26.8 C
Sukabumi
Minggu, Juli 14, 2024

Terobosan skuter matik murah tapi memikat Yamaha Jog 125, cek speknya

sukabumiheadline.com - Yamaha, produsen kendaraan roda dua...

Yamaha Zuma 125 meluncur, intip harga dan penampakan detail motor matic trail

sukabumiheadline.com - Yamaha resmi memperkenalkan Zuma 125...

Yakin Wanita Sukabumi Tak Minat Beli Yamaha QBIX 125? Intip Spesifikasi dan Harganya

sukabumiheadline.com l Yamaha QBIX 125 telah mengaspal...

Agnisa, Gadis Cicurug Sukabumi Ingin Jadikan Kerelawanan Sebagai Gaya Hidup

Gaya hidupAgnisa, Gadis Cicurug Sukabumi Ingin Jadikan Kerelawanan Sebagai Gaya Hidup

SUKABUMIHEADLINE.com I CICURUG – Tidak bisa dipungkiri, peran relawan, baik untuk proses evakuasi korban maupun pemulihan pascabencana hingga trauma healing korban terdampak, sangat dibutuhkan kehadirannya.

Walaupun terkadang keselamatan diri sendiri dipertaruhkan hingga kocek sendiri terkuras, tetapi bagi sebagian orang, menjadi relawan merupakan panggilan hati yang sulit ditolak.

Di era digital ini, tidak sedikit relawan yang menggunakan medsos untuk memasyarakatkan kegiatan dan kepedulian sosial. Dengan begitu, kegiatan kerela­wan­an maupun sosok relawannya menjadi kekinian, sehingga menjadi daya tarik yang menginspirasi orang lain untuk terlibat.

Begitupun dengan Agnisa Yasfa Azzahra, seorang koordinator lapangan tim relawannya. Agnisa yang aktif berkegiatan sosial sejak SMA, itu lebih suka menyebut dirinya sebagai pekerja sosial.

Sebelum terjun ke profesi sekarang sebagai relawan, gadis berusia 20 tahun asal Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, yang masih tercatat sebagai mahasiswi semester 5 Jurusan Paramedic Veterinee di salah satu perguran tinggi negeri tersebut, telah menjalani beragam kegiatan sosial dalam komunitas relawan.

Agnisa Yasfa Azzahra. l Istimewa

Ingin Menjadikan Relawan sebagai Gaya Hidup

Kegiatan yang pernah diikuti Agnisa, antara lain menjadi Project Leader Batch IVR di Gerakan Sukabumi Mengajar (GSM).

“Menjadi relawan sebenarnya sudah dari SMA, tapi baru ikut keorganisasian saat kuliah. Saya sekarang menjabat sebagai koordinator lapangan,” ungkap wanita berhijab yang hobi hiking dan menyanyi itu kepada sukabumiheadline.com, Senin (20/12/2021).

Setelah menjadi seorang relawan pada 2019, wawasannya menjadi terbuka terhadap isu lingkungan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan kesehatan yang seluruhnya juga membutuhkan bantuan peran relawan.

Ia pun sepakat dengan keinginan diri sendiri yang ingin menjadikan kerelawanan menjadi gaya hidup, layaknya aktivitas nongkrong di coffee shop atau berolahraga pada akhir pekan.

“Saya ingin menjadi relawan itu seperti percakapan sehari-hari. ‘Eh, minggu ini ke mana nih? Saya jadi relawan di sini, atau di sana. Jadi, bukan lagi sesuatu yang wah,” urai Agnisa.

Bergelut sebagai relawan, Agnisa melihat ada sesuatu yang berharga bisa diperoleh dengan menjalani peran tersebut, yakni pelajaran dan pengalaman hidup yang begitu kaya.

Dengan menjadi relawan, menurutnya, anak-anak muda bisa terlepas dari sekat sosial. Mereka akan belajar soal toleransi, empati, persatuan dan perdamaian melalui interaksi langsung dengan berbagai kalangan.

“Pelajaran itu tentunya sangat mahal dan jika para relawan dapat mengambil hikmahnya, akan membentuk pribadi dengan sangat baik. Kalau tidak menjadi relawan, mungkin saya tidak pernah berinteraksi dengan para korban atau orang yang membutuhkan dari latar belakang berbeda,” jelas gadis yang kesehariannya sering menjadi Master of Ceremony (MC) itu.

Dengan menjadi relawan, kata Agnisa lagi, ia bisa mendengar langsung apa yang dibutuhkan korban. Karenanya, menjadi relawan, baginya, menjadi seperti mengasah dan memvalidasi prasangka-prasangka yang ada.

Menepis Mitos Relawan

Selain itu, gadis manis ini juga ingin menepis mitos jika menjadi seorang relawan haruslah mapan secara finansial terlebih dulu. Menurutnya, mitos tersebut kerap menjadi penghalang bagi anak muda untuk terlibat dalam kegiatan kerelawanan.

“Padahal, menjadi relawan tidak harus menunggu kaya. Modal utamanya, adalah kemauan untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik dengan memberi tenaga dan waktunya untuk beraksi,” tambahnya.

Suka Duka Menjadi Reawan

Banyak cerita suka dan duka dialami Agnisa selama terjun menjadi relawan di berbagai lokasi. “Sukanya, yakni melihat orang yang dibantu mampu bertahan hidup, bahkan bisa kembali beraktivitas normal seperti biasa. Selain itu, bisa mendengarkan berbagai macam cerita, serta menambah pengalaman baru bagi saya,” ungkapnya.

Sedangkan untuk dukanya, Agnisa mengaku pernah bertemu pasien yang terlambat mendapatkan pertolongan. Ia dan rekan-rekannya sudah berusaha maksimal membantu kesembuhan si pasien, tapi Tuhan berkehendak lain.

“Kadang suka sedih kalau dengar cerita dari penerima manfaat, dan suka kepikiran terus. Belum lagi kalau bertemu pasien dengan kondisi penyakit yang sudah parah. Segala upaya sudah dilakukan untuk membantu, tapi Allah SWT berkehendak lain,” pungkasnya.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer