5 penemuan di Sukabumi, dari koin kuno hingga bunker dan guci berisi emas

- Redaksi

Minggu, 7 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Guci kuno berisi logam mulia emas - sukabumiheadline.com

Guci kuno berisi logam mulia emas - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Wilayah Sukabumi ternyata memiliki catatan sejarah sangat panjang. Terbukti selain Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang diperkirakan berusia jutaan tahun, juga dengan penemuan sejumlah benda bersejarah dan antik.

Penemuan menarik di Sukabumi meliputi indikasi situs megalitik di Gunung Tangkil oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penemuan fosil purba seperti gigi megalodon dan paus di kawasan Ciletuh, serta penemuan koin kuno di pesisir Ujunggenteng. Selain itu, ada juga penemuan guci berisi logam mulia berupa emas.

Berikut daftar 5 temuan arkeologis dan sejarah di Sukabumi, dirangkum pada Ahad (7/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Koin kuno di Ujunggenteng

Koin kuno ditemukan di Ujung genteng Sukabumi
Koin kuno ditemukan nelyan di Ujunggenteng Sukabumi – Ist

Nelayan menemukan koin-koin kuno di Pesisir Ujunggenteng, Sukabumi, terjadi pada Juli 2025 oleh nelayan bernama Sopyan saat mencari ikan, memicu warga lain ikut mencari hingga viral di media sosial, diduga merupakan peninggalan kolonial Belanda (tahun 1800-an hingga awal 1900-an), dengan tanda seperti “Netherland” atau “setengah Rupiah”.

Koin kuno tersebut kini sedang dalam proses kajian oleh Disparbudpora Kabupaten Sukabumi untuk diteliti lebih lanjut sebagai warisan sejarah dan potensi wisata budaya.

2. Prasasti Sanghyang Tapak

Prasasti nomor D96, salah satu dari empat prasasti batu Sanghyang Tapak yang disebut juga Prasasti Jayabupati atau Prasasti Cicatih. l Kemendikbud RI
Prasasti nomor D96, salah satu dari empat prasasti batu Sanghyang Tapak yang disebut juga Prasasti Jayabupati atau Prasasti Cicatih – Kemendikbud RI

Prasasti Sanghyang Tapak merupakan peninggalan Kerajaan Sunda yang pernah berdiri di wilayah barat Pulau Jawa. Berdasarkan catatan dalam prasasti tersebut, raja yang berkuasa di Sunda adalah Sri Jayabhupati. Baca selengkapnya: Dulu bernama Ciheulang, 5 catatan sejarah Kota Cibadak Sukabumi sejak zaman purba

Dilansir sukabumixyz.com, salah satu yang menarik dari prasasti ini adalah isinya mengandung kutukan sang raja dan dinilai para ahli sebagai tidak biasa ditemukan pada prasasti-prasasti dari Kerajaan Sunda.

Prasasti Sanghyang Tapak berwujud empat batu alam yang mengandung pasir. Berdasarkan Notulen Bataviaasch Genootschap dari akhir abad ke-19, disebutkan bahwa empat potongan batu ini ditemukan di dua tempat berbeda, yakni di tepi Sungai Cicatih (dekat stasiun kereta Cibadak) dan di Pangcalikan, Bantarmuncang, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Baca selengkapnya: Kisah Sanghyang Tapak dan kutukan mengerikan dari Raja Sunda di Cibadak Sukabumi

3. Situs megalitik Gunung Tangkil

BRIN usulkan Gunung Karang dan Gunung Tangkil Sukabumi jadi cagar budaya
BRIN usulkan Gunung Karang dan Gunung Tangkil Sukabumi jadi cagar budaya – Ist

Peneliti dari BRIN mengusulkan dua gunung menjadi cagar budaya dan eco-museum. Adapun kedua gunung tersebut terletak di Kota dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

BRIN menemukan indikasi kuat adanya struktur megalitik berskala besar yang tidak tercatat, dimulai dari temuan fragmen pahatan batu di lereng terpencil.

Hal itu terungkap usai peneliti BRIN bersama tim dari Museum Prabu Siliwangi melakukan peninjauan ke sejumlah situs bersejarah seperti Gunung Karang di Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi.

Sementara itu, Gunung Tangkil terletak di kawasan Cagar Alam Sukawayana, Desa Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Penelitian dilakukan pada 27–30 Mei 2025. Baca selengkapnya: Ini alasan BRIN usul Gunung Karang dan Gunung Tangkil Sukabumi jadi cagar budaya dan eco-museum

4. Fosil hewan purba

Fosil hiu megalodon di Sukabumi
Fosil hiu megalodon di Sukabumi

Penemuan fosil gigi hiu megalodon (terbesar di Indonesia) dan fosil paus di daerah Surade dan Ciracap, menunjukkan kawasan pesisir Sukabumi adalah aset geologi.

Untuk melestarikan warisan purbakala ini, Museum Megalodon pertama di Indonesia pun kemudian resmi dibangun di Sukabumi, tidak jauh dari lokasi.

Museum ini didirikan persis dikawasan berbagai fosil ini ditemukan, yakni di Desa Gunung Sungging, Surade, yang menurut penelitian lokasi tersebut merupakan kuburan berbagai hewan purba yang hidup di zaman jutaan tahun silam. Baca selengkapnya: Intip Koleksi Museum Hiu Purba Megalodon Berusia Jutaan Tahun di Sukabumi

5. Bunker dan harta karun

Penemuan harta karun berupa emas dan berlian di perbatasan Kabupaten Sukabumi dengan Bogor, Jawa Barat, pada 1946 atau setahun setelah Indonesia merdeka sempat menggegerkan publik Tanah Air.

Harta karun itu berupa 7 kg emas dan 4 kg berlian, yang asalnya dari Perkebunan Pondok Gede, lalu dikubur di wilayah perbatasan Sukabumi-Bogor. Menurut taksiran majalah Ekspres edisi 29 September 1972, logam mulia tersebut berharga mencapai Rp6 miliar.

Penemuan berawal ketika pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tengah mengamankan daerah perbatasan antara Cigombong dengan Cicurug, yang sebelumnya pernah ditempati pasukan Jepang. Baca selengkapnya: Kisah penemuan guci besar berisi emas dan berlian di perbatasan Sukabumi

Berita Terkait

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia
27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage
24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen
23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas
HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?
Kapolri minta MUI haramkan vape
18 Oktober: Hari Menopause Sedunia, kenali gejala, penyebab, obat dan pencegahan
17 Oktober: Jumlah penduduk miskin Sukabumi di Hari Pemberantasan Kemiskinan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:44 WIB

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:58 WIB

27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 03:57 WIB

24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:29 WIB

23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:23 WIB

HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB