Peneliti temukan fakta-fakta baru di Gunung Padang

- Redaksi

Senin, 6 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peneliti temukan fakta-fakta baru di Gunung Padang - Ist

Peneliti temukan fakta-fakta baru di Gunung Padang - Ist

sukabumiheadline.com – Proses riset dan pemugaran situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat tengah berlangsung, meski masih berada di fase awal. Sejauh ini, telah ada beberapa temuan yang menggelitik rasa ingin tahu para peneliti yang dipimpin Ali Akbar, Arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) yang ditunjuk sebagai Ketua Tim Kajian dan Pemugaran Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional Gunung Padang.

Ali Akbar bekerja sesuai Surat Keputusan (SK) Menteri Kebudayaan Fadli Zon menandatangani Surat Keputusan (SK) tentang Pembentukan Tim Kajian dan Pemugaran Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional Gunung Padang.

Usai turun ke lapangan bersama sejumlah peneliti lintas ilmu, Ali menyebut ada beberapa temuan yang menarik dalam fase kajian dan survei ini, salah satunya terkait orientasi bangunan Situs Gunung Padang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Selama ini kan kita selalu berpikir bangunan ini ke arah utara. Tapi di survei-survei yang kita lakukan ini ternyata ada jalur juga ke barat, ada jalur ke timur, bahkan cukup besar jalur ke selatan. Nah kalau orientasi bangunannya beda dari yang kita pikirkan tentu kan ibaratnya pemugarannya juga harus kita pertimbangkan ini,” katanya dilansir CNN Indonesia.

Situs megalitikum Gunung Padang, Kabupaten Cianjur. l Istimewa
Situs megalitikum Gunung Padang, Kabupaten Cianjur. l Istimewa

Ia mengatakan arah bangunan tersebut akan mempengaruhi pemugaran yang kelak dilakukan tim.

Menurutnya, pemilihan arah depan bangunan selalu memiliki alasan, begitu pula arah utara yang selama ini dianggap sebagai bagian depan Situs Gunung Padang.

Arah utara dianggap sebagai bagian depan situs ini dikarenakan adanya Gunung Gede dan Pangrango. Hal tersebut berdasarkan konsep pemujaan terhadap kekuatan alam.

“Orientasinya ke Gunung Gede dan Pangarambo. Dengan konsep natural worship. Pemujaan terhadap kekuatan alam. Kekuatan alam disitu kan Gunung Gede tuh tinggi 3.000-an meter. Sementara Gunung Padang tuh 1.000 meter. Jadi kalau orang berdiri di Gunung Padang, dia bisa melihat dari kejauhan, Gunung Gede terbuka,” jelasnya.

Sementara itu, temuan terbaru yang mengindikasikan bagian depan Situs Gunung Padang masih perlu didalami dan dicari penjelasannya.

Gunung Padang
Perkiraan bentuk asli Situs Gunung Padang Cianjur – Istimewa

Di arah barat Gunung Padang terdapat Gunung Karuhun. Menurutnya, bukan tidak mungkin gunung tersebut menjadi orientasi bagian depan situs ini.

Selain itu, Ali mengatakan beberapa kebudayaan menjadikan arah timur sebagai acuan untuk muka bangunan. Hal tersebut dikarenakan timur adalah arah Matahari terbit. Sementara arah selatan, dalam kasus Situs Gunung Padang, terhadap semacam punggungan bukit yang bisa menghubungkan area selatan dengan situs ini.

“Jadi sekarang ini terbuka nih. Semua arah mata angin bisa jadi kemungkinan untuk orientasi.” katanya.

Ali dan tim juga sedang mencari tanda langit yang mungkin bisa menjadi petunjuk dalam kajian situs ini, mulai dari rasi bintang hingga Gerhana Bulan.

Selain terkait orientasi, Ali dan tim menemukan goresan-goresan pada batuan di situs tersebut. Ia lantas hendak mendalami apakah goresan tersebut terbentuk secara alami atau tidak.

Jika goresan tersebut buatan manusia, maka bisa jadi itu adalah simbol-simbol tertentu di masa aksara belum dikenal.

Lebih lanjut, Ali menyebut lebih dari 100 peneliti terlibat dalam proses riset dan pemugaran situs ini. Peneliti yang saat ini semuanya berasal dari Indonesia datang dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari geologi, geofisika, geodesi, geografi, arsitek, ahli petrologi, ahli tradisi lisan, sejarah, hingga ahli arkeologi.

Saat ini, proses pemugaran berada di fase kajian bentuk situs. Nantinya, gambar tiga dimensi dan temuan lainnya akan dipresentasikan kepada para ahli lain untuk meminta tanggapan, yang kemudian dijadikan rencana pemugaran.

Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, mulai diteliti sejak zaman penjajahan Belanda. Penelitian-penelitian yang dilakukan sejak Indonesia Merdeka menunjukkan peninggalan purbakala ini memiliki nilai yang sangat penting bagi sejarah dan kebudayaan bangsa.

Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan peninggalan ini sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Berusia ribuan tahun, beberapa bagian dari situs ini mengalami kerusakan alami seperti batu yang patah, rebah, bahkan runtuh.

Kondisi ini menjadi perhatian serius sehingga diperlukan kegiatan pemugaran untuk menjaga kelestarian situs bersejarah ini.

Berita Terkait

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia
27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage
24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen
23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas
HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?
Kapolri minta MUI haramkan vape
18 Oktober: Hari Menopause Sedunia, kenali gejala, penyebab, obat dan pencegahan
17 Oktober: Jumlah penduduk miskin Sukabumi di Hari Pemberantasan Kemiskinan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:44 WIB

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:58 WIB

27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 03:57 WIB

24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:29 WIB

23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:23 WIB

HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB