Syahdu, Menikmati Pantai Karang Haji Cibangban Sukabumi

- Redaksi

Jumat, 11 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana Pantai Karang Haji Cibangban. l Istimewa

Suasana Pantai Karang Haji Cibangban. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINE.com l CISOLOK – Kawasan objek wisata pantai Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi memang layak disandingkan untuk menyandang gelar Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark (CPUGG).

Berbagai potensi objek wisata pantai yang menyimpan banyak keindahan terdapat di Kabupaten Sukabumi, layak dikunjungi wisatawan saat menikmati liburan.

Salah satunya objek wisata Pantai Karang Haji di Kampung Cibangban, Desa Pasirbaru, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Pantai Karang Haji, pengunjung akan dimanjakan indahnya pemandangan alam yang sempurna dan lengkap. Mulai dari indahnya hamparan batu karang, birunya laut lepas, dan hijaunya pepohonan di bukit, serta pasir pantai yang landai menghampar.

Yang paling menarik di Pantai Karang Haji, di klaim sebagai pantai yang paling bersih dari sebaran sampah, dibandingkan objek wisata pantai lainnya yang ada di kawasan Palabuhanratu.

Kondisi pantai yang bersih dari sebaran sampah, menambah suasana lebih eksotis dan syahdu. Salah satu faktor yang selalu ditimbang para wisatawan.

Screenshot 2022 08 20 06 02 20 41 726cd6915a5bbed5e00093b2e2a7609b
Suasana Pantai Karang Haji Cibangban. l Istimewa

“Kebersihan pantai Karang Haji ini memang terjaga dengan baik, hampir setiap waktu para pedagang ataupun warganya apabila melihat sampah langsung dibersihkan,” ujar Hermawati (34) pengunjung asal Cikakak kepada sukabumiheadline.com.

“Tidak heran, pantai yang bersebelahan dengan Cibangban ini, selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal ataupun luar Sukabumi,” sambungnya.

Nah, penasaran untuk datang ke sini, tidak perlu khawatir akan tersesat, dari pusat ibu kota atau Pasar Palabuhanratu, tinggal menuju ke arah Pasar Cisolok, selanjutnya menuju ke Pantai Karang Haji.

Letaknya sebelum pantai Cikembang, atau kurang lebih sekitar 18 Km jarak yang ditempuh dari pusat kota Palabuhanratu dengan waktu tempuh yang dibutuhkan sekira 45 menit.

Berita Terkait

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi
Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya
Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA
42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027
6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia
Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya
Kebijakan tidak naik kelas, Guru di Sukabumi ingatkan Kemendikdasmen harus hati-hati
5 tantangan laki-laki Gen Z 2027: Krisis biaya hidup hingga resesi seks

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 04:29 WIB

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:00 WIB

42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:54 WIB

Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB