sukabumiheadline.com – Hari ini 79 tahun lalu, tepatnya 21 Juli 1947, pasukan Belanda menyerbu wilayah Sukabumi hingga membuat TNI dan pejuang terdesak dan memilih mundur untuk menghindari jatuhnya korban.
Serangan pasukan Belanda tersebut dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I (Operasi Produk) di Sukabumi. Pasukan Belanda berhasil menerobos dari sektor timur dan menguasai pusat kota serta Pembangkit Listrik Ubrug pada 26 Juli 1947.
Agresi tersebut terjadi serentak bersama wilayah Jawa dan Sumatra. Di Sukabumi, serangan tersebut berhasil membuat pasukan TNI dan warga terpaksa menyingkir dan bergerilya ke arah Nyalindung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Serangan mendadak membuat TNI dan laskar setempat tidak sempat melakukan bumi hangus. Mereka mundur ke daerah pedalaman seperti Nyalindung bersama para pengungsi.
Alhasil, selain menduduki wilayah strategis, Belanda juga sukses mengincar instalasi vital seperti Pembangkit Listrik Ubrug untuk mengontrol pasokan energi. Baca selengkapnya: PLTA Ubrug Sukabumi 1 dari 5 pembangkit listrik tertua di Indonesia

Baca Juga: Mengintip interior dan mengenal sejarah PLTA Ubrug Sukabumi
Melansir Historia, Hetty Kabir, putri dari Mayor Harun Kabir, salah seorang perwira Divisi Siliwangi yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di Kota Sukabumi, mengaku masih ingat situasi di Sukabumi pada 26 Juli 1947.
Perempuan kelahiran 1937 tersebut melukiskan pagi itu belasan pesawat terbang melayang-layang di atas kota sambil melepaskan bom-bom yang menghancurkan beberapa tempat strategis.
“Salah satunya Stasiun Kereta Api Sukabumi yang langsung porak poranda terkena bom Belanda,” kenang dia dikutip Selasa (21/7/2026).
Berita Terkait: Profil Wilhelmina, Ratu Belanda yng enggan melihat warga Sukabumi bahagia

Sadar akan bahaya mengancam, siang itu juga sebagian besar masyarakat Sukabumi mengungsi ke luar kota. Sementara itu, kekuatan Brigade Surjakantjana yang menjadi penanggung jawab kemananan wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur alih-alih melakukan perlawanan, mereka terpaksa mundur ke arah Nyalindung.
Di kota yang terletak antara Cianjur dengan Sukabumi tersebut, TNI bekerjasama dengan para pejabat sipil, mereka lantas mendirikan pemerintahan darurat.









