, tapi ia menolak dan memilih menjadi petani saja di Cidahu. Usia Eyang Santri mencapai 159 tahun saat meninggal di sekitar tahun 1929.
Ia menjadi saksi berlangsungnya kekalahan Jawa dan bangkitnya rasa kebangsaan. Ia dikunjungi banyak ahli kebatinan dan para pemimpin politik.
Di tahun 1880-an ia dikunjungi oleh Wahidin Sudirohusodo yang sedang berkeliling Jawa untuk menyadarkan fungsi pendidikan bagi kaum pribumi dalam menghadapi jaman modern. Dirk van Hinloopen Labberton, ahli teosofi Belanda yang belajar filosofi kebatinan Jawa juga kerap berkunjung ke Eyang Santri.
Di awal tahun 1900-an HOS Tjokroaminoto (pendiri Serikat Islam) juga mampir ke rumah Eyang Santri mengajak muridnya Sukarno. Bung Karno datang menemui Eyang Santri dan digembleng kekuatan batin untuk melawan Belanda.
Ahli kebatinan Jawa sekaligus kakak Raden Ajeng Kartini, Raden Mas Panji Sosrokartono juga datang berguru ke Eyang Santri. Tokoh lainnya yang pernah mengunjungi Eyang Santri adalah Ki Hajar Dewantoro, Muhammad Yamin, sampai tokoh spiritual dan filsuf India seperti Rabindranath Tagore.
Tulisan dikutip dari: Eyang Santri diziarahi tokoh nasional dan dunia, ini 5 fakta sesepuh Cidahu Sukabumi