sukabumiheadline.com – Harga kakao mengalami lonjakan ekstrem di pasar global yang dipicu oleh krisis pasokan mulai membentuk ulang kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi cokelat.
Kenaikan harga bahan baku yang signifikan ini memaksa konsumen menyesuaikan pengeluaran, yang pada akhirnya memicu pergeseran tren dari konsumsi massal menjadi penikmat cokelat berkualitas dalam porsi yang lebih terkendali.
Diberitakan ABC, kondisi pasar kakao dunia saat ini mencatatkan pergerakan yang sangat fluktuatif. Harga komoditas ini sempat menembus rekor tertinggi di level US$12.000 per ton pada 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski sempat mengalami koreksi hingga ke kisaran US$2.600 per ton pada awal 2026, harga kembali menunjukkan tren peningkatan tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Sejumlah analis memprediksi harga cokelat di tingkat ritel diproyeksikan tidak akan kembali ke level pra-krisis dalam waktu dekat.
Tingginya harga ini berakar dari masalah struktural berupa kelangkaan pasokan global, yang dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem, termasuk risiko El Nino aktif, serta serangan virus pada sentra-sentra tanaman kakao.
Tekanan beban bahan baku ini dirasakan merata oleh seluruh lapisan pelaku industri. Sebagai gambaran di tingkat produsen artisan, harga biji kakao mentah yang sebelum pandemi Covid-19 berada di kisaran 8 dolar per kilogram, kini telah melonjak hingga 20 dolar per kilogram.
Hal ini memaksa para produsen untuk menyesuaikan harga jual produk akhir di pasaran secara signifikan. Kondisi harga jual selangit ini memicu perubahan fundamental pada perilaku konsumen.
Alih-alih terus membeli cokelat murah dengan kandungan gula tinggi dalam jumlah banyak, masyarakat diprediksi akan beralih ke produk cokelat dengan kualitas kakao yang lebih baik, mengonsumsinya secara selektif, dan menikmatinya sedikit demi sedikit.
Guna menekan risiko kerentanan pasokan di masa depan, pelaku industri kini mulai memfokuskan investasi pada penguatan ketahanan sektor hulu.
Langkah yang diambil mencakup penerapan sistem pertanian yang adaptif terhadap iklim, peningkatan produktivitas lahan, serta perluasan diversifikasi negara pemasok biji kakao.
Kabar tersebut tentunya menjadi angin segar bagi para petani kakao di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Volume produksi kakao di Sukabumi

Kakao atau Theobroma cacao adalah tanaman perkebunan tropis yang bijinya merupakan bahan baku utama pembuatan cokelat. Kakao sering disebut “makanan para dewa” karena kandungan antioksidan tinggi, senyawa bioaktif, dan rasanya yang khas.
Produksi kakao rakyat di Kabupaten Sukabumi tercatat sekitar 11,1 ribu ton pada 2024, menjadikannya salah satu komoditas perkebunan di Sukabumi. Namun, tidak tersedia data rinci menurut kecamatan. Adapun total luas kebun kakao di Sukabumi adalah 353,7 hektar.
Meskipun bukan penghasil utama seperti di Sulawesi, perkebunan kakao rakyat tetap ada. Bimbingan teknis peremajaan dan teknologi budidaya kakao telah dilakukan di daerah ini, termasuk di area Jampang Tengah. Baca selengkapnya: 11 Kecamatan penghasil kakao di Sukabumi
Kakao di Sukabumi umumnya dikelola dalam skala perkebunan rakyat, di mana satu kilogram kakao basah mampu menghasilkan 0,4 kg kakao kering.
Meskipun tidak sebesar dari Sulawesi dan Sumatera, namun, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, 2025, ada 11 kabupaten yang menjadi sentra buah kakao di Tatar Pasundan, yakni:
- Kabupaten Garut: 6,5 hektar
- Kabupaten Kuningan: 9,4 hektar
- Kabupaten Bandung: 10 hektar
- Kabupaten Bogor: 12 hektar
- Kabupaten Karawang: 37,6 hektar
- Kabupaten Sukabumi: 353,7 hektar
- Kabupaten Bandung Barat: 452,7 hektar
- Kabupaten Cianjur: 747,8 hektar
- Kabupaten Pangandaran: 884 hektar
- Kabupaten Tasikmalaya: 835,6 hektar
- Kabupaten Ciamis: 1.623,8 hektar









