Berbincang dengan Pengamen Ondel-ondel di Parungkuda Sukabumi

- Redaksi

Senin, 8 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Grup pengamen ondel-ondel. l Ade Yosca Baharetha

Grup pengamen ondel-ondel. l Ade Yosca Baharetha

SUKABUMIHEADLINES.com I PARUNGKUDA – Berbagai macam lagu terdengar cempreng dari speaker active sederhana yang diletakkan di atas gerobak dorong. Lagu mengiringi arak-arakan enam pengamen ondel-ondel yang kerap mondar-mandir di Jalan Siliwangi, Parungkuda hingga Jalan Suryakencana, Cibadak, bahkan sampai Cisaat dan Kota Sukabumi.

Sekelompok pengamen ondel-ondel  tersebut terlihat berbeda dari pengamen-pengamen lainnya yang umumnya memiliki alat musik sendiri-sendiri.

Ondel-ondel
Grup pengamen ondel-ondel. l Ade Yosca Baharetha

Mereka adalah Ahmad atau yang biasa disapa Pilot (33), Roni Gunawan (19), Daniel Irvan (22), Aldi Maulana (14), Fiu Alman (8), Wisnu Gunawan (11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

sukabumiheadlines.com mewawancarai mereka pada Sabtu (6/11/2021), di depan sebuah kios di Jalan Siliwangi, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.

Ahmad, Roni, dan Daniel berasal dari Kota Depok. Ketiganya sengaja datang ke Sukabumi karena sudah tidak memungkinkan mengamen dengan ondel-ondel di Jakarta, semenjak ada larangan menjadikan ondel-ondel sebagai sarana mengamen. Larangan tersebutlah yang membawa ketiganya mengais rezeki di Sukabumi.

Sementara, Aldi, Fiu dan Wisnu merupakan anak-anak asal Kabupaten Sukabumi. Ketiga bocah itu rutin mengikuti aktivitas mengamen untuk menambah uang jajan.

Target Sanggar

Diungkapkan Daniel, setiap hari mereka memulai aktivitas mengamennya dari Sanggar Perkasa Parungkuda, tempat mereka bernaung untuk mencari rezeki. Setiap hari mereka mengakrabi debu jalanan, dari satu tempat ke tempat lainnya, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Juga :  Spek dan Harga Tata Super Ace, Ambulance Puskesmas Cicurug Tak Laik Fungsi

“Keluar dari sanggar jam 10.00 WIB, ada dua grup yang ngamen, satu grup ke arah Cicurug satu lagi kita ke arah Cibadak,” papar Daniel.

Grup Ahmad (Pilot) membawa dua ondel-ondel setiap mengamen, mereka berjalan dari Parungkuda menyisir jalanan sampai ke Cibadak. Bahkan, terkadang sampai Cisaat, jika setoran dirasa masih kurang dari target yang sudah ditentukan sanggar.

“Mulai jalan dari jam 10.00 WIB dan balik jam 17.00 WIB, tergantung duit yang didapat. Kalau belum dapat buat setoran ke sanggar, ya jalan terus. Makanya pernah sampai ke Cisaat,” tambahnya.

Uang hasil seharian mengamen yang mereka dapat dibagi dua dengan sanggar atau bagi hasil dengan pemilik sanggar.

“Istilahnya kita sewa ke sanggar, jadi setoran ke sanggar dari satu ondel-ondel itu Rp65 ribu, kalau dua ya jadi Rp130 ribu. Terus buat kitanya paling dapat Rp40 ribu per orang,” jelasnya.

Alasan Memilih Mengamen

Ketika sukabumiheadlines.com menanyakan alasan kenapa memilih berprofesi sebagai pengamen ondel-ondel, mereka memiliki alasan beragam. Dari mulai dari tidak mau menyusahkan orang tua, tekanan dari orang tua, sampai gara-gara berasal dari keluarga broken home.

“Saya sih mau jadi seperti ini karena tadinya gak kuat sama tekanan orang tua yang harus mengikuti kemauan mereka,” kata Ahmad.

Baca Juga :  Atap Rumah Milik Esih, Warga Cidahu Sukabumi Hancur

“Keadaan orang tua yang kurang mampu akhirnya saya gak mau nyusahin,” timpal Daniel.

“Kalau saya sih tadinya gara-gara orang tua cerai, akhirnya milih ngamen gini,” jawab Roni.

Anak-anak Sukabumi

Selain tiga pria dewasa, dalam grup ini juga terdapat tiga anak di bawah umur yang masih berstatus pelajar sekolah dasar (SD) di Parungkuda. Mereka ikut mengamen dari jam pulang sekolah.

Ketiga bocah Sukabumi tersebut ikut mengamen karena alasan tidak mau menyusahkan orang tua, serta untuk mencari tambahan uang jajan.

“Kita mah ngamen gini karena gak mau nyusahin orang tua, sama buat nambah uang jajan. Terus kalau ikut (ngamen), dari mulai pulang sekolah, jadi gak ngeganggu waktu sekolah kita,” ungkap Wisnu yang diamini kedua temannya.

Ditambahkan Daniel, ia mengaku selalu berpesan kepada ketiga bocah tersebut, jika ikut dalam rombongan mereka harus sepulang dari sekolah.

“Saya sih suka bilang ke mereka, kalau mau ikut ngamen harus pulang sekolah. Pokoknya kalian yang masih sekolah harus pada rajin sekolahnya, jangan sampai kayak kita-kita yang udah dewasa, ngerasain pahitnya hidup. Pokoknya kalian harus sukses,” pungkas Daniel.

Berita Terkait

Fakta-fakta tentang Owa Jawa di Sukabumi: Spesies langka, habitat dan ancaman
5 hal paling banyak terjadi dan dikeluhkan warga Sukabumi sepanjang 2025
Jutaan bayi lahir di Indonesia pada 2025, Sukabumi berapa?
5 tantangan dan ancaman sektor pertanian di Sukabumi
Kaleidoskop 2025: Jumlah korban tewas bencana alam di Sukabumi dan kerugian materi
5+2 masalah utama sektor pariwisata Sukabumi
Bukan Yongjin atau Yakjin, ini daftar pabrik garmen tertua di Sukabumi
Kaleidoskop 2025: Sederet kasus korupsi di Sukabumi, kades dan kadis terlibat

Berita Terkait

Minggu, 4 Januari 2026 - 03:06 WIB

Fakta-fakta tentang Owa Jawa di Sukabumi: Spesies langka, habitat dan ancaman

Sabtu, 3 Januari 2026 - 09:00 WIB

5 hal paling banyak terjadi dan dikeluhkan warga Sukabumi sepanjang 2025

Sabtu, 3 Januari 2026 - 01:25 WIB

Jutaan bayi lahir di Indonesia pada 2025, Sukabumi berapa?

Senin, 29 Desember 2025 - 16:42 WIB

5 tantangan dan ancaman sektor pertanian di Sukabumi

Senin, 29 Desember 2025 - 10:00 WIB

Kaleidoskop 2025: Jumlah korban tewas bencana alam di Sukabumi dan kerugian materi

Berita Terbaru

Julian Alvarez - Ist

Sosok

5 pesepakbola dunia tubuhnya tak ditato

Sabtu, 10 Jan 2026 - 01:55 WIB

Ilustrasi KA Siliwangi relasi Sukabumi-Bandung - sukabumiheadline.com

Jawa Barat

KA Siliwangi relasi Sukabumi-Bandung bakal lewati jalur baru

Jumat, 9 Jan 2026 - 17:07 WIB