sukabumiheadline.com – Popularitas Partai Arab yang kian moncer di Negeri Zionis, membuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu khawatir Partai Likud yang mendukungnya kalah dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Israel.
Pemilu parlemen yang diadakan pada Selasa (27/10/2026) kemarin tersebut, digelar pertama kali sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang di Gaza yang menyusul setelahnya.
Sikap Netanyahu itu dipicu pernyataan Komite Pemilihan Umum Pusat yang mengungkap tingkat partisipasi pemilih secara nasional telah mencapai 31,5 persen pada tengah hari, angka tertinggi pada tahap tersebut sejak Pemilu Israel pada 1973 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal itu membuat Netanyahu berang sebelum pemilu digelar. Ia bahkan sempat mengingatkan bahwa tingginya tingkat partisipasi pemilih Arab dapat menyebabkan Partai Likud, kalah dalam pemilu.
Terungkap sebuah rekaman menunjukkan Netanyahu sedang berbicara di hadapan para pendukungnya di Rishon Lezion, menanyakan siapa yang belum memberikan suara.
Saat seorang pendukung meneriakkan “Bibi, Bibi, Bibi!”, Netanyahu segera menghentikan sorak-sorai tersebut dan mendesak massa segera menuju TPS.
Diberitakan Viory, tingkat partisipasi di TPS menunjukkan komunitas Arab telah mencapai rekor tertinggi. Hal itu membuat Netanyahu menuduh lawan-lawan politiknya berupaya mencuri kemenangan dalam pemilu.
“Jika Anda tidak segera pergi memilih ‘Machal’, besok pagi kita akan terbangun dengan pemerintahan sayap kiri, partai-partai Arab, dan Islam radikal. Kita akan kehilangan negara ini. Itulah sebabnya tidak boleh ada perayaan sekarang,” tegas Netanyahu, seperti dikutip sukabumiheadline.com, Rabu (28/10/2026).
“Tidak ada perayaan, tidak ada kue, tidak ada roti lapis, tidak ada apa-apa. Tidak ada pantai, tidak ada acara bakar-bakar daging (barbeku), tidak ada apa-apa. Hanya satu hal: pergilah memilih ‘Machal’ (kode surat suara untuk partai Likud pimpinan Netanyahu – red),” tegas dia.
Untuk informasi, pemilu ini mempertemukan kubu Netanyahu dengan blok oposisi yang dipimpin oleh mantan kepala militer Gadi Eisenkot, di mana partai-partai yang dipimpin oleh kelompok Arab berpotensi memainkan peran kunci dalam menentukan pemerintahan berikutnya.
Diperlukan mayoritas 61 kursi di Knesset (parlemen Israel) yang memiliki total 120 kursi untuk membentuk pemerintahan.









