Atasi Kemacetan Lalu Lintas di Sukabumi, Ini Kata Dosen Teknik Sipil Universitas Nusa Putra

- Redaksi

Rabu, 22 Desember 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemacetan lalu lintas di Sukabumi yang terjadi setiap hari. l Istimewa

Kemacetan lalu lintas di Sukabumi yang terjadi setiap hari. l Istimewa

sukabumiheadline.com l SUKABUMI – Satu pengalaman yang akan dialami apabila melakukan perjalanan dari arah Bogor menuju Sukabumi adalah kemacetan lalu lintas. Dengan jarak 60 KM, normalnya, bisa dicapai dalam waktu 2,5 jam, sejatinya membutuhkan waktu empat sampai enam jam untuk sekali perjalanan, dari Bogor menuju Sukabumi, maupun sebaliknya.

Hal itu diungkapkan Paikun, Dosen Teknik Sipil Universitas Nusa Putra, pada Selasa, 21 Desember 2021. Menurutnya, ia pernah menghabiskan waktu hampir delapan jam untuk menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Sukabumi.

“Waktu tempuh delapan jam, itu hampir menyamai waktu tempuh dari Jakarta ke Semarang, Jawa Tengah,” kata Paikun kepada sukabumiheadline.com.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih jauh, ia mengungkapkan, Poros Sukabumi-Bogor menyandang gelar sebagai jalan termacet di Provinsi Jawa Barat, bahkan Nasional. “Kerugian yang ditimbulkan akibat kemacetan ini tidaklah sedikit, seperti pasien dalam ambulans yang harus menghembuskan napas terakhir dalam keadaan lalu lintas yang semrawut. Belum lagi pemakaian bahan bakar minyak yang tentunya naik signifikan akibat kemacetan,” jelas dia.

Semrawutnya lalu lintas diakibatkan oleh tingginya penggunaan kendaraan pribadi, juga kedisiplinan berlalu lintas yang sangat rendah.

“Dengan resources yang ada, dan UMP yang rendah jika dibandingkan dengan kawasan Jabodetabek, mengundang investor untuk berinvestasi di kawasan Sukabumi dan menjadikannya kawasan industri. Kehadiran investor selain membawa berkah bagi masyarakat juga membawa efek negatif turunan, yaitu masalah transportasi,” tambah Paikun.

Hal itu, menurut pria yang juga Ketua Program Studi (Prodi) Teknik Sipil Universitas Nusa Putra, itu bisa dilihat pada jam masuk dan keluar karyawan. Pada jam-jam tersebut, maka di kawasan Cibadak, Parungkuda, hingga Cicurug, berubah menjadi neraka kemacetan lalu lintas.

Baca Juga :  Hayu Dukung Abdul Azis, Posisi Remaja Sukabumi di Indonesian Idol Tidak Aman

Kemacetan yang terjadi di jalan poros Sukabumi-Bogor, juga diakibatkan banyaknya pasar tradisional atau pusat perekonomian yang terletak persis di pinggir jalan nasional tersebut. Selain itu, diperparah dengan banyak pabrik-pabrik di poros jalan tersebut.

“Apabila kita melintas di jalan tersebut bertepatan dengan jam masuk dan jam pulang karyawan maka dipastikan waktu tempuh perjalanan akan bertambah.

Solusi Kemacetan

Namun, Paikun menyebut, ada beberapa opsi yang bisa dijadikan solusi oleh pemerintah, yang diyakini Paikun bisa memangkas waktu tempuh serta mengurai kemacetan di jalan poros Sukabumi-Bogor.

Paikun menyebut, pembangunan Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) dan pembangunan double track kereta api (KA) bisa menjadi solusi mengatasi kemacetan lalu lintas. “Selain itu, pembatasan jam operasional kendaraan berat, hal itu akan mengurangi Kemacetan yang setiap hari terjadi,” kata Paikun.

Namun, layaknya fluida cair, volume lalu  lintas akan selalu mengikuti kapasitas prasarana transportasi yang di sediakan. Pembangunan Tol Bocimi akan mengalihkan volume lalu lintas perjalanan jarak jauh. Sedangkan, pembatasan jam operasional kendaraan berat akan mereduksi kepadatan lalu lintas.

“Juga pembangunan double track kereta api juga akan memberikan pilihan kepada masyarakat dalam melakukan perjalanan, serta industri dalam mengangkut hasil produksinya.

Namun, Paikun mengingatkan, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk Paikun meyakini, walaupun solusi-solusi  di atas telah dilakukan dengan baik, kemacetan yang terjadi sepanjang jalan poros Sukabumi-Bogor tidak dapat terhindarkan bahkan mungkin menjadi lebih parah.

“Permasalahan yang terjadi di Sukabumi adalah tingginya pengguna kendaraan pribadi, terutama sepeda motor terlebih bagi kalangan pekerja,” kata dia.

Karenanya, Paikun menyebut sudah saatnya pemerintah daerah mempertimbangkan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas dengan menyediakan angkutan publik yang layak. “Salah satu ciri kota modern yang berlaku di seluruh dunia yatu penggunaan transportasi masal,” cetus Paikun.

Baca Juga :  Sukabumi Masuk, Pemerintah Siapkan Rp157 Triliun untuk Infrastruktur 6 Kabupaten

Menurutnya, ada beberapa model yang mungkin bisa diterapkan dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada dan yang akan hadir di masa datang, seperti memanfaatkan jaringan rel KA yang ke depan akan menjadi double track.

“Elektrifikasi jalur kereta api sepanjang Sukabumi-Bogor, seperti commuter line untuk poros Bogor-Jakarta, disertai pembangunan kantung-kantung parkir di setiap stasiun, diyakini bakal menekan kemacetan lalu lintas karena jumlah kendaraan di jalan akan berkurang signifikan,” urai Paikun lebih jauh.

Terlebih, menurutnya, jika dilengkapi dengan kehadiran shuttle bus oleh para pelaku industri untuk antar jemput para karyawannya dari dan ke stasiun tujuan terdekat dengan kawasan industri.

Selain itu, pemerintah juga bisa memilih mengoptimalkan jaringan jalan yang tersedia, dengan membangun kantung-kantung parkir di kawasan shelter bus di atas.

“Pembuatan shelter bus ini pada titik awal keberangkatan para pekerja, dan di lokasi-lokasi industri atau pabrik,” usul Paikun.

Dengan demikian, kata dia, akan mengurangi bangkitan perjalanan pada jam masuk dan keluar karyawan.

“Jika hal itu dilakukan, saya yakin para pekerja akan menggunakan kendaraan pribadinya menuju shelter bus, kemudian memarkiran kendaraannya, lalu menuju tempat kerja dengan menggunakan shuttle bus,” tambahnya.

Jika volume lalu lintas kendaraan poros Sukabumi-Bogor berkurang signifikan, maka hal itu bisa mereduksi kemacetan yang sudah terjadi selama puluhan tahun.

“Namun demikian, bukan berarti penggunaan transportasi massal akan menyelesaikan seluruh permasalahan. Ada dampak sosial, seperti pelaku transportasi tradisional seperti supir angkot, elp, dan lainnya yang akan terdampak kebijakan tersebut. Tetapi, kita perlu belajar ke kota-kota lain yang sudah menerapkan mass transportation sejenis, seperti Jakarta dengan Transjakarta dan Palembang dengan Transmusi,” tandas Paikun.

Berita Terkait

10 kecamatan terbanyak koperasi di Sukabumi, KDM: Banyak rentenir berkedok kosipa
Kapan terakhir Gede Pangrango meletus? Sudah 50 kali, abu vulkanik hingga Sukabumi dan Jakarta
Spot wisata kuliner di Kota Sukabumi bertambah signifikan, bukti kondisi ekonomi membaik?
Kecamatan dengan nilai transaksi dan jumlah pelanggan Perumda AMTJM Kabupaten Sukabumi terbanyak
Hari ini, 111 tahun silam Kota Sukabumi didirikan untuk tempat tinggal warga Belanda
Nirkabel! Tak lama lagi Palabuhanratu dan Cikole Sukabumi bebas kabel listrik dan telepon
Sejarah, tugas dan daftar Jaksa Agung RI dari masa ke masa, pertama tokoh antikorupsi asal Sukabumi
Penduduk miskin Kota Sukabumi naik, ranking berapa se-Jawa Barat?

Berita Terkait

Sabtu, 5 April 2025 - 03:12 WIB

10 kecamatan terbanyak koperasi di Sukabumi, KDM: Banyak rentenir berkedok kosipa

Jumat, 4 April 2025 - 04:18 WIB

Kapan terakhir Gede Pangrango meletus? Sudah 50 kali, abu vulkanik hingga Sukabumi dan Jakarta

Kamis, 3 April 2025 - 10:00 WIB

Spot wisata kuliner di Kota Sukabumi bertambah signifikan, bukti kondisi ekonomi membaik?

Rabu, 2 April 2025 - 03:32 WIB

Kecamatan dengan nilai transaksi dan jumlah pelanggan Perumda AMTJM Kabupaten Sukabumi terbanyak

Selasa, 1 April 2025 - 00:01 WIB

Hari ini, 111 tahun silam Kota Sukabumi didirikan untuk tempat tinggal warga Belanda

Berita Terbaru

Lambang atau logo koperasi lama dan baru - Istimewa

Regulasi

Mengenal definisi, logo, prinsip, tujuan dan jenis koperasi

Sabtu, 5 Apr 2025 - 01:04 WIB