sukabumiheadline.com – Sebuah video yang bikin haru sekaligus geregetan viral di media sosial. Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu, terekam bersujud di hadapan para pejabat pusat dalam rapat koordinasi percepatan pembangunan daerah tertinggal di Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Rabu (25/2/2026).
Bukan karena kalah debat atau minta jabatan. Ia sujud memohon perhatian pemerintah pusat untuk 30 kabupaten tertinggal (daerah 3T) yang selama puluhan tahun masih bergulat dengan kemiskinan dan keterbatasan infrastruktur.
“Kami Capek Miskin, Pak!” katanya dikutip sukabumiheadline.com, Sabtu (7/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, Amizaro yang ditunjuk sebagai koordinator 30 kabupaten tertinggal, melontarkan kalimat yang bikin ruangan hening dan netizen banjir komentar.
“Pak Menteri, Pak Gubernur, dan Bapak-Ibu semuanya, kami ini sudah capek miskin. Capek miskin kami.”
Netizen pun membayangkan kalimat itu seperti tamparan keras bagi pemerintah pusat. Seorang kepala daerah sampai harus mengatakan hal tersebut di forum resmi.
Amizaru kemudian membandingkan kondisi Nias Utara dengan daerah maju di Jawa yang bikin miris.
“Kalau kepala daerah yang ada di Jawa ini (berbicara) bagaimana pengembangan AI (Artificial Intelligence), mal, jalan tol, dan lain sebagainya, kami masih berbicara mengenai rumah tidak layak huni, masih berbicara mengenai listrik, internet. Inilah beda kami, pak,” lanjut dia.
Ia menegaskan, setelah 80 tahun Indonesia merdeka, masyarakatnya masih harus berjuang untuk mendapatkan akses listrik yang memadai.
“Kemerdekaan Indonesia 80 tahun, sesungguhnya tidak akan bicara listrik. Jengkol (daerah) kami ini masih berjuang bagaimana ada listrik,” beber Amizaro.
Bayangin aja di era Jakarta sibuk ngomongin artificial intelligence dan mobil listrik, di Nias Utara warga masih bergelut dengan kegelapan malam.
Di tengah penyampaiannya, Amizaro tiba-tiba bersujud di samping podium. Bukan karena jatuh, tapi sebagai bentuk penghambaan dan permohonan tulus agar daerah tertinggal mendapat perhatian serius.
“Sehingga kami, Pak, mohon. Ya. Kami sudah capek miskin. Kami mewakili kawan-kawan daerah 3T,” ujarnya sambil masih dalam posisi sujud. Para pejabat yang hadir pun tampak tertegun, beberapa bertepuk tangan, ada yang diam saja (bingung).
Tak hanya memohon perhatian untuk 30 daerah 3T, Amizaro juga meminta akses bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto.
“Saya sebagai bupati merasa tidak ada apa-apanya, dengan cara apa saya bertarung? Tidak ada. Sehingga di hari yang berbahagia ini saya mohon, sesungguhnya kemerdekaan itu untuk kami di mana? Termasuk kami mohon akses kami kepada Bapak Presiden Republik Indonesia,” pungkasnya.
Ia ingin menyampaikan langsung kondisi riil rakyatnya kepada pemimpin tertinggi. Bukan karena tidak percaya pada menteri, tapi karena ia ingin memastikan bahwa suara rakyat kecil benar-benar sampai ke puncak kekuasaan.
Amizaro Waruwu mungkin bukan bupati dengan gaya mewah atau pidato bombastis. Tapi ia telah melakukan sesuatu yang lebih berarti merendahkan diri demi rakyatnya. Sebuah sujud yang bukan karena takut, tapi karena cinta.
Ia mengingatkan kita semua bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Masih ada saudara-saudara kita di timur yang bergelut dengan kegelapan, sementara kita di barat sibuk dengan gemerlap teknologi.









