Bulan Ini Bakal Terjadi Lebih Dahsyat, Mencari Tahu Apa Itu Badai Matahari?

- Redaksi

Selasa, 19 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sukabumiheadline.com l Para ahli memperingatkan, seperti dikutip dari Live Science, Selasa (19/12/2023), fenomena badai Matahari berpotensi terjadi pada akhir tahun ini. Potensi ini terjadi beberapa tahun lebih cepat dari prediksi awal, bahkan diperkirakan dampaknya jauh lebih dahsyat.

Awalnya, para ilmuwan memperkirakan, siklus matahari saat ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2025. Matahari merupakan bola gas yang ‘hidup dan bernapas’, yang terus aktif.

Seperti dari kebanyakan proses alami di Bumi, aktivitas Matahari bersifat siklus atau berulang dalam jangka waktu tertentu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para ilmuwan menyebut siklus ini sebagai ‘siklus Matahari’ atau solar cycle, dikutip dari situs resmi NASA Jet Propulsion Laboratory.

Mengenal Badai Matahari

Fenomena Badai Matahari adalah lonjakan pelepasan energi Matahari melalui titik-titik tertentu karena terjadinya gangguan magnetik seiring tidak seragamnya kecepatan rotasi bagian-bagian permukaan Matahari dan antara permukaan dengan interior Matahari.

Ketidakseragaman kecepatan rotasi ini menyebabkan garis-garis gaya magnetik Matahari bisa saling berbelit dan membentuk busur yang menjulur keluar dari fotosfera.

Matahari
Foto NASA yang diperoleh 31 Mei 2017 ini menunjukkan beberapa pita plasma terang di Matahari yang terhubung dari satu wilayah aktif ke wilayah aktif lainnya, padahal pada 17-18 Mei 2017 berjarak puluhan ribu mil satu sama lain, namun garis penghubung tersebut adalah terlihat jelas dalam panjang gelombang sinar ultraviolet ekstrim ini. Sebuah misi baru NASA bertujuan untuk mendekati matahari, mendekati panas terik dan radiasi matahari dibandingkan pesawat ruang angkasa mana pun dalam sejarah untuk mengungkap bagaimana bintang terbentuk, kata badan antariksa AS pada 31 Mei 2017. Setelah lepas landas dari Kennedy Space Center di Florida pada Juli 2018, Parker Solar Probe akan menjadi yang pertama terbang langsung ke atmosfer matahari yang dikenal dengan nama corona. (Handout / NASA / AFP)

Busur tersebut akhirnya memerangkap plasma Matahari, yang pada satu saat busur ini akan putus dan menghasilkan dua fenomena, yang keduanya bisa menjadi penyebab terjadinya badai matahari.

Aktivitas di permukaan Matahari, di antaranya seperti jilatan api (solar flares) atau ledakan massa korona (CME), yang dapat meningkatkan energi yang dibawa oleh angin Matahari dan kecepatannya.

Selain itu, aktivitas Matahari tersebut juga dapat memengaruhi intensitas medan magnet antar planet (IMF).

Kendati magnetosfer atau salah satu lapisan atmosfer Bumi dapat membelokkan sebagian besar aktivitas Matahari yang dibawa oleh angin matahari, namun beberapa partikel yang dilontarkan oleh CME tetap dapat memasuki Bumi.

Partikel-partikel energik ini kemudian yang menyebabkan gangguan magnetik, yang selanjutnya diklasifikasikan sebagai fenomena badai geomagnetik atau sub-badai Matahari.

Badai Matahari yang memancarkan gelombang geomagnetik ini juga dapat menciptakan fenomena langit yang cantik, yakni yang dikenal dengan cahaya aurora di daerah kutub Bumi.

Akan tetapi, fenomena badai Matahari juga dapat sangat merusak dan berbahaya, yakni dapat menyebabkan cuaca antariksa yang merusak, terutama menyebabkan gangguan satelit hingga jaringan internet.

Fenomena badai geomagnetik dan sub-badai Matahari Badai geomagnetik Matahari diklasifikasikan sebagai fenomena ‘berulang’ dan ‘tidak berulang’.

