Mengenal asal-usul dan makna kata “merdeka”

- Redaksi

Minggu, 17 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Merdeka, mengibarkan bendera merah putih - Ist

Merdeka, mengibarkan bendera merah putih - Ist

sukabumiheadline.com – Merdeka berasal dari bahasa Sanskerta: महर्द्धिक dibaca “maharddhika” yang berarti kaya, sejahtera dan kuat. Kata ini juga mengandung makna bebas dari segala belenggu (kekangan), aturan, dan kekuasaan dari pihak tertentu.

Dalam bahasa Melayu dan Indonesia, “Merdeka” bermakna “bebas” atau “tidak bergantung” dan “independen”. Di seantero Nusantara, istilah ini juga berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan) berdiri sendiri yang dibebaskan.

Kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai pemegang kedaulatan politik sebelum Merdeka. Atas nama Bangsa menyatakan kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing, dan menjadikan bangsa memiliki sebuah negara yang Merdeka dengan karakter dan spirit bangsa sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lukisan yang menggambarkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan banyak kata seruan “Merdeka!”

Kata “merdeka” juga digunakan oleh bangsa Jiran, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina dan Singapura. Bahkan, Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman ketika memproklamasikan kemerdekaan Malaysia pada 31 Agustus 1957, juga meneriakkan “Merdeka!” sebanyak tujuh kali.

Seruan itu terus dipekikkan secara menonjol pada setiap perayaan Hari Merdeka Malaysia.

Selain itu, dalam bahasa Belanda, juga dikenal istilah mardijkers, yakni kata yang diturunkan secara tidak tepat dari versi bahasa Portugis dari kata asli dalam bahasa Sanskerta maharddhika. Kata ini digunakan oleh penjajah Portugis dan Belanda untuk menunjuk mantan budak dari India di Hindia Belanda, yang menjadi asal kata merdeka dalam bahasa Melayu di kemudian hari.

Baca Juga :  Tetap Optimis Meski Kondisi Sulit, Warga Parungkuda Sukabumi Hias Kampung Sambut HUT RI

Mardijker berarti budak-budak yang sebelumnya beragama Katolik yang dimerdekakan oleh Belanda jika mereka memeluk Kristen Protestan denominasi Gereja Reformasi Belanda.

Istilah ini tidak begitu penting di Indonesia selama zaman pergerakan anti-penjajahan dan pro-kemerdekaan di Indonesia, Malaya dan Singapura dan Malaysia.

Kata ini menjadi seruan penyemangat mereka yang menghendaki kebebasan dari kekuasaan Belanda dan Jepang. Di Mindanao, orang-orang Suku Moro di Filipina menggunakan kata maradeka dalam makna yang sama dengan merdeka dan kelompok kemerdekaan di sana dinamakan Maradeka.

Dalam bahasa Tagalog, bahasa resmi Filipina, terdapat kata maharlika yang memiliki akar kata Sanskerta yang sama dengan merdeka, dan memiliki makna manusia yang bebas.

Pada 1 September disebutkan oleh Presiden Sukarno dalam pidato singkatnya: “Sejak hari ini kita akan teriak dengan lantang, “Merdeka!” Lanjutkan seruan perang yang nyaring itu, saat jiwa berteriak keras untuk kebebasan! Jiwa kebebasan, jiwa perjuangan dan semangat kerja! UNTUK BERJUANG DAN BEKERJA! Buktikan!”

“Merdeka” juga digunakan di Indonesia Raya, lagu kebangsaan Indonesia: “Indonesia Raya, merdeka, merdeka! Tanahku; negeriku yang kucintai. Indonesia Raya, merdeka, merdeka! Hiduplah Indonesia Raya!
(“Indonesia Agung, merdeka, merdeka! Tanahku, negeriku yang kucintai. Indonesia Agung, merdeka! Hidup Indonesia Agung!”)

Baca Juga :  Setop Kendaraan dan Jual Paksa Bendera, Dua Pria di Nyalindung Sukabumi Ditangkap

Istilah merdeka digunakan di Indonesia dengan cara yang sama untuk menunjukkan kebebasan dari pemerintah kolonial Belanda selama perjuangan kemerdekaan tahun 1945.

Didalam teks proklamasi menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bangsa menyiratkan kesatuan psikologis sosiologis yang menjadi dasar bagi berdirinya kesatuan politik dengan batas-batas geografis yang disebut negara.

Di malaysia, di mana Malaya, Kalimantan Utara, Sarawak dan Singapura bergabung pada tahun 1963, istilah tersebut masih tetap relevan di masa sekarang. Hal ini dapat dilihat pada hari libur nasional Malaysia yaitu Hari Merdeka, memeringati Kemerdekaan Malaya pada 31 Agustus 1957.

Selanjutnya, Dataran Merdeka di mana upacara pertama pengibaran bendera Malaya diadakan setelah kemerdekaan. Borneo Utara dan Sarawak di Borneo Utara secara resmi bergabung untuk membentuk Malaysia pada 31 Agustus 1963 tetapi karena tantangan dari Indonesia dan Filifina dan untuk memberikan waktu kepada tim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk melakukan referendum di Borneo Utara dan Sarawak mengenai partisipasi mereka dalam federasi baru.

Tanggal tersebut diundur menjadi 16 September, yang kini diperingati sebagai Hari Malaysia.

Berita Terkait

Sepak terjang dan profil Suster Ika: Biarawati amankan 13 wanita Jawa Barat dari eksploitasi seksual
Hak dan kewajiban ibu tiri menurut Islam, hikmah dari tragedi Nizam asal Sukabumi
Kathellen Sousa, rekan Cristiano Ronaldo mualaf jelang Ramadhan
1 Ramadhan: PERSIS gunakan Imkanur Rukyat, membanding dengan NU dan Muhammadiyah
14 Februari dan Hari Valentine menurut media AS: Ditetapkan gereja, Paus Gelasius I
28 stasiun radio di Sukabumi dan sejarah 13 Februari Hari Radio Sedunia
Sampai kapan orang yang baru memeluk Islam menyandang sebutan mualaf?
Harimau Sunda dan Kontinental: Mengapa hanya dua subspesies maung di dunia?

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 23:55 WIB

Sepak terjang dan profil Suster Ika: Biarawati amankan 13 wanita Jawa Barat dari eksploitasi seksual

Senin, 23 Februari 2026 - 00:57 WIB

Hak dan kewajiban ibu tiri menurut Islam, hikmah dari tragedi Nizam asal Sukabumi

Jumat, 20 Februari 2026 - 02:04 WIB

Kathellen Sousa, rekan Cristiano Ronaldo mualaf jelang Ramadhan

Kamis, 19 Februari 2026 - 04:21 WIB

1 Ramadhan: PERSIS gunakan Imkanur Rukyat, membanding dengan NU dan Muhammadiyah

Sabtu, 14 Februari 2026 - 04:00 WIB

14 Februari dan Hari Valentine menurut media AS: Ditetapkan gereja, Paus Gelasius I

Berita Terbaru

Nasional

BGN: Sekolah bisa tolak Program MBG, kami tidak memaksa

Jumat, 27 Feb 2026 - 19:30 WIB

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump - Ilustrasi sukabumiheadlie.com

Nasional

MUI: Perjanjian dagang RI-AS langgar UU

Jumat, 27 Feb 2026 - 13:00 WIB


Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/sukaheadline/htdocs/sukabumiheadline.com/wp-includes/functions.php on line 6131