Harga kakao global melambung, hitung produksi bahan baku cokelat di Sukabumi

- Redaksi

Selasa, 29 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi petani kakao - sukabumiheadline.com

Ilustrasi petani kakao - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Harga kakao mengalami lonjakan ekstrem di pasar global yang dipicu oleh krisis pasokan mulai membentuk ulang kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi cokelat.

Kenaikan harga bahan baku yang signifikan ini memaksa konsumen menyesuaikan pengeluaran, yang pada akhirnya memicu pergeseran tren dari konsumsi massal menjadi penikmat cokelat berkualitas dalam porsi yang lebih terkendali.

Diberitakan ABC, kondisi pasar kakao dunia saat ini mencatatkan pergerakan yang sangat fluktuatif. Harga komoditas ini sempat menembus rekor tertinggi di level US$12.000 per ton pada 2024.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski sempat mengalami koreksi hingga ke kisaran US$2.600 per ton pada awal 2026, harga kembali menunjukkan tren peningkatan tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Sejumlah analis memprediksi harga cokelat di tingkat ritel diproyeksikan tidak akan kembali ke level pra-krisis dalam waktu dekat.

Tingginya harga ini berakar dari masalah struktural berupa kelangkaan pasokan global, yang dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem, termasuk risiko El Nino aktif, serta serangan virus pada sentra-sentra tanaman kakao.

Tekanan beban bahan baku ini dirasakan merata oleh seluruh lapisan pelaku industri. Sebagai gambaran di tingkat produsen artisan, harga biji kakao mentah yang sebelum pandemi Covid-19 berada di kisaran 8 dolar per kilogram, kini telah melonjak hingga 20 dolar per kilogram.

Hal ini memaksa para produsen untuk menyesuaikan harga jual produk akhir di pasaran secara signifikan. Kondisi harga jual selangit ini memicu perubahan fundamental pada perilaku konsumen.

Alih-alih terus membeli cokelat murah dengan kandungan gula tinggi dalam jumlah banyak, masyarakat diprediksi akan beralih ke produk cokelat dengan kualitas kakao yang lebih baik, mengonsumsinya secara selektif, dan menikmatinya sedikit demi sedikit.

Guna menekan risiko kerentanan pasokan di masa depan, pelaku industri kini mulai memfokuskan investasi pada penguatan ketahanan sektor hulu.

Langkah yang diambil mencakup penerapan sistem pertanian yang adaptif terhadap iklim, peningkatan produktivitas lahan, serta perluasan diversifikasi negara pemasok biji kakao.

Kabar tersebut tentunya menjadi angin segar bagi para petani kakao di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Volume produksi kakao di Sukabumi 

Ilustrasi coklat batangan, hasil olahan kakao - sukabumiheadline.com
Ilustrasi coklat batangan, hasil olahan kakao – sukabumiheadline.com

Kakao atau Theobroma cacao adalah tanaman perkebunan tropis yang bijinya merupakan bahan baku utama pembuatan cokelat. Kakao sering disebut “makanan para dewa” karena kandungan antioksidan tinggi, senyawa bioaktif, dan rasanya yang khas.

Produksi kakao rakyat di Kabupaten Sukabumi tercatat sekitar 11,1 ribu ton pada 2024, menjadikannya salah satu komoditas perkebunan di Sukabumi. Namun, tidak tersedia data rinci menurut kecamatan. Adapun total luas kebun kakao di Sukabumi adalah 353,7 hektar.

Meskipun bukan penghasil utama seperti di Sulawesi, perkebunan kakao rakyat tetap ada. Bimbingan teknis peremajaan dan teknologi budidaya kakao telah dilakukan di daerah ini, termasuk di area Jampang Tengah. Baca selengkapnya: 11 Kecamatan penghasil kakao di Sukabumi

Kakao di Sukabumi umumnya dikelola dalam skala perkebunan rakyat, di mana satu kilogram kakao basah mampu menghasilkan 0,4 kg kakao kering.

Meskipun tidak sebesar dari Sulawesi dan Sumatera, namun, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, 2025, ada 11 kabupaten yang menjadi sentra buah kakao di Tatar Pasundan, yakni:

  • Kabupaten Garut: 6,5 hektar
  • Kabupaten Kuningan: 9,4 hektar
  • Kabupaten Bandung: 10 hektar
  • Kabupaten Bogor: 12 hektar
  • Kabupaten Karawang: 37,6 hektar
  • Kabupaten Sukabumi: 353,7 hektar
  • Kabupaten Bandung Barat: 452,7 hektar
  • Kabupaten Cianjur: 747,8 hektar
  • Kabupaten Pangandaran: 884 hektar
  • Kabupaten Tasikmalaya: 835,6 hektar
  • Kabupaten Ciamis: 1.623,8 hektar

Berita Terkait

Mindshift 5: Kreasi Wargi: IPB University bekali eks TKI Sukabumi hilirisasi budidaya lele
50 UMKM Sukabumi dibantu FEB UI perluas pasar melalui pelatihan digital marketing
Tips & trik A-Z merintis usaha toko pakaian di era belanja online plus konsep promosi dan pemasaran
Dampak Program MBG terhadap produksi 22 jenis sayuran di Sukabumi
Cek keuntungannya, pemerintah: Status driver ojol adalah UMKM, bukan pegawai
Sukabumi juara 3, daftar kota dan kabupaten yang warganya paling kreatif
Harga plastik tak kunjung turun, pelaku UMKM Sukabumi menangis
Amran ingin penghasilan petani kopi setara menteri, berapa produksi di Sukabumi?

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 04:56 WIB

Harga kakao global melambung, hitung produksi bahan baku cokelat di Sukabumi

Rabu, 16 September 2026 - 22:41 WIB

Mindshift 5: Kreasi Wargi: IPB University bekali eks TKI Sukabumi hilirisasi budidaya lele

Selasa, 8 September 2026 - 19:56 WIB

50 UMKM Sukabumi dibantu FEB UI perluas pasar melalui pelatihan digital marketing

Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:43 WIB

Tips & trik A-Z merintis usaha toko pakaian di era belanja online plus konsep promosi dan pemasaran

Rabu, 12 Agustus 2026 - 01:13 WIB

Dampak Program MBG terhadap produksi 22 jenis sayuran di Sukabumi

Berita Terbaru

Seorang wanita sedang melakukan perawatan rambut di salon kecantikan - sukabumiheadline.com/AI

Hikmah

Haram, hukum menjual rambut dalam Islam

Selasa, 29 Sep 2026 - 00:01 WIB

Nissan Pixo EV - Nissan

Otomotif

Mobil mungil Nissan Pixo meluncur, cek harga dan spesifikasi

Senin, 28 Sep 2026 - 18:00 WIB