sukabumiheadline.com – Owner dan pendidikan Batik Lokatmala Sukabumi, Fonna Melania, mendukung penyusunan buku ajar dan kurikulum batik untuk jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas/kejuruan (SMA/SMK).
Pernyataan Fonna tersebut menanggapi rencana Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) untuk mendorong regenerasi pembatik melalui peluncuran buku ajar dan kurikulum batik untuk jenjang sekolah dasar hingga menengah.
“Karena batik adalah proses, dan bagian dari pengetahuan dan teknologi tradisional. Sebagai individu yang belajar batik dan kemudian menjadi perajin, tentunya banyak manfaat dari teknologi tradisional batik untuk generasi muda,” katanya kepada sukabumiheadline.com, Ahad (25/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Selain itu, bisa mengaplikasikan berbagai disiplin ilmu ketika berproses batik. Kemudian, motorik juga menjadi lebih terlatih. Namun, imaginasi dan kreativitas bukan hanya wacana, tapi menjadi produk yang selesai,” kata Fonna.
Terkait kendala yang mungkin bakal dihadapi, karena program menyasar pelajar dari tingkat dasar hingga menengah, Fonna menilai semuanya akan berproses.
“Saya sudah sejak lama saya membaca (rencana tersebut – red). Ada kurikulum khusus wajib merajut. Jadi ya berproses, mun keyeng tangtu pareng (kalau sungguh-sungguh pasti berhasil). Kendala mah pasti ada aja,” katanya.
“Saya sudah pernah test case di pelajar tingat SD, dan sempat underestimate, tapi ternyata hasilnya, waw. Generasi keren, hanya kurang stimulan saja di bidang kriya, khususnya batik. Makanya di Lokatmala, balita pun belajar mengenal proses batik,” ungkap Fonna.
Terkait efektivitas memasukan batik ke dalam kurikulum pembelajaran, atau cukup sebatas kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, Fonna mengaku belum bisa menilai karena belum membaca kurikulum dan mempelajari teknis pembelajarannya nanti.
“Soal itu saya belum usa bicara banyak, karena belum membaca kurikulumnya. Kemudian, soal alokasi waktu pembelajarannya, apakah sebulan sekali atau seminggu sekali,” jelas Fonna.
“Tapi yang jelas saya sangat mendukung program tersebut. Dari hasil diskusi dengan beberapa psikolog, saya menilai generasi saat ini tidak memiliki kemewahan untuk berproses. Di sisi lain, banyak orang tua bersedia merogoh kantong cukup mahal hanya agar anaknya mau belajar sesuatu yang sekarang dinilai tradisional,” papar Fonna.
“Kemudian, dengan rencana menggandeng Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah – red) kota dan kabupaten, tentu lebih baik,” pungkasnya.
Jambore Batik Jawa Barat 2026

Sebelumnya, Hal itu disampaikan Ketua Umum YBJB, Sendy Dede Yusuf menyampaikan rencana penyusunan buku ajar dan kurikulum batik saat memberikan sambutan pada acara Jambore YBJB di Hotel Golden Flower, Jalan Sudirman, Kota Bandung, Sabtu (24/10/2026).
Inisiatif ini diharapkan dapat memperkenalkan batik kepada generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi membatik di Jawa Barat.
Sendy menilai regenerasi pembatik masih menjadi tantangan dalam pengembangan batik. Minat generasi muda untuk menekuni keterampilan membatik perlu terus ditingkatkan agar warisan budaya tersebut tetap memiliki penerus.
“Anak-anak muda sekarang semakin jarang yang mau meneruskan kegiatan membatik. Padahal, membatik membutuhkan kesabaran, ketekunan, hati, kecintaan, dan keikhlasan. Prosesnya tidak bisa dilakukan secara terburu-buru,” ujar Sendy.
Menurutnya, penyusunan buku ajar dan kurikulum batik merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat untuk menjawab persoalan regenerasi tersebut. Gagasan itu muncul setelah Yayasan Batik Jawa Barat menyampaikan sejumlah kendala yang dihadapi dalam upaya mengembangkan dan memajukan batik di daerah.
Sendy menuturkan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kemudian mendorong percepatan penyusunan kurikulum dan buku ajar agar dapat diterapkan di sekolah-sekolah, terutama di wilayah yang memiliki tradisi pembatikan.
“Beliau bahkan berpesan agar program tersebut segera dilaksanakan dengan semangat, ‘Gercep, gaspol, tanpa rem’,” kata Sendy.
Melalui program ini, batik diharapkan dapat dikenal sejak dini, bukan sekadar sebagai produk sandang, melainkan juga sebagai bagian dari identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat.
Sendy menjelaskan, sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat memiliki tradisi pembatikan dengan karakteristik masing-masing. Setiap daerah mempunyai motif khas yang memuat filosofi serta mencerminkan kekayaan budaya setempat.
Untuk memperkuat identitas tersebut, YBJB berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) di tingkat kabupaten dan kota dalam mendorong penciptaan motif batik khas daerah. Salah satu upayanya dilakukan melalui kompetisi yang melibatkan masyarakat.
“Untuk menghasilkan karya atau motif khas dari setiap kabupaten dan kota, kami bersama Dekranasda menyelenggarakan lomba yang melibatkan masyarakat. Motif terbaik yang menjadi pemenang kemudian ditetapkan sebagai motif khas daerah tersebut,” tutur Sendy.
Motif yang terpilih selanjutnya digunakan sebagai identitas daerah, termasuk pada pakaian dinas di lingkungan pemerintah kabupaten dan kota. Upaya ini diharapkan memperluas pemanfaatan batik sekaligus membuka kesempatan bagi perajin lokal untuk mengembangkan produk mereka.
Sendy menegaskan, upaya melestarikan batik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya pemerintah pusat dan daerah. Komunitas, pelaku usaha, lembaga pendidikan, serta masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
“Melalui pendidikan, promosi, serta pengembangan motif khas daerah, Yayasan Batik Jawa Barat berharap generasi muda tidak hanya mengenal batik sebagai warisan budaya, tetapi juga tertarik mempelajari proses pembuatannya dan meneruskan keterampilan membatik kepada generasi berikutnya,” ungkap Sendy.









