sukabumiheadline.com – Populasi Republik Federal Jerman diperkirakan akan menurun dari 83,5 juta jiwa pada 2025 menjadi sekitar 81,8 juta jiwa pada 2045. Karenanya, studi terbaru mengungkap Jerman bakal didominasi lansia. Bahkan, Jerman juga diprediksi bakal mengalami kekurangan tenaga kerja pada 2045.
Sebuah studi terbaru dari Berlin Institute for Population and Development, Berlin-Institut für Bevölkerung und Entwicklung, bekerjasama dengan Wüstenrot Foundation, sebuah organisasi nirlaba di Jerman menyebut penurunan populasi bukanlah tantangan utama di negara itu.
Kekhawatiran utama adalah terus meningkatnya jumlah pensiunan. Di sisi lain, jumlah tenaga kerja terus menyusut dan diprediksi bakal berkurang 4,7% pada 2045.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Generasi baby boomer (merujuk pada mereka yang lahir pada 1960-an) sedang memasuki masa pensiun, sementara generasi setelahnya jumlahnya jauh lebih sedikit. Angka kelahiran menurun, dan imigrasi tidak cukup untuk menutupi selisih yang terus membesar antara jumlah kematian dan kelahiran,” kata Presiden Berlin Institute for Population and Development, Catherina Hinz, dilansir DW.com.
“Beberapa wilayah akan kehilangan banyak penduduk dan tenaga kerja dalam beberapa tahun mendatang, sementara wilayah lain terus tumbuh. Bahkan di Jerman bagian timur, Jerman bagian selatan, dan daerah pedesaan, kesenjangan demografis dan ekonomi makin melebar,” jelas Hinz.
Ia menambahkan, perubahan demografis sedang terjadi di depan mata kita dan dampaknya sudah dirasakan di seluruh negeri.
“Dampaknya masih bisa dikurangi, tetapi tidak lagi bisa dihindari, dan makin lama kita menunggu, makin sempit ruang gerak yang kita miliki,” tambahnya.

Sementara itu, Frederick Sixtus dari Berlin Institute mencatat bahwa hampir semua wilayah kini mencatat jumlah kematian yang lebih tinggi daripada kelahiran.
Meskipun dalam beberapa dekade terakhir, imigrasi dari luar negeri membantu menstabilkan tren populasi, namun tidak lagi cukup untuk menghentikan penuaan penduduk Jerman.
Menurut studi yang sama, sejumlah faktor penting agar suatu wilayah tetap menarik bagi pendatang dari luar negeri maupun dari wilayah lain di Jerman, yakni pekerjaan berkualitas dengan gaji serta iklim kerja yang baik.
Selain itu, ketersediaan tenaga terampil bagi perusahaan lokal, kondisi keuangan pemerintah daerah yang kuat, layanan penitipan anak yang memadai, serta infrastruktur transportasi dan mobilitas yang andal.
Berlin jadi magnet
Sementara itu menurut Manuel Slupina dari Wüstenrot Foundation, banyak kota besar diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Berlin diprediksi bakal mengalami pertambahan penduduk hampir 10% pada 2045.
Kota lain yang diperkirakan akan menarik penduduk baru adalah Hamburg, Frankfurt am Main, München, dan Düsseldorf serta Leipzig, Dresden, dan Potsdam.
Adapun wilayah yang kemungkinan kehilangan penduduk mencakup beberapa kota besar di Jerman bagian barat, termasuk Bremen, Duisburg, Dortmund, dan Kaiserslautern, yang daya tarik ekonominya secara bertahap menurun. Pada posisi terbawah dalam peringkat terdapat banyak wilayah berpenduduk jarang, sebagian besar berada di Jerman bagian timur.

Persaingan memperebutkan tenaga kerja
Sebanyak 12 dari 20 distrik dan kota administratif independen dengan peringkat keseluruhan terendah kini berada di Jerman bagian timur, naik dari lima wilayah dalam penilaian sebelumnya pada 2019.
Sementara itu, negara bagian Bayern dan Baden-Württemberg di Jerman bagian selatan dianggap memiliki prospek paling kuat. Sementara Bayern menempati peringkat sangat tinggi berkat ekonominya yang kuat.
Alhasil, perempuan, lansia, dan warga non-Jerman juga lebih banyak bekerja di Bayern dibandingkan wilayah lain. Peringkat tersebut menunjukkan bahwa wilayah yang ekonominya sukses lebih berhasil mengintegrasikan berbagai kelompok masyarakat ke dalam pasar kerja dibandingkan wilayah yang lebih lemah secara ekonomi.
Meski demikian, cepat atau lambat, Jerman tidak memiliki banyak pilihan selain mereformasi sistem pembagian keuangan antara pemerintah federal dan daerah.









