Ketika perempuan Sukabumi tak pernah kehilangan identitas Sunda

- Redaksi

Minggu, 18 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Happy Salma. l Istimewa

Happy Salma. l Istimewa

sukabumiheadline.com – Sukses dengan Lestari Tradisi 1980-an di Selabintana, Kecamatan/Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Happy Salma menghabiskan puluhan tahun berkarya di film dan layar televisi.

Namun demikian, perempuan kelahiran Cibadak, Kabupaten Sukabumi, itu tidak pernah melupakan akar muasalnya dalam berkarier. Diakuinya, selama 19 tahun berkarier, 80 persen pertunjukannya mengadaptasi karya sastra Indonesia ke bentuk panggung.

Penampilan Happy Salma dan Ariel Tatum saat pentas Sukabumi 1980. l Istimewa
Penampilan Happy Salma dan Ariel Tatum saat pentas Sukabumi 1980 – Titimangsa Foundation

“Mengutip dari kamus bahasa Sanskerta, budaya artinya budi pekerti. Jadi memang itu selalu yang ingin kita perjuangkan, ingin kita sampaikan. Dan kenapa kita perjuangkan?,” katanya dikutip dari Detik.com, Ahad (18/10/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, meskipun bersuamikan pria asal Bali, Happy mengaku ingin terus berjuang untuk melanjutkan apa yang telah disampaikan para leluhur.

“Kita juga mampu, kita ingin berjuang terus-menerus memiliki budi pekerti yang baik, setidaknya melanjutkan apa yang leluhur kita sudah sampaikan dan sudah buat,” ungkap Happy.

Happy Salma
Happy Salma dan Tjokorda Bagus bersama kedua anak mereka – Instagram Happy Salma

Happy Salma mengaku aktif menggelar berbagai pertunjukan seni tradisi, seperti Sudamala: Epilog Calonarang berkolaborasi dengan seniman di Bali dan Taksu Ubud, diboyong ke Mangkunegaran Solo dan Gedung Arsip, Solo.

Di Bandung, Titimangsa yang didirikannya juga pernah menggelar pentas Kembang Bale di NuArt Sculpture Park bersama produser Pradetya Novitri dan sutradara Heliana Sinaga. Melalui seni tradisi, Titimangsa ingin orang Sunda kembali terikat dengan kesenian tradisinya.

Happy Salma
Happy Salma – @happysalma

“Pernah membuat Citraresmi, Pitaloka, dan juga pernah membuat alih wahana dari bukunya Ramadhan K.H. yang berjudul Kuantar ke Gerbang tentang Inggit Garnasih. Jadi cerita-cerita Sunda ini dekat sekali dengan kita,” kata dia.

“Dan alhamdulillah setelah membuat kegiatan Lestari Tradisi 1980-an di Selabintana itu, ternyata api itu, obornya teu pareum (tidak padam) gitu. Jadi apinya ada lagi, semangat lagi. Teman-teman begitu terstimulasi untuk membuat koreo baru dengan inspirasi tahun ’80-an hingga akhirnya kawan-kawan diberangkatkan ke Osaka Expo,” ungkapnya.

Berita Terkait

10 Warisan Budaya Takbenda Nasional 2026 dari Sukabumi: Dodol Ketan hingga Golok Kala Petok
5 cerita dan cap hitam teluh Jampang Sukabumi
Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA
5 mitos terpopuler di Sukabumi, pedoman moral sekaligus identitas budaya
2 Oktober Hari Batik Nasional: Mengenal 7 sanggar batik di Sukabumi
5 tradisi zaman dulu yang perlahan ditinggalkan wanita Sukabumi
Menelusuri cerita Gatotkaca singgah di Purabaya Sukabumi
Kala penyair legendaris Taufiq Ismail baca puisi di Sukabumi
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 03:37 WIB

10 Warisan Budaya Takbenda Nasional 2026 dari Sukabumi: Dodol Ketan hingga Golok Kala Petok

Minggu, 1 November 2026 - 01:00 WIB

5 cerita dan cap hitam teluh Jampang Sukabumi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Ketika perempuan Sukabumi tak pernah kehilangan identitas Sunda

Minggu, 4 Oktober 2026 - 06:44 WIB

5 mitos terpopuler di Sukabumi, pedoman moral sekaligus identitas budaya

Berita Terbaru

Limbah ban bekas diubah jadi hiasan keren. l Istimewa

Lingkungan

Inspirasi ban bekas jadi mahakarya yang ramah lingkungan

Sabtu, 7 Nov 2026 - 23:05 WIB