24.5 C
Sukabumi
Senin, Juli 22, 2024

5 kecamatan terluas dan tersempit, persentase terhadap luas Kabupaten Sukabumi

sukabumiheadline.com - Kabupaten Sukabumi merupakan daerah terluas...

Piala Presiden 2024 hari ini, Persib vs Borneo FC, kans debut pemain anyar Maung Bandung

sukabumiheadline.com - Punggawa anyar Maung Bandung berpotensi...

Diabadikan Jadi Nama RS di Kota Sukabumi, Pemikiran dan Perjalanan Hidup R. Syamsudin

LIPSUSDiabadikan Jadi Nama RS di Kota Sukabumi, Pemikiran dan Perjalanan Hidup R. Syamsudin

sukabumiheadline.com l Warga Sukabumi tentunya sudah tak asing dengan nama Rumah Sakit (RS) Bunut, atau nama populer untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R. Syamsudin, SH. di Kota Sukabumi, Jawa Barat.

R. Syamsudin atau Raden Sjamsoeddin dalam ejaan lama adalah tokoh pejuang dari Kota Mochi. Namun sayangnya, banyak warga Sukabumi yang tidak mengenal layar belakang keluarga, pendidikan dan pemikiran pemikirannya yang bisa dijadikan tauladan bagi generasi saat ini.

Berikut adalah 5 fakta R. Syamsudin, SH., dirangkum sukabumiheadline.com dari berbagai sumber.

1. Lahir di Sukabumi dan Meninggal Dunia di Usia Muda

Raden Sjamsoeddin atau R. Syamsudin lahir di Sukabumi pada 1 Januari 1908. Ia meninggal dunia di Jakarta pada 15 Oktober 1950 dalam usia yang relatif masih muda, yakni 42 tahun.

Jenazah R. Syamsudin dishalatkan di Masjid Luhur Sukabumi dan dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ciandam, Kota Sukabumi.

2. Lahir dari Keluar Ulama

Ia merupakan Putra dari Hoofd Penghulu Sukabumi, R.H. Ahmad Juwaeni, seorang tokoh ulama Pakauman Sukabumi, yang senantiasa di kritisi oleh K.H. Ahmad Sanusi sekaitan dengan tugas-tugas ulama pakauman, di antaranya pengumpul Zakat, Infak, Sedekah (ZIS), dan lain-lain yang dianggap oleh Ahmad Sanusi tidak sesuai/menyimpang dari nasihat Islam yang sebenarnya.

3. Latar Belakang Pendidikan

R. Syamsudin mengenyam pendidikan di Sekolah Agama di Sukabumi tahun 1915. Kemudian melanjutkan ke ELS (Europesche Lagere) di Sukabumi tahun 1926, lalu AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung tahun 1929, dan RH (Rechtoge School).

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden Anggota Hukum di Belanda, Lulus dengan Predikat Cum Laude pada tanggal 4 Oktober 1935.

4. Jabatan yang Pernah Diemban R. Syamsuddin 

R. Syamsudin pernah menjabat Wali Kota Sukabumi pertama selama era pendudukan Jepang dan di awal-awal kemerdekaan.

Ia juga tercatat sempat menjadi anggota Badan Penyelenggara Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Menteri Penerangan dan juga Wakil Perdana Menteri I pada Kabinet Amir Sjarifuddin II (masa bakti 11 November 1947-29 Januari 1948).

Berikut daftar lengkap jabatan yang pernah diemban R. Syamsudin:

  1. Tahun 1937 menjadi Volientair di Algemeene Secretaris Bogor.
  2. Tahun 1938 menjadi Comerse Redaktur di Deptemen Urusan Ekonomi Jakarta
  3. Tahun 1940 menjadi Loco Burgemeester (Wakil Walikota) Bogor
  4. Tanggal 20 Januari 1941 diangkatkan menjadi Anggota Volksraad mengganti kedudukan Almarhum M.H. Thamrin
  5. Tahun 1942 menjadi Ketua Muda Partai Indonesia Raya (Parindea)
  6. Tanggal 18 April 1942 menjadi (Ketua) Gerakan 3 A (San A Undo Tyuoo Honburtyo atau Jepang Cahaya Indonesia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Indonesia). Dalam rangka mempercepat tugas-tugasnya sebagai Ketua 3A, ia menerbitkan Surat Kabar yang bernama Asia Raya (Asia Raya,12 Mei 1942)
  7. Tanggal 1 Mei 1943 menjadi Wakil Ketua dari Kantor Luhur Pusat Norma budaya istiadat (Keimin Bunka Shidosho Tyuoo Honbu Zityo) di Jakarta
  8. Tahun 1943 diangkatkan oleh Ir. Sukarno menjadi Kepala Anggota Keselamatan di Kantor Luhur Putera di Jakarta
  9. Tanggal 4 Oktober 1943 menjadi menjadi anggota Cuo Sangi In oleh Saiko Sikikan di Jakarta
  10. Tanggal 1 Maret 1944 diangkatkan menjadi Kaigikatyo dari Kantor Luhur Jawa Hookookai
  11. Tanggal 2 November 1944 menjadi Walikota (Shicho) Kota Sukabumi (Sukabumi Shi)
  12. Tanggal 28 Mei 1945 menjadi anggota BPUPKI
  13. Tanggal 1 Oktober 1945 dikukuhkan menjadi Walikota Sukabumi oleh BKR Sukabumi pimpinan K.H. Acun Basyuni dan KNID Kota Praja Sukabumi yang diketuai oleh dr. Sisa dari pembakaran Hanifah
  14. Selang tahun 1945 –1946 menjabat Komandan Hizbullah yang mempunyai kedudukan di Pondok Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi
  15. Tahun 1947 ikut Hijrah ke Yogyakarta beserta pejabat pemerintah RI lainnya sebagai konsekwensi dari kontrak Renville selang Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda
  16. Tanggal 11 November 1947 s.d. 29 Januari 1948 menjadi Wakil Perdana Menteri 1 mewakili Masyumi (pada Kabinet Amir Sjarifuddin II)
  17. Tanggal 4 Agustus 1949 s.d. 20 Desember 1949 menjadi Menteri Penerangan mewakili Masyumi (pada Kabinet Moh, Hatta II ) berdasarkan Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1949
  18. Tanggal 23 Januari 1950 s.d. 15 Oktober 1950 (sampai dengan meninggal dunia), Era Kabinet Muhammad Natsir jilid 2 ia diangkatkan menjadi Duta Luhur Luar Biasa berkuasa penuh pada Pemerintah Republik Pakistan berdasarkan Keputusan Presiden RIS Nomor 75 Tahun 1950.

Baca Juga:

Pemerintah Beri Anugerah 5 Pahlawan Nasional, Salah Satunya Ulama asal Sukabumi

Gelar Pahlawan Ulama asal Sukabumi Diterima Cucu Perempuan, Profil Neni Fauziah

Keturunan Rasulullah SAW, 5 Fakta KH Ahmad Sanusi Pahlawan Nasional asal Sukabumi

5. Pernah Nyantri ke KH. Ahmad Sanusi

Meskipun, disebutkan di awal, KH. Ahmad Sanusi kerap mengkritik ayahandanya, namun R. Syamsudin sangat tertarik dengan pemikiran KH. Ahmad Sanusi.

Belakangnya, R. Syamsudin memutuskan untuk menjadi murid dan pengikut sosok yang kini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional itu.

Bahkan, R. Syamsudin kemudian menjadi anggota dan pengurus Al-Ittihadiyatul Islamiyyah yang bertukar nama menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI) Tahun 1944.

Untuk mengenang jasa-jasanya Pemerintah Kota Sukabumi mengabadikan namanya pada nama RSUD R. Syamsudin, SH di Jl. Rumah Sakit No.1, Kelurahan/Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Kemudian, atas saran Ir. Sukarno namanya diabadikan pula menjadi nama jalan di depan Sekretariat Daerah Pemerintah Kota Sukabumi.

Kemudian, Presiden Republik Indonesia ke-2, H.M. Suharto menganugerahkan Bintang Maha Putra Utama pada tanggal 12 Agustus 1996 di Jakarta.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer