Cara UMKM Layangan di Kota Sukabumi Bertahan di Segala Kondisi

- Redaksi

Rabu, 25 Januari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hasil produksi UMKM layangan di Sukabumi. l Istimewa

Hasil produksi UMKM layangan di Sukabumi. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINE.com l CIKOLE – Layangan atau layang-layang adalah salah satu permainan tradisional masih digemari semua kelompok umur hingga saat ini. Bahkan di banyak daerah, permainan ini kerap dilombakan. Baca lengkap: Seru, Ratusan Peserta dari Bodebek Ikuti Lomba Layangan Adu di Palabuhanratu Sukabumi

Usaha produksi layangan ini terbilang kecil namun tergolong cuan karena layangan termasuk permainan yang digemari semua kelompok usia.

Seperti dituturkan Tubagus Aryani, ia hanya mengeluarkan modal awal sebesar Rp3 ribu saja, tapi bisa menghasilkan keuntungan berlipat-lipat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Iya, dengan modal tiga ribu bisa jadi sekira 20 buah layangan,” kata pria usia 48 tahun warga Jl. Bhayangkara, Gang Merak RT 03/03, Kelurahan/Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat, itu kepada sukabumiheadline.com, Selasa (9/11/2022) lalu. Selengkapnya baca: Modal Rp3 Ribu, Omzet Usaha Layangan di Gunungpuyuh Sukabumi Rp400 Ribu Sehari

Meski bukan musimnya bermain layangan, di musim penghujan seperti saat ini. Namun, para produsen layangan ini masih tetap setia memproduksi layangan.

Seperti dilakukan seorang perajin layangan lainnya di Kampung Subangkidul, Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Asep Saepuloh tetap memilih konsisten menjalankan usahanya membuat layangan semenjak 29 tahun silam.

Pria yang akrab disapa Epul ini mengaku, sudah menjadikan usahanya memproduksi layang-layang sebagai mata pencaharian utama sehari-hari.

“Awalnya hanya hobi main layangan. Dari situlah saya mendapat ide untuk memproduksi layang-layang ini,” katanya.

Dalam sehari, ia mampu memproduksi sekira 1.000 layangan untuk dikirim ke pemesan di sekitar Sukabumi dan Kabupaten Cianjur.

Jenis Layangan dan Omzet

Epul menjelaskan, ia memproduksi tiga jenis layangan. Dari mulai layang-layang kualitas super, standar hingga jabrug.

Untuk layangan jenis super, dari kuaitas kerangka layangan hingga kertas, dipilih yang bagus dan berkualitas. Sedangkan, untuk jabrug, terbuat dari bahan kualitas rendah dan dibuat asal-asalan.

Untuk setiap layangan yang dibuatnya, Epul menjualnya dengan harga mulai Rp700 ribu per bal untuk jenis super, dan Rp500 ribu per bal untuk yang standar. Sedangkan, untuk layangan jabrug dipatok harganya di kisaran Rp300 ribu-Rp350 ribu.

Dari hasil produksi mainan berbahan dasar kertas dan bambu tersebut, Epul mampu meraup omzet hingga Rp28 juta per bulan.

Ditambahkannya, nilai tersebut bisa meningkat signifikan jika musim layangan tiba karena pemesanan bisa meningkat hingga 200 persen.

“Untuk melayani permintaan pasar, saat ini saya sudah dibantu oleh 25 orang karyawan,” ungkapnya.

Meskipun di musim penghujan, Epul tetap memproduksi layangan, selain untuk dipasarkan ke luar daerah, juga untuk tujuan stok.

“Mau musim hujan atau kemarau, kita terus membuat layangan. Sehingga usaha ini insya Allah tidak akan terputus oleh musim,” tambahnya lagi.

Berita Terkait

Membanding produksi jahe Sukabumi, Jawa Barat dan Indonesia, jutaan ton!
Minyak atsiri Sukabumi menarik perhatian peneliti dari Malaysia, potensi jadi produk ekspor unggulan
Mengenal sentra dan proses produksi minyak atsiri dari sereh wangi di Sukabumi
Sorgum: Tanaman kaya gizi pengganti beras, dikembangkan di Sukabumi untuk co-firing
Menghitung luas panen 4 kecamatan penghasil bunga Krisan di Sukabumi, diekspor ke Jepang
Mengenal 27 produk kerajinan khas Jawa Barat, ada Batik Lokatmala Sukabumi
Ini 40 kecamatan penghasil jambu biji di Sukabumi, Indonesia juara dunia
Membanding produksi nanas Indonesia, Jawa Barat, Sukabumi dan kecamatan penghasil

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 09:21 WIB

Membanding produksi jahe Sukabumi, Jawa Barat dan Indonesia, jutaan ton!

Sabtu, 27 Juni 2026 - 12:56 WIB

Minyak atsiri Sukabumi menarik perhatian peneliti dari Malaysia, potensi jadi produk ekspor unggulan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 04:03 WIB

Mengenal sentra dan proses produksi minyak atsiri dari sereh wangi di Sukabumi

Kamis, 25 Juni 2026 - 02:28 WIB

Sorgum: Tanaman kaya gizi pengganti beras, dikembangkan di Sukabumi untuk co-firing

Senin, 22 Juni 2026 - 07:20 WIB

Menghitung luas panen 4 kecamatan penghasil bunga Krisan di Sukabumi, diekspor ke Jepang

Berita Terbaru

Headline

5 Wanita Sukabumi ungkap alasan bersedia jadi istri kedua

Selasa, 30 Jun 2026 - 10:30 WIB