Sukabumi Digadang Jadi Megapolitan, Nyatanya Kota Termiskin se-Jawa Barat

- Redaksi

Rabu, 9 Agustus 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Balai Kota Sukabumi. l Istimewa

Balai Kota Sukabumi. l Istimewa

sukabumiheadline.com l CIKOLE -Berbicara kekayaan dan keragaman sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia atau SDM di Indonesia tak akan pernah lepas dari sejumlah provinsi menarik, salah satunya Jawa Barat.

Dalam deretan provinsi yang memiliki SDA dan SDM melimpah ini, menampilkan Jawa Barat dalam perspektif berbeda, yakni tentang potensi dan kemiskinan di sejumlah kota yang ada di Tatar Pasundan.

Berikut adalah empat kota termiskin di Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Kota Tasikmalaya

Kota Tasikmalaya terletak di ketinggian, memiliki ceruk khusus dalam perekonomiannya. Meskipun memiliki pesona memukau, namun sekira 12,72 persen penduduknya hidup dalam kemiskinan.

Warga kota ini masih harus terus berjuang melawan segala keterbatasan, berkreasi demi masa depan yang lebih baik.

2. Kota Cirebon

Berikutnya, Kota Cirebon adalah pilihan yang sempurna untuk berinvestasi. Namun, di balik berbagai potensinya, terdapat fakta menyedihkan bahwa 9,82 persen penduduk Kota Cirebon masih terjebak dalam kemiskinan.

Kota yang kaya budaya ini menghadapi perjalanan panjang untuk memberikan kesempatan yang lebih baik bagi warganya.

3. Kota Sukabumi

Dikenal dengan keindahan alamnya yang menawan, Kota Sukabumi menjadi daya tarik tak terbantahkan.

Namun, di balik panorama pegunungan yang menakjubkan, terdapat kisah miris, yakni sekira 8,02 persen penduduknya menjalani hidup dengan ekonomi yang terbatas.

Kota Sukabumi tidak hanya menawarkan pemandangan mata menyejukkan, tetapi juga pelajaran tentang keuletan dan kerja keras melalui kisah para penduduknya.

Kota yang digadang akan menjadi megapolitan baru dengan dibangunnya Jalan Tol Bocimi atau Bogor-Ciawi-Sukabumi ini, nyatanya masih terpuruk di posisi ketiga kota termiskin di Jawa Barat.

4. Kota Bogor

Selanjutnya, Kota Bogor yang memiliki pesona alam yang memukau. Namun, 7,10 persen penduduk Kota Bogor menghadapi belitan masalah ekonomi.

Di tengah taman-taman indah dan iklim yang sejuk, terdapat kisah inspiratif para penduduk Kota Bogor yang tak pernah berhenti berjuang demi kesejahteraan penduduknya.

Berita Terkait

Dua anak di bawah umur asal Sukabumi kerja prostitusi online, 5 buku tamu disita polisi
Selundupkan 32 ribu benih lobster ilegal, warga Sukabumi ditangkap di Banten
Pria Sukabumi paksa gadis 19 tahun layani 300 lelaki hidung belang, Rp50 ribu per transaksi
Awal mula terungkapnya tanah aset Desa Sukamulya Sukabumi dikuasai swasta
Perhutani KPH Sukabumi gandeng Damkar patroli bersama
Warga Sukamulya Sukabumi protes tanah aset desa dipindahtangankan ke swasta
Ahad, 18 Oktober: Event hari ini di Sukabumi, JNS Fest hingga Festival Kuliner Bangkok
Germo asal Sukabumi paksa wanita Sumsel layani 10 pria sehari, fee Rp50 ribu

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:11 WIB

Dua anak di bawah umur asal Sukabumi kerja prostitusi online, 5 buku tamu disita polisi

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Selundupkan 32 ribu benih lobster ilegal, warga Sukabumi ditangkap di Banten

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 04:18 WIB

Pria Sukabumi paksa gadis 19 tahun layani 300 lelaki hidung belang, Rp50 ribu per transaksi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:01 WIB

Awal mula terungkapnya tanah aset Desa Sukamulya Sukabumi dikuasai swasta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Perhutani KPH Sukabumi gandeng Damkar patroli bersama

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB