Mengenang tragedi Sukabumi 1969, laga Putri Priangan vs Malaysia

- Redaksi

Selasa, 22 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Putri Priangan jelang laga vs Penang, Malaysia di Sukabumi - Pikiran Rakyat

Tim Putri Priangan jelang laga vs Penang, Malaysia di Sukabumi - Pikiran Rakyat

sukabumiheadline.com – Di tengah desakan kembali bergulirnya kompetisi sepak bola wanita yang disuarakan banyak pihak, termasuk pesepakbola putri asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Hanipa Halimatusyadiah Suandi, ternyata puluhan tahun silam, 1979, liga Sepak bola wanita atau Galanita pernah mencapai masa keemasannya.

Pada 2022 lalu, tangisan Hanipa pecah di kamar mes Persis Women, di kereta yang membawanya dari Surakarta ke Jakarta, dan di rumahnya di Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Ia tak percaya harus berpisah dengan klub tempatnya bernaung selama lebih dari setahun sejak Mei 2022.

Hanipa Halimatusyadiah Suandi. l Instagram
Hanipa Halimatusyadiah Suandi – Instagram

Perpisahan Hanipa dengan Persis karena liga putri urung digelar. Baca selengkapnya: Tangis Hanipa Halimatusyadiah Suandi, pesepakbola Timnas Putri asal Sukabumi

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Kalau memang kendalanya dana, aku mau dan sudah mengusulkan negosiasi gaji lagi. Penurunan gaji pun aku bersedia, asalkan tim ini enggak sampai bubar,” kata Hanipa, beberapa waktu lalu.

Sementara di sisi lain, PSSI sebagai induk organisasi olah raga sepak bola di Tanah Air, saat ini dituding hanya sibuk dengan Timnas Indonesia Putra.

Berawal dari Tatar Pasundan 

Informasi dihimpun sukabumiheadline.com, sepak bola wanita Indonesia dimulai sebelum struktur kepengurusan formal terbentuk. Putri Priangan merupakan kesebelasan sepak bola wanita pertama di Indonesia, didirikan pada 5 Februari 1969 di Tatar Pasundan, tepatnya di Bandung.

Putri Priangan didirikan oleh Wiwi Hadhi Kusdarti, mantan pesepak bola wanita yang memiliki naluri sepak bola dari ayahnya, Kadarisman, pesepak bola era penjajahan Belanda.

Berita Terkait: Hanipa, pesepakbola Timnas Putri asal Sukabumi ini minta bantuan Dedi Mulyadi

Wiwi prihatin karena di Indonesia belum ada tim sepak bola wanita, berbeda dengan beberapa negara lain yang sudah mengembangkan sepak bola putri. Berkat inisiatifnya, Putri Priangan terbentuk dengan dukungan tokoh-tokoh lokal dan Persib Bandung.

Baca Juga: Ulasan pertandingan, pemain dan pelatih Timnas “Indonesia” di Piala Dunia 1938: Kurcaci vs Hungaria

Tim sepak bola putri Sukabumi

Pada 1969, Putri Priangan mewakili Indonesia dalam turnamen internasional Pesta Sukan di Singapura, yang menjadi salah satu pengalaman internasional pertama bagi sepak bola wanita Indonesia.

Sebagai tim sepak bola wanita yang paling berpengalaman, Putri Priangan juga sering kali bermain mewakili Indonesia di ajang internasional. Mace ikut bermain melawan tim putri dari Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan negara-negara tetangga lainnya. Pertandingan internasional itu digelar di dalam dan luar negeri.

Selanjutnya, pada tahun yang sama, tim sepak bola wanita asal Penang, Malaysia, tiba di Bandara Kemayoran. Kedatangan mereka untuk memenuhi undangan dari kontingen PON Jawa Barat untuk menghadapi Putri Priangan di Bandung, Cirebon, dan Sukabumi.

“Suatu kemajuan olah raga di kalangan wanita sesuai dengan tuntutan emansipasinya telah terbukti,” tutur laporan video dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), pada 11 April 1969.

Salah satunya pertandingan internasional itu digelar di Sukabumi, berlangsung pada 17 April 1969. Ketika itu, tim asal Bandung berhadapan dengan tim asal Penang, Malaysia di Stadion Danalaga.

Namun, pertandingan sepak bola putri pertama di Sukabumi itu menjadi tragedi memilukan, karena penonton yang memadati stadion mengakibatkan tembok stadion roboh.

Insiden robohnya sisi Utara stadion tersebut mengakibatkan seorang penonton tewas. Sementara itu, korban luka mencapai 54 orang lainnya terluka parah dalam peristiwa itu.

Sayangnya lagi, skor akhir pertandingan antara tim sepak bola wanita Putri Priangan vs Penang berakhir untuk kemenangan tim asal Malaysia tersebut dengan skor 0-5.

Namun, pertandingan ini menjadi bagian dari sejarah perkembangan sepak bola wanita di Indonesia, khususnya bagi tim Putri Priangan yang sempat menjadi sorotan dan diundang untuk bertanding di luar negeri.

Berita Terkait

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia
27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage
24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen
23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas
HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?
Kapolri minta MUI haramkan vape
18 Oktober: Hari Menopause Sedunia, kenali gejala, penyebab, obat dan pencegahan
17 Oktober: Jumlah penduduk miskin Sukabumi di Hari Pemberantasan Kemiskinan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:44 WIB

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:58 WIB

27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 03:57 WIB

24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:29 WIB

23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:23 WIB

HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB