sukabumiheadline.com – Pemilu Israel telah usai, hasilnya Partai-partai Arab meraih 19 kursi, dan partai oposisi 48 kursi. Sedangkan kubu pendukung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meraih 53 kursi.
Media Ynet mengabarkan, Komite Pemilihan Umum Pusat Israel telah merampungkan penghitungan suara dalam pemilihan parlemen. Komite menyatakan telah menyelesaikan penghitungan surat suara khusus -,yang dikenal sebagai “amplop ganda”,- namun hasil akhir baru akan diumumkan kemudian.
“Hasil dari 12.644 tempat pemungutan suara (TPS) telah dimasukkan ke dalam sistem, dengan total 5.589.836 suara, mencakup 5.564.764 suara sah dan 25.072 suara tidak sah,” tulis Ynet, dikutip sukabumiheadline.com, Jumat (30/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Surat suara khusus ini mencakup suara dari tentara, narapidana, diplomat, serta pemilih yang sedang dirawat di rumah sakit yang tidak dapat memberikan suara di TPS asal mereka.
Distribusi kursi secara keseluruhan di antara ketiga kelompok politik tersebut tidak berubah dibandingkan hasil hari Rabu, meskipun terdapat penyesuaian jumlah kursi pada partai-partai tertentu setelah penghitungan surat suara khusus.
Sementara itu, Partai Likud pimpinan Netanyahu memperoleh tambahan satu kursi, dari 26 menjadi 27 kursi, sementara partai ultra-Ortodoks Shas turun dari tujuh menjadi enam kursi.
Di kalangan partai Arab, Ra’am mendapatkan tambahan satu kursi sehingga totalnya menjadi delapan, sementara Joint List kehilangan satu kursi, menyisakan 11 kursi.
Blok Netanyahu mencakup partai Likud miliknya serta partai-partai sayap kanan ekstrem dan ultra-Ortodoks yang menjadi sekutunya.
Blok oposisi, yang dipimpin oleh mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel Gadi Eisenkot, mencakup partainya (Yashar), aliansi “Together” milik mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, partai Yesh Atid pimpinan Yair Lapid, kelompok Demokrat pimpinan Yair Golan, serta partai Yisrael Beiteinu pimpinan Avigdor Lieberman.
Dua partai Arab -,Joint List dan United Arab List (Ra’am),- secara total mengamankan 19 kursi, yang berpotensi menempatkan mereka dalam posisi krusial dalam negosiasi pembentukan pemerintahan berikutnya. Baik kubu Netanyahu maupun kubu oposisi tidak berhasil meraih 61 kursi yang diperlukan untuk mencapai mayoritas di Knesset yang beranggotakan 120 orang.
Menurut Komite Pemilihan Umum Pusat, tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7%, angka tertinggi sejak 1999 dan meningkat 7,1 poin persentase dibandingkan pemilihan umum tahun 2022.
Hasil resmi diperkirakan akan diumumkan pada 4 November. Selanjutnya, Presiden Isaac Herzog akan berkonsultasi dengan faksi-faksi parlemen sebelum menunjuk seorang anggota parlemen untuk membentuk pemerintahan berikutnya.
Knesset yang baru diperkirakan akan dilantik pada 10 November.
Sekilas tentang Partai Arab
Partai Arab adalah partai politik yang mewakili warga Arab Israel (warga keturunan Palestina di Israel) memegang peran kunci dalam kancah politik Israel, terutama pasca pemilihan umum yang berlangsung pada Oktober 2026.
Dalam pemilu Israel Oktober 2026, tingkat partisipasi pemilih Arab melonjak tajam. Partai-partai Arab (Ra’am dan Joint List) berhasil mengamankan sekitar 19 kursi di parlemen atau Knesset yang berjumlah 120 kursi.
Salah satu partai Arab yang cukup besar adalah Ra’am (Partai Arab Bersatu) pimpinan Mansour Abbas. Partai ini berideologi konservatisme, memperjuangkan kepentingan Arab Israel, dan Islamisme.
Sayangnya, partai ini juga mempraktikkan pragmatisme politik, karena pernah mencatat sejarah dengan bergabung dalam koalisi pemerintahan Israel periode 2021–2022 di bawah PM Israel Benjamin Netanyahu.
Sedangkan partai lainnya pimpinan Ahmad Tibi (Joint List) dan Yosef Jabareen, merupakan koalisi partai-partai Arab yang memperjuangkan kesetaraan sipil, mengakhiri diskriminasi, serta menolak kebijakan pendudukan dan rasisme sayap kanan.
Namun sayangnya, perbedaan pandangan politik kerap membuat partai-partai tersebut sulit untuk satu suara di parlemen Israel atau Knesset.
Di sisi lain, kubu koalisi Benjamin Netanyahu (Likud dan sekutunya), serta kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot lewat partai Yashar dan aliansi perubahan, sama-sama gagal meraih mayoritas mutlak 61 kursi untuk membentuk pemerintahan sendiri.
Partai Arab menentukan masa depan Netanyahu
Dengan perolehan 19 kursi di Knesset, dukungan atau posisi dari partai-partai Arab menjadi sangat krusial untuk menentukan siapa yang bisa menggalang mayoritas atau melengserkan Netanyahu.
Kabar terbaru, para pemimpin blok Arab, seperti Ahmad Tibi dari Joint List, telah mengulurkan tangan kepada “blok perubahan” atau kubu oposisi untuk menumbangkan koalisi Netanyahu–Ben-Gvir.
Sejumlah warga di Israel bahkan menggelar aksi unjuk rasa mendesak terbentuknya aliansi inklusif antara partai Yahudi dan Arab demi memecah kebuntuan politik.









