sukabumiheadline.com – Orang tua muda dari kalangan Generasi Z kini mulai meninggalkan pola asuh anak gaya lama. Sejumlah penelitian menyebutkan, ortu Gen Z mulai menerapkan hybrid parenting yang dinilai lebih fleksibel dan realistis.
Hybrid parenting adalah metode pengasuhan fleksibel yang memadukan berbagai gaya, seperti kelembutan (gentle parenting) dan ketegasan, untuk disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan anak.
Menurut artikel 6 Parenting Trends to Keep on Your Radar in 2026 dilansir dari The Bump, tren ini populer di kalangan orang tua Gen Z, karena dinilai lebih realistis, seimbang antara empati dan batasan, serta memutus siklus pola asuh lama yang kaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mereka yang baru memasuki dunia parenting, kurang dari 40 persen Generasi Z mengatakan, mereka menggunakan gentle parenting,” tulisnya dikutip sukabumiheadline.com, Selasa (24/2/2026).
Seorang ortu Gen Z mengungkapkannya: “Parenting harus selalu penuh kasih sayang, tetapi terkadang itu mengharuskan membuat keputusan yang tidak disukai anak Anda,” lanjut artikel tersebut.
Penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar ibu dan ayah berusia 20-an menggunakan campuran gaya parenting yang berbeda, alih-alih terpaku secara kaku pada satu gaya.
Pendekatan yang juga disebut hybrid parenting ini, adalah di mana Anda memilih elemen-elemen dari berbagai gaya parenting untuk menghasilkan pendekatan yang dipersonalisasi yang cocok untuk keluarga Anda.
“Ada beberapa prinsip gentle parenting yang telah saya adopsi, seperti menunjukkan kepada putri saya bagaimana rasanya menjadi tenang,” kata Abby P, seorang ibu satu anak di Virginia yang berusia 20an.
“Saya juga menunjukkan kepada anak cara mengucapkan ‘terima kasih’ dan ‘tolong’ ketika saatnya tiba untuk respons ini,” lanjut Abby.
Namun, dalam hal disiplin, dia lebih condong ke otoritatif.
“Saya mencoba menetapkan batasan yang jelas dan tegas. (Tetapi) saya juga mencoba memberi anak saya alasan mengapa kita tidak melakukan sesuatu, daripada hanya mengatakan ‘karena saya yang bilang’ atau ‘tidak,’” katanya.
Karakteristik utama hybrid parenting
Hybrid parenting menyajikan keseimbangam, yakni memadukan validasi emosi dengan cara memahami perasaan anak, dengan disiplin atau batasan yang jelas.
Pola asuh ini juga lebih adaptif dan fleksibel. Sehingga, orang tua tidak terpaku pada satu metode, melainkan menyesuaikan pendekatan berdasarkan situasi dan temperamen anak.
Selain itu, ada komunikasi dua arah, di mana anak diajak memahami alasan di balik aturan, bukan hanya sekadar patuh, sehingga membentuk kemandirian dan tanggung jawab.
Hybrid parenting juga memutus siklus sekaligus berfokus pada perbaikan pola asuh dari generasi sebelumnya, mencari cara yang lebih manusiawi, namun tidak terlalu idealis. Hybrid parenting juga memanfaatkan teknologi untuk membantu efisiensi pengasuhan dan mengurangi beban orang tua.
Dengan hybrid parenting, orang tua dapat memberikan kasih sayang dan kebebasan, namun tetap menegakkan aturan (konsekuensi logis) saat diperlukan.









