Menikmati Indah Pantai Palabuhanratu dari Puncak Habibie Cisolok Sukabumi

- Redaksi

Jumat, 28 Januari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana Puncak Habibie di Desa Pasirbaru, Cisolok, Sukabumi. l Istimewa

Suasana Puncak Habibie di Desa Pasirbaru, Cisolok, Sukabumi. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINE.com l CISOLOK – Bagi para wisatawan yang pernah berkunjung kawasan wisata Pantai Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pasti mengenal Puncak Habibie.

Puncak Habibie berada di Desa Pasir Baru, Kecamatan Cisolok, letaknya persis di pinggir ruas Jalan Nasional penghubung Kabupaten Sukabumi dengan Provinsi Banten.

Sejatinya Puncak Habibie bukanlah tempat wisata, tapi hampir setiap hari selalu ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun luar Sukabumi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Puncak Habibie, wisatawan yang singgah akan melihat indahnya pemandangan hamparan perbukitan dan gunung, serta Teluk Palabuhanratu yang memanjakan mata.

“Pokoknya di sini kita bisa melihat seluruh kota Palabuhanratu dari ketinggian. Melihat pantai dan laut, dan perbukitan,” ujar Ruslan (36) warga Pandeglang, Banten kepada sukabumiheadline.com saat berkunjung ke Puncak Habibie, Ahad (23/1/2022) lalu.

IMG 20221014 060929
Suasana malam di Puncak Habibie di Desa Pasirbaru, Cisolok, Sukabumi. l Istimewa

Dengan pemandangan alam menakjubkan, tidak heran setiap wisatawan yang datang selalu mengabadikan momennya dengan berswafoto.

Bagi Anda yang berencana mengunjungi Puncak Habibie, dari pusat Kota Palabuhanratu, Anda tinggal melanjutkan perjalanan menuju ke arah barat, menyusuri Jalan Nasional hingga Kecamatan Cisolok. Jadi Anda tidak perlu khawatir akan tersesat karena lokasinya persis di tepi jalan.

“Dari Palabuhanratu sampai kesini kira kira 20 sampai 30 menit waktu yang di butuhkan. Untuk jalan, kondisinya sudah bagus,” ungkap Jaka Suharman (42) warga Pasir Baru.

Tidak hanya itu, wisatawan tidak perlu khawatir akan kesulitan mencari makan, karena di Puncak Habibie terdapat kedai-kedai makanan ringan, jadi pengunjung bisa beristirahat atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil dimanjakan pemandangan alam yang menawan.

Berita Terkait

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya
Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA
42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027
6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia
Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya
Kebijakan tidak naik kelas, Guru di Sukabumi ingatkan Kemendikdasmen harus hati-hati
5 tantangan laki-laki Gen Z 2027: Krisis biaya hidup hingga resesi seks
Ketika perempuan Sukabumi tak pernah kehilangan identitas Sunda

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:00 WIB

42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB