5 fakta Timor-Leste: Negara mini punya MBG, sekolah-buku gratis, pajak rendah, bebas parkir/ormas

- Redaksi

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemandangan Kota Dili, Ibu Kota Timor-Leste - Ist

Pemandangan Kota Dili, Ibu Kota Timor-Leste - Ist

sukabumiheadline.com – Timor-Leste, dengan nama resmi Republik Demokratik Timor-Leste, adalah sebuah negara merdeka di Asia Tenggara yang terletak di bagian timur Pulau Timor. Ibu kota negara ini adalah Dili.

Sebelum merdeka penuh pada 20 Mei 2002, wilayah ini dikenal sebagai Timor Timur dan pernah menjadi provinsi ke-27 Indonesia.

Berikut adalah 5 fakta Timor-Leste, dirangkum sukabumiheadline.com, Sabtu (21/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Geografi dan pemerintahan

Negara ini meliputi bagian timur Pulau Timor, wilayah enklave Oecusse di Timor Barat, serta Pulau Atauro dan Jaco.Batas darat utamanya bersebelahan langsung dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Timor-Leste memiliki luas wilayah sekitar 14.870 km² hingga 14.950 km² dan jumlah penduduk diperkirakan mencapai sekitar 1,34 juta hingga 1,4 juta jiwa. Untuk perbandingan, luas Provinsi Jawa Barat adalah 35.377,76 km².

Luas daratan negara ini sekira 14.870 kilometer persegi, dan dihuni oleh 1,35 hingga 1,4 juta jiwa berdasarkan data sensus dan proyeksi terbaru, dengan kepadatan penduduk:l 97 jiwa per kilometer persegi.

2. Bentuk pemerintahan

Republik Demokratik dengan sistem semipresidensial.

3. Sejarah singkat

Pernah dijajah oleh Portugal selama ratusan tahun. Memproklamasikan kemerdekaan pada 28 November 1975, lalu bergabung dengan Indonesia tahun 1976. Memilih pisah dari Indonesia melalui jajak pendapat (referendum) pada 30 Agustus 1999.

4. Bahasa dan mata uang

Bahasa resmi yang digunakan adalah Bahasa Portugis dan Tetun.Mata uang sah yang digunakan sehari-hari adalah Dolar Amerika Serikat (USD), disertai koin centavo lokal.

5. 9 kebijakan pro rakyat 

  1. Makanan Gratis Sudah Ada Sejak 10 Tahun lalu
  2. Kesehatan Gratis Sampai Ke Luar Negeri
  3. Pajak Semua Kendaraan Hanya 10 Dolar/tahun
  4. Lansia Umur 60 Tahun Dapat Tunjangan
  5. lbu Hamil dan Persalinan Ditanggung Negara
  6. Biaya Urus Surat dan Dokumen Murah
  7. Sekolah Negeri Tidak Dipungut Biaya
  8. Buku Pelajaran Banyak yang Disediakan Gratis
  9. Timor Leste tak boleh ada Tukang Parkir, Preman, ataupun Ormas apapun

Berita Terkait

Sejarah bendera Arab Saudi dan Afghanistan cantumkan lafadz Syahadat
Penduduk Jerman menyusut, kekurangan tenaga kerja dan banyak dihuni lansia
Pilot Indonesia ditolak Israel, putar balik dilarang mendarat di Bandara Tel Aviv
Bandara Riyadh diserang, Kemenlu minta WNI di Arab Saudi waspada
Mengenang serangan menara WTC 9/11, dan trend mualaf yang meningkat
Ajakan boikot Adidas meluas, eks tentara Israel jadi bintang iklan kaki palsu
Ini Blueberry, sniper cantik Rusia pemburu tentara Ukraina
Presenter TV Sarah Khalifa dihukum mati atas tuduhan jadi gembong narkoba

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Sejarah bendera Arab Saudi dan Afghanistan cantumkan lafadz Syahadat

Rabu, 14 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Penduduk Jerman menyusut, kekurangan tenaga kerja dan banyak dihuni lansia

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Pilot Indonesia ditolak Israel, putar balik dilarang mendarat di Bandara Tel Aviv

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Bandara Riyadh diserang, Kemenlu minta WNI di Arab Saudi waspada

Jumat, 11 September 2026 - 23:30 WIB

Mengenang serangan menara WTC 9/11, dan trend mualaf yang meningkat

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB