21.4 C
Sukabumi
Sabtu, April 13, 2024

Blueberry, sniper cantik Rusia pembantai tentara Ukraina

sukabumiheadline.com - Sosok Blueberry sangat misterius. Namun,...

Soal tangan buruh wanita asal Bojonggenteng Sukabumi putus, Latas: Disnaker harus proaktif

sukabumiheadline.com - Paskakecelakaan kerja yang terjadi di...

Kisah Nunun Nurbaetie, Wanita Sukabumi Istri Jenderal Polisi dalam Pusaran Kasus Suap DGS BI

Gaya hidupKisah Nunun Nurbaetie, Wanita Sukabumi Istri Jenderal Polisi dalam Pusaran Kasus Suap DGS BI

sukabumiheadline.com l Nunun Nurbaetie atau juga populer dipanggil Nunun Daradjatun, adalah wanita kelahiran Sukabumi, 28 September 1951.

Untuk informasi, Daradjatun diambil dari nama suaminya, mantan Wakapolri Komjen (Purn) Adang Daradjatun yang saat ini beralih profesi menjadi politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Nunun dikenal sebagai pengusaha, ia merupakan pemilik PT Wahana Esa Sejati. Selain menjadi petinggi di perusahaannya, ia juga tergolong kaum sosialita di Jakarta yang suka menghadiri fashion show.

Seperti istri pejabat pada umumnya, penampilan Nunun terbilang elegan dan mewah. Tak heran bila dia masuk ke dalam komunitas para sosialita.

Pergaulan Nunun pun cukup luas hingga ke petinggi pemerintahan, tak heran bila dia cukup dekat dengan sosok Miranda Goeltom.

Nunun Menjadi Buronan Interpol

Nama wanita Sukabumi ini tetiba menjadi perbincangan publik tanah air, ketika ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap pemilihan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI), Miranda Goeltom tahun 2004.

Hal ini yang mendasari dugaan bahwa Nunun adalah otak kunci kasus suap pemilihan DGS BI yang melibatkan beberapa anggota DPR RI periode 2004 – 2009.

Status Nunun Nurbaetie menjadi tersangka kasus pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia bermula dari tulisan Linda Djalil yang dimuat di Kompas pada 23 Mei 2011.

KPK mulai melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap dugaan keterlibatan Nunun dalam kasus suap DGS BI yang telah terlebih dulu menyeret Miranda Goeltom sebagai tersangka.

Saat kasus ini mulai menjadi sorotan publik dan sebelum KPK menetapkan Nunun sebagai tersangka, ia sudah terlebih dulu menghilang ke luar negeri.

Namun menghilangnya Nunun dari Indonesia langsung dibantah oleh suaminya, Adang Daradjatun. Ia menyatakan bahwa kepergian Nunun ke Singapura untuk berobat karena mengidap penyakit lupa akut.

Kepergian Nunun yang secara tiba-tiba untuk untuk berobat ini dinilai sebagai usaha untuk melarikan diri dari jeratan hukum terlebih lagi setelah dua tahun Nunun tak juga kembali ke Tanah Air.

Keberadaan Nunun di Singapura pun dipertanyakan, pasalnya sejumlah media yang mencarinya di sana tidak pernah bertemu dengannya bahkan KPK seakan putus asa mencari keberadaannya.

Hingga pada pertengahan November 2011, beredar foto yang menggambarkan Nunun sedang berjalan di jalanan sebuah kota di Singapura. Pada foto tersebut terlihat jelas bahwa Nunun sedang melenggang bebas dengan keadaan sehat.

Nunun juga terlihat berbelanja di sebuah mal di negeri singa itu. Berdasarkan informasi ini, KPK segera bertindak untuk menulusuri kebenaran foto tersebut.

Selain KPK, pihak Interpol dengan segera juga mencari keberadaan Nunun. Tanggal 9 Desember 2011, Nunun akhirnya ditangkap oleh pihak kepolisian di sebuah rumah sewaan di Bangkok, Thailand.

Nunun kemudian diadili di Indonesia dan pada 9 Mei 2012, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhkan hukuman dua tahun dan enam bulan penjara serta denda Rp150 juta subsider tiga bulan penjara.

Pembelaan Nunun di Pengadilan

Dalam pembelaannya di depan majelis hakim, Nunun membantah kabur ke luar negeri. Dia malah menyalahkan media massa yang memberitakan dirinya melarikan diri ke luar negeri.

Nunun mengaku pergi ke luar negeri untuk mengobati penyakit yang telah dideritanya sejak tujuh tahun terakhir. Dia mengaku pergi ke Singapura pada 23 Februari 2009 dan bukan 23 Maret 2009 seperti yang diberitakan oleh media massa.

Nunun mengaku sudah memberikan keterangan resmi mengenai keberadaannya di Singapura kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Dia mengaku mengirimkan surat kepada KPK dengan tembusan Kedutaan Besar Republik Indonesia.

“Dalam surat itu saya sertakan alamat saya, nama dokter serta nama rumah sakit tempat saya menjalani pengobatan. Surat pemberitahuan tersebut ditandatangani oleh suami saya,” katanya saat membacakan pledoi.

Nunun mengaku telah berada di luar negeri selama sebulan sebelum KPK melakukan pencekalan. Karena itu, Nunun menuding media telah memutarbalikkan fakta dan memberikan kesan yang buruk terhadap dirinya.

“Bahkan yang membuat saya kecewa adalah adanya oknum reporter yang pura-pura berobat dan mendatangi dokter saya di Singapura dan berbicara hal yang jelek-jelek tentang saya,” imbuh Nunun.

Diungkapkan Nunun, reporter itu berbicara dengan dokternya dan menyatakan dirinya adalah orang yang paling dicari di Indonesia.

Selain itu, lanjutnya, reporter tersebut juga menyebutkan dirinya seorang koruptor dan memberikan kumpulan berita atau kliping berita yang miring.

“Sejak saat itu, dokter saya tidak mau merawat dan memeriksa lagi,” ucapnya.

Pembelaan Nunun ini berbeda dengan keterangan KPK sebelumnya. Bahkan, KPK telah memasukkan Nunun dalam daftar buronan sebelumnya akhirnya tertangkap di Bangkok, Thailand.

Nunun Setelah Bebas dari Penjara

Nunun Nurbaetie kini sudah menghirup udara segar usai menjalani masa hukuman pada Sabtu (14/6/2014) silam.

Menurut pengacara Nunun, Ina Rachmat, wanita Sukabumi itu dijemput keluarganya dari Rumah Tahanan Pondok Bambu Jakarta pada pukul 07.00 WIB.

Ina juga mengatakan bahwa Nunun termasuk tahanan yang terkena dampak peraturan pemerintah mengenai pengetatan pemberian remisi dan pembebasan bersyarat.

Karenanya, Nunun menjalani penuh masa hukumannya selama dua tahun enam bulan.

“Bu Nunun kena PP 99 jadi beliau menjalani penuh masa hukuman selama 2,5 tahun dan sekarang Bu Nunun sudah berkumpul di tengah keluarganya,” ucap Ina.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer