Kisah penemuan guci besar berisi emas dan berlian di perbatasan Sukabumi

- Redaksi

Minggu, 18 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komandan Brigade TNI, Letnan Kolonel Alex Evert Kawilarang - Istimewa

Komandan Brigade TNI, Letnan Kolonel Alex Evert Kawilarang - Istimewa

sukabumiheadline.com – Penemuan harta karun berupa emas dan berlian di perbatasan Kabupaten Sukabumi dengan Bogor, Jawa Barat, pada 1946 atau setahun setelah Indonesia merdeka sempat menggegerkan publik Tanah Air.

Harta karun itu berupa 7 kg emas dan 4 kg berlian, yang asalnya dari Perkebunan Pondok Gede, lalu dikubur di wilayah perbatasan Sukabumi-Bogor. Menurut taksiran majalah Ekspres edisi 29 September 1972, logam mulia tersebut berharga mencapai Rp6 miliar.

Penemuan berawal ketika pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tengah mengamankan daerah perbatasan antara Cigombong dengan Cicurug, yang sebelumnya pernah ditempati pasukan Jepang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, mereka dikagetkan dengan penemuan sebuah oeti berukuran besar berisi emas dan berlian yang terkubur di lahan sekitar lokasi pengamanan.

Selanjutnya, peti berisi logam mulia itu diserahkan kepada Komandan Brigade TNI, Letnan Kolonel Alex Evert Kawilarang. Kisah itu terungkap dalam buku dalam A.E Kawilarang Untung Sang Merah Putih (1988:86).

“Kami pernah diserahkan sebuah peti yang mulanya kami kira obat-obatan. Petinya besar sekali. Waktu dibuka ternyata isinya kondom,” tutur Kolonel Alex Evert Kawilarang dalam bukunya.

Karena penasaran, kemudian tentara bersama rakyat melanjutkan penggalian di lahan sekitar lokasi penemuan. TNI menduga ada senjata yang dikubur yang dapat digunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Namun, alih-alih mendapat senjata terkubur, sebuah bom yang terkubur tetiba meledak, sehingga melukai tentara yang melakukan penggalian.

Ilustrasi harta karun. l Istimewa
Ilustrasi harta karun – Istimewa

Hingga pada saat Kawilarang didatangi Sersan Mayor Sidik yang mengaku menemukan guci besar berisikan logam mulia berupa emas dan berlian. Kisah ini terungkap dalam buku Haji Priyatna Abdurrasyid: Dari Cilampani ke New York (2001:102).

“Sersan Mayor Sidik bersama beberapa anggota polisi tentara dan rakyat menemukan sebuah guci besar. Setelah guci itu dibuka, mereka menemukan kaus kaki yang berisikan barang keras. Kaos kaki itu mereka buka satu persatu. Mereka kaget melihat isinya emas permata dan berlian yang sudah dicongkel-congkel gemerlapan,” dikutip buku tersebut.

Sejumlah orang yang hadir sangat bernafsu menyaksikan harta karun itu. Sontak saja hal itu membuat Kawilarang yang jengkel. Ia lalu mengambil dua peti granat.

“Bapak-bapak mau berjuang lagi? Ini untuk berjuang,” kata Kawilarang kepada orang-orang yang terlihat bernafsu ingin memiliki logam mulia tersebut, seraya menyerahkan dua peti granat.

“Ini untuk berjuang!” tegas dia dengan wajah tak bersahabat.

Kawilarang kemudian menulis surat kepada Residen Bogor Moerdjani mengenai penemuan penting tersebut. Namun, Moerdjani meminta Kawilarang untuk menyerahkan barang berharga tersebut ke Kementerian Dalam Negeri.

“Jangan ke saya. Kirimkan saja ke Kementerian Dalam Negeri,” saran sang Residen Bogor.

Kawilarang lalu memerintahkan Letnan Godjali untuk menyerahkan harta penemuan ke pemerintah pusat yang saat itu berada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Emas dan berlian itu pun tiba di Yogyakarta dalam keadaan utuh, lalu diserahkan kepada Sekretaris Kementerian Dalam Negeri, Mr. Sumarman.

Diberitakan CNBC Indonesia, harta karun itu diserahkan ke Bank Negara Indonesia (BNI-46) di Yogyakarta yang kala itu dipimpin Margono Djojohadikusumo.

Berita Terkait

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia
27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage
24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen
23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas
HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?
Kapolri minta MUI haramkan vape
18 Oktober: Hari Menopause Sedunia, kenali gejala, penyebab, obat dan pencegahan
17 Oktober: Jumlah penduduk miskin Sukabumi di Hari Pemberantasan Kemiskinan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:44 WIB

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:58 WIB

27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 03:57 WIB

24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:29 WIB

23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:23 WIB

HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB