sukabumiheadline.com – Perempuan Sunda dikenal gigih dan mandiri. Namun demikian, bukan berarti mereka terbebas dari ancaman dan berbagai macam tantangan.
Dikutip sukabumiheadline.com dari berbagai jurnal, seperti Celebrating Art, How Sundanese Women Wiwitan Kuningan Participate in the Fight to Defend Land and Traditions di laman INFID, dan dari Jurnal Perempuan berjudul Perempuan Sunda, Selasa (27/1/2026), perempuan Sunda saat ini menghadapi berbagai tantangan dan ancaman yang kompleks.
Tantangan dan ancaman dimaksud berakar dari kombinasi budaya patriarki, stereotip media, hingga perubahan sosial-ekonomi. Meskipun secara historis perempuan Sunda digambarkan cerdas dan mandiri, tantangan struktural dan kultural masih nyata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara umum, tantangan dan ancaman tersebut terjadi di seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat. Di Sukabumi, wanita menghadapi beragam ancaman di lingkup domestik, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kerentanan ekonomi, dan lain sebagainya.
Sementara itu, tantangan di ruang publik, terutama di tempat kerja, tidak kalah mengancam. Dari mulai budaya patriarki yang mengakar, stereotip negatif, hingga kekerasan berbasis gender.
Sedangkan di sisi lain, banyak di antaranya berperan ganda, sebagai ibu sekaligus ayah yang setiap hari diperas tenaganya untuk mencari nafkah akibat perceraian. Baca selengkapnya: Membanding angka perceraian Kota dan Kabupaten Sukabumi dua tahun terakhir, pengertian dan prosedur
Untuk informasi, INFID atau International NGO Forum on Indonesian Development) adalah organisasi masyarakat sipil (OMS) berbasis anggota di Indonesia yang fokus pada isu demokrasi, kesetaraan, keadilan sosial, dan hak asasi manusia (HAM), bertujuan mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan, serta aktif mengadvokasi kebijakan nasional dan global sejak 1985.
Berikut adalah beberapa tantangan dan ancaman utama terhadap wanita Sukabumi dan perempuan Sunda pada umumnya:
1. Tantangan Kultural dan Struktural

- Budaya Patriarki yang Mengakar: Meskipun masyarakat Sunda mengenal sistem kekerabatan parental (sejajar), percampuran budaya dan penafsiran nilai tertentu sering kali menempatkan laki-laki sebagai pengambil keputusan utama, sementara perempuan dibatasi pada peran domestik (istri/ibu).
- Marginalisasi dalam Ruang Publik: Terdapat kecenderungan peminggiran perempuan dari peran strategis atau pekerjaan formal, membatasi partisipasi mereka dalam sektor publik dan politik. Baca selengkapnya: Lalitya: Wali Kota Sukabumi Turut Andil Memelihara Stereotip Gender, Dapur Sumur, Kasur
- Beban Ganda (Double Burden): Perempuan Sunda sering kali dituntut untuk produktif (bekerja/membantu ekonomi keluarga) sekaligus bertanggung jawab penuh atas seluruh pekerjaan rumah tangga. Baca selengkapnya: 45% Wanita di Kota Sukabumi Memilih Bekerja, 20% Pria Menganggur
2. Ancaman Stereotip dan Representasi Media

- Objektifikasi dan Stereotip Negatif: Media terkadang merepresentasikan perempuan Sunda dengan stereotip negatif, seperti pelabelan yang menonjolkan kemampuan menarik lawan jenis (kawin kontrak), yang sering kali merugikan citra dan harga diri perempuan secara keseluruhan. Baca selengkapnya: Stereotip gender warga Jakarta terhadap wanita Sukabumi: Cantik, religius, tapi…
- Standar Kecantikan yang Tidak Realistis: Tekanan terhadap “wacana kecantikan” (fisik) terkadang mengabaikan kualitas intelektual dan karakter (Brain, Beauty, Behavior). Baca selengkapnya: Aktivis Perempuan Sukabumi: Standar Cantik Mendiskriminasi Wanita
3. Tantangan Sosial-Ekonomi dan Pendidikan

- Ketimpangan Gender di Jawa Barat: Data Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Provinsi Jawa Barat menunjukkan tantangan yang masih tinggi dalam hal kesetaraan pendidikan, tenaga kerja, dan partisipasi politik. Baca selengkapnya: Puluhan ribu pria di Kabupaten Sukabumi urus rumah tangga, 500 ribu lebih wanita bekerja
- Kerentanan dalam Ekonomi: Marginalisasi ekonomi sering kali membatasi akses perempuan terhadap pekerjaan dengan upah layak. Baca selengkapnya: Setengah juta lebih wanita Sukabumi memilih bekerja
- Kurangnya Representasi di Sastra dan Akademik: Adanya pengamatan bahwasanya saat ini, meskipun populasi Jawa Barat tinggi, peran perempuan Sunda dalam ranah sastra atau akademik masih terbilang jarang mencolok.
4. Ancaman Kekerasan dan Lingkungan
- Kekerasan Berbasis Gender: Perempuan Sunda, seperti perempuan di wilayah lain, masih rentan terhadap kekerasan seksual, pelecehan di tempat kerja, dan kekerasan domestik. Baca selengkapnya: Ratusan wanita dan anak Kota Sukabumi jadi korban kekerasan selama 2024
- Dampak Bencana dan Konflik: Dalam situasi bencana (yang sering terjadi di Jawa Barat), peran reproduktif perempuan membuat mereka lebih rentan, terutama dengan minimnya perwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait manajemen pascabencana. Baca selengkapnya: Ditemukan tewas berpelukan, ibu dan anak korban banjir Sukabumi
- Strategi Pertahanan (Resistensi):
Perempuan Sunda juga berupaya melawan narasi patriarkal melalui solidaritas (sisterhood), pendidikan, dan aktif dalam gerakan sosial atau pelestarian budaya.