Artinya, badai Matahari yang teradi berulang, terkait dengan rotasi Matahari yang terjadi setiap 27 hari.

Fenomena badai tersebut dipicu oleh pertemuan Bumi dengan interplanetary magnetic field (IMF) ke arah selatan, yakni saat daerah bertekanan tinggi terbentuk oleh interaksi aliran angin matahari berkecepatan rendah dan tinggi yang ikut berotasi dengan Matahari.

Sementara badai tidak berulang yang paling sering terjadi selama solar minimum atau aktivitas minimum Matahari, yakni fase penurunan siklus matahari.

Fenomena badai yang tidak berulang sering terjadi selama maksimum matahari, ketika siklus matahari berada pada puncak yang tinggi.

Badai Matahari ini disebabkan oleh lontaran massa korona (CME) (kumpulan partikel bermuatan) dan, biasanya, pertemuan CME dengan gelombang kejut antar planet. Sedangkan, asal mula terjadinya substorm atau sub-badai matahari mirip dengan badai geomagnetik.

Hanya saja, substorm berlangsung singkat, sekitar dua sampai tiga jam dan lebih sering terjadi, rata-rata enam kali sehari.

Sub-badai ini terjadi selama fase utama pertumbuhan badai. Substorm hanya teramati di zona aurora, sedangkan badai magnetik adalah fenomena di seluruh dunia.

Sementara itu, peristiwa-peristiwa besar akibat aktivitas matahari di Matahari bersifat berulang dalam satu siklus.

Salah satu contohnya, bintik Matahari maksimum terjadi setiap 11 tahun sekali dan dapat berlangsung selama beberapa tahun.

Ketika kumpulan bintik matahari, yakni area gelap yang disebabkan oleh gangguan magnetik, tumbuh dengan cepat, dan berputar seperti badai, pelepasan energi yang sangat eksplosif akan menciptakan solar flare atau jilatan api matahari.

Energi solar flare ini pun bahkan dapat terlontar hingga sejauh 93 juta mil, yang menyebabkan banyak sistem di Bumi akan terpengaruh oleh energi dari aktivitas Matahari tersebut.

Berita Terkait

Gunawan Sadbor Sukabumi beraksi di trotoar, netizen: Bikin malu Jabar dan Sunda
Bocah Sukabumi derita kanker darah dipuji KDM, tetap hidup karena tak henti bernafas
Bintang Borneo FC tanya kesediaan KDM jadi Gubernur Kaltim
Kisah sedih Sri Apriliani: Yatim piatu di Sukabumi DO sekolah, diejek teman, huni rutilahu
Jengkel Asep Japar rajin giat seremoni, warga Palabuhanratu minta pisah dari Sukabumi
Kenalin Poyici Oyen, si mpus tukang pantau lalin Bogor, Puncak, Sukabumi
Mengingat kembali alasan gambar di kaleng Khong Guan Biscuits tanpa ayah
Nama terpopuler pria dan wanita di Indonesia dari generasi Baby Boomer, XYZ – Alpha

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 22:21 WIB

Gunawan Sadbor Sukabumi beraksi di trotoar, netizen: Bikin malu Jabar dan Sunda

Kamis, 23 April 2026 - 22:26 WIB

Bocah Sukabumi derita kanker darah dipuji KDM, tetap hidup karena tak henti bernafas

Senin, 20 April 2026 - 17:50 WIB

Bintang Borneo FC tanya kesediaan KDM jadi Gubernur Kaltim

Sabtu, 18 April 2026 - 19:25 WIB

Kisah sedih Sri Apriliani: Yatim piatu di Sukabumi DO sekolah, diejek teman, huni rutilahu

Kamis, 16 April 2026 - 05:02 WIB

Jengkel Asep Japar rajin giat seremoni, warga Palabuhanratu minta pisah dari Sukabumi

Berita Terbaru

Wisata

Kemendagri ingin hotel tak minta KTP tamu saat check in

Jumat, 8 Mei 2026 - 18:09 WIB