Marc Klok Kecewa, FIFA Larang Bela Timnas Indonesia

- Redaksi

Kamis, 11 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Marc Klok. l celebesmedia.id

Marc Klok. l celebesmedia.id

SUKABUMIHEADLINES.com – Pemain naturalisasi asal Belanda Marc Klok sebenarnya telah menyandang status Warga Negara Indonesia (WNI) sejak 12 November 2020 lalu. Ia kemudian dipanggil oleh Shin Tae-yong ke Timnas Indonesia pada Mei 2021 untuk memperkuat Timnas Indonesia pada laga lanjutan putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Namun, Klok memutuskan mundur dari Timnas Indonesia karena harus menemani sang istri yang melahirkan. Belakangan diketahui jika Klok terhalang masalah administrasi untuk bisa membela Timnas Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri, pada Minggu (7/11/2021).

Dikutip dari bolasport.com, Indra mengungkap bahwa Klok tidak bisa menunjukkan dokumen yang menyatakan dirinya punya darah keturunan Indonesia. Dengan demikian, FIFA menyatakan bahwa Klok belum berhak untuk berpindah asosiasi dari yang sebelumnya Belanda menjadi Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gelandang Persib Bandung itupun mengungkapkan kekecewaannya dengan menuliskan surat terbuka yang ia unggah melalui akun Instagram pribadinya, Senin (8/11/2021).

Beberapa hari lalu, saya menerima kabar bahwa saya belum bisa membela Timnas Garuda pada tahun ini. Dari hati yang paling dalam, saya cukup kecewa, karena sangat menantikan momen bermain di turnamen paling bergengsi Asia Tenggara akhir tahun ini.

Tidak sedikit juga usaha yang telah dilakukan agar harapan dan mimpi saya secepatnya terwujud, semua dokumen pun telah siap, tapi sayangnya keputusan mengatakan masih sebaliknya. Namun kabar baiknya adalah pada April 2022 mendatang, saya sudah bisa membela Timnas Indonesia, dan itu hanya 6 BULAN saja untuk menunggu momennya.

Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu proses ini. Terima kasih juga kepada teman-teman pendukung Garuda yang telah mendukung. Semoga saya bisa segera melihat diri saya kembali berseragam Garuda di dada.

Saya akan terus bersabar menantikan kesempatan tersebut pada tahun depan, sambil memanfaatkan waktu untuk membuktikan bahwa saya layak mendapatkan tempat.

Sampai saatnya nanti telah tiba, saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan membela Indonesia. Garuda di Dadaku!

Berita Terkait

Analisis laga Persib vs Melbourne Victory FC di ACL Two besok malam
Profil Melbourne Victory FC, klub Australia bakal lawan Persib di ACL Two 2026/2027
Garudayaksa FC vs Persib malam ini, analisis pertandingan, statistik dan performa
Besok Garudayaksa FC vs Persib, Igor Tolic putar otak
Pangeran Biru menang tipis, analisis laga Madura United vs Persib malam ini
Lama dibekap cedera, Gakuto Notsuda tak sabar debut laga Madura United vs Persib
Footy Rankings – AFC Club Competitions Ranking prediksi Persib four-peat juara Super League
IWL 2026/2027, Pelatih Timnas Indonesia ingin putrinya bermain Liga Putri

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:21 WIB

Analisis laga Persib vs Melbourne Victory FC di ACL Two besok malam

Senin, 26 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Profil Melbourne Victory FC, klub Australia bakal lawan Persib di ACL Two 2026/2027

Minggu, 25 Oktober 2026 - 13:10 WIB

Garudayaksa FC vs Persib malam ini, analisis pertandingan, statistik dan performa

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:19 WIB

Besok Garudayaksa FC vs Persib, Igor Tolic putar otak

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:16 WIB

Pangeran Biru menang tipis, analisis laga Madura United vs Persib malam ini

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB