Rindu Main Sinetron Lagi, Wanita Sukabumi Ini Jadi Content Creator

- Redaksi

Senin, 23 Mei 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anneza Dewi. l Istimewa

Anneza Dewi. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINE.com l Satu lagi wanita asal Sukabumi di blantika musik dan hiburan Tanah Air. Pelantun tembang house pop  ‘Misteri Malam‘ sekaligus pemain serial sinetron ‘Si Kabayan Orang Beken‘ (TPI), Anneza Dewi.

Anneza kini memilih menjadi konten kreator. Karenanya, ia mengaku sangat tertarik untuk menggali banyak ilmu dan pengalaman meski sampai harus ke luar negeri.

Saat di sana, katanya, justru akan dimanfaatkannya untuk memproduksi konten untuk mengisi akun YouTube-nya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak heran jika penyanyi dan bintang sinetron di era paruh tahun 90-an, rajin mengunggah plesirannya di kanal YouTube pribadinya.

Untuk mengisi konten di kanal YouTube-nya, belum lama ini Anneza berbagi pengalaman saat dirinya tinggal selama sebulan di Playmouth, United Kingdom (Inggris) berkat undangan sahabat dekatnya.

“Bisa plesiran lagi keluar negeri, sudah jadi obsesiku. Ya mudah-mudahan saja, dua atau tiga bulan ke depan, bisa berkunjung ke Eropa lagi, Amerika atau di Asia,” tutur Anne, dikutip sukabumiheadline.com pada Senin (23/5/2022).

Ia menceritakan jika banyak hal ini dan menari untuk diangkat saat dirinya berada di luar negeri.

“Banyak hal yang unik dan menarik bisa diangkat, jika kita berada di negara orang. Yang penting harus pintar mengambil angle-angle-nya. Baik itu soal budaya, masyarakat atau wilayahnya,” tutur dia.

“Bagaimana mereka berperilaku, bersosialisasi, memandang tentang kehidupan dan bagaimana mereka mencintai alam. Jadi, aku mencoba membaur,” tutur Anneza lagi.

Selain itu, Anne juga mengaku tertarik untuk kembali aktif di dunia peran Tanah Air.

“Justru dari dunia entertainment, aku bisa membuka akses atau hubungan. Termasuk dengan dunia luar,” aku Anne.

Berita Terkait

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya
Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA
42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027
6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia
Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya
Kebijakan tidak naik kelas, Guru di Sukabumi ingatkan Kemendikdasmen harus hati-hati
5 tantangan laki-laki Gen Z 2027: Krisis biaya hidup hingga resesi seks
Ketika perempuan Sukabumi tak pernah kehilangan identitas Sunda

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:00 WIB

42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB