19.8 C
Sukabumi
Selasa, Juli 23, 2024

Yamaha Zuma 125 meluncur, intip harga dan penampakan detail motor matic trail

sukabumiheadline.com - Yamaha resmi memperkenalkan Zuma 125...

Desain Ala Skuter Retro, Intip Spesifikasi dan Harga Suzuki Saluto 125

sukabumiheadline.com l Di belahan dunia lain, Suzuki...

Satu Istri dengan 5 Suami, Anak-anak di Nepal Panggil Semuanya Ayah

InternasionalSatu Istri dengan 5 Suami, Anak-anak di Nepal Panggil Semuanya Ayah

SUKABUMIHEADLINE.com l Ada banyak tradisi pernikahan di dunia yang terkadang sulit dimengerti, terlebih di era modern seperti saat ini. Terkadang, seperti terkesan nyeleneh dan anti peradaban.

Salah satu yang terbilang nyeleneh, adalah seperti dilansir kanal YouTube Ruang Pengetahuan yang menceritakan tradisi pernikahan nyeleneh di Nepal, di mana satu istri memiliki suami 5.

Dalam dunia perwayangan, pernikahan ini bak kisah Dewi Drupadi yang bersuamikan lima ksatria Pandawa. Sebuah kisah pernikahan poliandri yang cukup populer di kalangan masyarakat.

Adapun, apa yang terjadi di desa Himalaya yang berada di Tibet, India, dan Nepal, wanita yang bersuamikan lebih dari satu orang justru menjadi sebuah tradisi.

Poliandri di Nepal sering dilakukan, sementara poligami sendiri justru dilarang sejak tahun 1963. Orang-orang di daerah Humla, Dolpa, dan Kosi, Nepal, kabarnya lebih mementingkan tradisi.

Tradisi tersebut, konon, sudah berjalan sejak zaman nenek moyang orang-orang di Nepal tersebut. Mereka tetap menjalani yang namanya poliandri hingga kini.

Jika di wilayah lain banyak menganut tradisi poligami, namun sebuah desa terpencil di kawasan Himalaya, Nepal, justru menjalankan tradisi poliandri atau satu istri banyak suami.

Tak heran jika anak anak di desa tersebut, memanggil “ayah” kepada semua pria yang menjadi suami dari ibunya.

Seorang remaja putri bernama Tashi Sangmo, saat berumur 14 tahun dia sudah dinikahkan dengan tetangganya.

Sebagai bagian dari pernikahan itu, wanita yang kini berusia 17 tahun itu juga setuju untuk menikah dengan adik lelaki suaminya.

Pada masa lalu, anak-anak lelaki dari setiap keluarga di wilayah Upper Dolpa menikahi satu perempuan. Namun, kini praktik poliandri itu mulai terkikis sebab masyarakat di sana mulai terbuka pada kehidupan modern.

“Segala sesuatu lebih mudah dengan cara seperti ini karena semuanya berada dalam satu keluarga,” kata Sangmo dikutip sukabumiheadline.com, Selasa (2/8/2022).

“(Harta) tidak dibagi di antara banyak istri dan di sini saya yang bertanggung jawab,” tambah Sangmo.

“Dua lelaki kakak beradik pulang membawa uang dan sayalah yang memutuskan bagaimana menggunakannya,” jelas dia lebih jauh.

Disebutkan, saat Sangmo menikah dengan Mingmar Lama, sudah disepakati bahwa adik Mingmar, yang waktu itu berumur 14 tahun, bakal masuk dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Di dalam rumah tangga mereka, lahir tiga anak lelaki, masing-masing berusia delapan, enam, dan empat tahun.

“Saya ingin berbagi ikatan ini dengan adik karena kehidupan menjadi lebih mudah bagi kami berdua,” kata Pasang (25).

Mereka tinggal di sebuah bernama Desa Simen, yang terletak di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut dan diperlukan waktu lima hari berjalan kaki ke kota terdekat.

Secara tradisional, warga Upper Dolpa merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang membuka jalan antara Nepal dan Tibet.

Hingga kini mereka masih mengikuti tradisi menggiring yak yang membawa garam dari Tibet dan beras dari dataran Terai.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer