Waspada 2025, suhu panas akan panggang Pulau Jawa

- Redaksi

Kamis, 7 November 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Waspada 2025, suhu panas akan panggang Pulau Jawa - Kementerian Lingkungan Hidup

Waspada 2025, suhu panas akan panggang Pulau Jawa - Kementerian Lingkungan Hidup

sukabumiheadline.com – Penduduk Pulau Jawa wajib mewaspadai kenaikan suhu anomali yang akan memanggang pulau berpenduduk terbesar di Indonesia ini. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksi suhu di Indonesia bakal meningkat alias semakin panas pada 2025.

Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, suhu udara permukaan rata-rata bulanan di wilayah Indonesia dari Januari hingga Desember 2025 diperkirakan akan mengalami kenaikan suhu anomali antara +0,3 hingga +0,6 °C.

Dwikorita menambahkan, kenaikan suhu tersebut diperkirakan bakal terjadi pada periode Mei hingga Juli 2025, dengan rata-rata kenaikan sekitar 0,4°C lebih tinggi dari kondisi normal (periode 1991-2020)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jadi ini lebih hangat dibanding dengan normalnya. Normalnya adalah rata-rata suhu selama 30 tahun terakhir,” kata Dwikorita dalam Konferensi Pers Climate Outlook 2025 yang disiarkan secara daring di kanal YouTube BMKG, dikutip sukabumiheadline.com pada Kamis (7/10/2924).

“Wilayah yang perlu diwaspadai mengalami anomali suhu tinggi antara lain daerah-daerah yang terletak di Sumatera bagian selatan, Jawa, NTB, NTT,” lanjut dia.

Ia juga menjelaskan prediksi tersebut merupakan kondisi secara umum dalam satu tahun. Namun begitu, menurutnya, kondisi cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor hingga dinamika atmosfer yang terjadi.

Baca Juga :  Getaran Gempa, Membuat Warga Pesisir Sukabumi Kaget

“Kondisi cuaca di Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya pengaruh dari Samudra Pasifik atau Hindia, dan juga pengaruh dari dua benua, tapi juga ada pengaruh-pengaruh kondisi di ekuator,” papar Dwikorita.

“Misalnya ada gelombang ekuator, MJO, jadi poinnya adalah ini pandangan iklim penting menjadi pegangan untuk menyusun perencanaan satu tahun ke depan,” tambahnya.

Namun, dalam kesempatan terpisah, Dwikorita mengungkap bahwa berbagai studi menunjukkan kenaikan suhu global sudah mencapai 1,45 °C di atas rata-rata periode pra-industri tahun 1850-1900. Menurutnya hal ini berdampak pada akselerasi kenaikan muka laut yang terus menerus naik dari dekade ke dekade.

Rata-rata kenaikan muka air laut global berada di level 2,1 mm per tahun antara 1993 dan 2002, dan menjadi 4,4 mm per tahun antara 2013 dan 2021 atau meningkat dua kali lipat di antara periode tersebut.

Menurut dia realitas ini sebagian besar penyebabnya adalah mencairnya es kutub imbas melelehnya gletser dan lapisan es lautan akibat pemanasan global.

“Jelas tidak berlebihan jika saya menyebut situasi ini sebagai sesuatu yang sangat serius dan juga harus direspons secara serius,” kata Dwikorita, di laman resmi BMKG pada September 2024 lalu.

Baca Juga :  Waspada, Malam Ini Sukabumi Diprediksi Diguyur Hujan Disertai Angin Kencang

Menurut dia krisis iklim terjadi secara global, termasuk Indonesia. Dwikorita, pada Maret lalu, sempat menyampaikan Indonesia turut terdampak dari krisis iklim.

Ia mengatakan perubahan iklim mencakup berbagai aspek. Hal ini termasuk peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, kenaikan air laut, serta dampaknya terhadap lingkungan dan manusia.

Contoh nyata kenaikan suhu akibat perubahan iklim adalah mencairnya gletser atau lapisan es tropis di Puncak Jaya, Papua. Luas tutupan salju abadi di ketinggian 4.884 mdpl itu menyusut hingga 98 persen, dari 19,23 kilometer persegi pada tahun 1850 menjadi hanya 0,23 kilometer persegi pada April 2022.

Bukti lainnya perubahan iklim di Indonesia adalah suhu Indonesia yang semakin meningkat setiap harinya. Menurut dia suhu dunia saat ini sudah mendekati batas yang disepakati bersama pada Perjanjian Paris COP21 pada 12 Desember 2015.

Saat itu, seluruh dunia sepakat harus membatasi kenaikan suhu rata-rata global di angka 1,5 derajat Celsius. Namun faktanya, saat ini kenaikan suhu melaju lebih cepat dan sudah mencapai kenaikan 1,45 derajat Celsius di atas suhu rata-rata di masa pra-industri.

Menurut catatan BMKG, laju kenaikan suhu di Indonesia tercatat mecapai 0,15 °C per dekade. Bukti krisis iklim lainnya, kata lembaga ini, adalah banyak negara yang terancam kekeringan dalam beberapa dekade ke depan.

Berita Terkait

La Nina berakhir, warga Sukabumi waspada musim kemarau panjang
Soal Minyakita tekor, cek 1 Liter berapa kg? Berat air berbeda dengan minyak
Waspada, ini bulan curah hujan dan jumlah hari hujan rata-rata satu tahun di Sukabumi
Awan topan di wilayah selatan seukuran Pulau Jawa, BMKG: Bibit Siklon Tropis, ini dampaknya
Gerhana Matahari Cincin awal Oktober 2024 dan 4 fenomena luar angkasa, Saturnus muncul
Picu kematian, ulasan lengkap gejala dan cara obati kanker payudara
Peneliti BRIN: Lempeng Megathrust seukuran Pulau Jawa, bayangkan jika bergerak 20 meter
BMKG: Sukabumi dan Bogor waspada banjir di September!

Berita Terkait

Jumat, 28 Maret 2025 - 18:24 WIB

La Nina berakhir, warga Sukabumi waspada musim kemarau panjang

Senin, 10 Maret 2025 - 19:44 WIB

Soal Minyakita tekor, cek 1 Liter berapa kg? Berat air berbeda dengan minyak

Minggu, 9 Maret 2025 - 20:32 WIB

Waspada, ini bulan curah hujan dan jumlah hari hujan rata-rata satu tahun di Sukabumi

Minggu, 15 Desember 2024 - 03:03 WIB

Awan topan di wilayah selatan seukuran Pulau Jawa, BMKG: Bibit Siklon Tropis, ini dampaknya

Kamis, 7 November 2024 - 01:40 WIB

Waspada 2025, suhu panas akan panggang Pulau Jawa

Berita Terbaru